Posted in Movie, Review

[Film] Minggu Pagi di Victoria Park

Pardon my opening burst, but I have to vent it:

WHAT HAPPENED TO THE SUBTITLES???

I’m genuinely irked by this. I wonder whom the target audience is. Funny when everything left untranslated but the few facts about TKW at the end credit. Masuk akal kalau target audience-nya adalah para TKW di Hong Kong—meskipun rada aneh juga sih, ngapain nonton sebuah dramatisasi cerita dari fakta yg lebih mereka ketahui kebenarannya?—berhubung mereka jelas mengerti Bahasa Kanton, Jawa, dan Indonesia. Tapi bagi yg lainnya cuma akan bikin frustrasi. Intinyaa…beruntunglah kamu yg mengerti ketiga bahasa di atas ketika menonton film ini. Bagi yg kurang beruntung macam aku yg hanya mengerti bagian mereka ngomong pake bahasa nasional, ya siap-siaplah cuma ngeh kurang lebih 30% dari durasi film.

So, the following summary is based on what I can extract from the movie mixed with what’s told by Lola when she appeared on Kick Andy many months ago.

Pahlawan devisa. Ungkapan meninggikan yg dianugerahkan bagi mereka yg bekerja di luar negeri atas nama Indonesia nyatanya dicemooh mereka yg dipanggil demikian. Melebih-lebihkan, seenaknya memberi nama yg indah-indah padahal tak tahu apa yg mereka rasakan, alami, dan jalani di negeri orang.

Mayang. Sekar. Dua wanita asal Indonesia yg mengadu nasib di Hong Kong. Mayang (Lola Amaria) tipe yg tertutup dan kaku, sedang Sekar (Titi Sjuman) lebih ‘hidup’ dan terlihat beberapa kali menyambangi klub malam untuk mencari teman semalam. Mayang seorang TKW, sedang Sekar adalah mantan TKW yg masih berkeliaran di HK karena suatu hal tertentu. Mayang yg pelit bicara tak mengungkap banyak tentang dirinya, pun tentang maksud sebenarnya ia berada di sana. Sekar sendiri cukup jarang muncul di kamera, sekali-kalinya muncul ia lebih terlihat sebagai sosok imigran gelap yg lari sana lari sini, yg sembunyi entah dari apa.

Namun kita tahu bahwa kedua wanita itu adalah tokoh sentral film ini karena Mayang selalu tersentak setiap kali mendengar nama Sekar disebut. Terlihat ingin tahu tapi tak bertanya. Ingin mengetahui lebih jauh tapi tak berani mengejar. Ia kemudian dengan hati-hati mengorek informasi akan sosok Mas Gandi(?) atau Vincent atau…Sekar saat sedang berdua teman sesama TKW, Sari. Dari penjelasan Sari lah kita tahu lebih jauh tentang tokoh-tokoh yg menggelitik rasa penasaran Mayang, yg pada akhirnya mengungkap tujuan utama Mayang bekerja di HK.

Mas Gandi (Donny Damara) adalah sosok yg dituakan di kalangan TKW di HK karena ia kaya pengetahuan dan tak segan membaginya. Vincent (Donny Alamsyah) berdagang, membeli barang di HK untuk kemudian dijual di Indonesia. Sekar yg dulunya seorang TKW sekarang jarang ngumpul dan terlihat setahun belakangan karena terlilit utang. Ia juga tak bisa pulang kampung karena paspornya disita pihak kreditor, Super Kredit. Mayang sendiri adalah kakak Sekar yg disuruh orangtuanya menyusul ke HK untuk menemukan Sekar yg tak lagi mengirim kabar.

Sekar adalah anak emas bapak (ibu tak digambarkan berpihak walaupun dalam diamnya bersimpati pada Mayang) yg cantik, periang, dan pintar. Ia mampu bekerja di luar negeri dan dalam hitungan bulan mampu membiayai keluarga memperbaiki rumah serta untuk kredit motor (padahal kenyataannya 7 bulan pertama mereka tak menerima gaji). Mayang yg dianggap tak berprestasi, yg hanya mampu membantu di kampung, menjadi bulan-bulanan bapak. Mungkin karena hal ini ia tumbuh menjadi sosok tanpa ekspresi dan cenderung membenci adiknya sendiri. Seperti pernah diutarakannya, ia “sendiri tak yakin apa ia ingin Sekar pulang.”

Mayang is mostly impassive while Sekar’s feelings and expressions are much more palpable. Mired in bourgeoning debts, Sekar does several labor jobs with dispiriting wages to slowly pay back her loans. Frustrated, she opts for easier money-making yet more demoralizing ‘job’. Mayang who gets defensive and easily provoked when people try to meddle in her matters or show how they care for Sekar slowly but surely learn that she isn’t the only one with problems. Only after she realized this does she seek help to find her long-lost sister. Yep, most of Gandi and Vincent’s job is to accompany her in this mission as it’d be dangerous for her to go to such places alone. After locating Sekar’s whereabouts, the two guys leave it to Mayang to make subsequent move. While Mayang is pondering over when to confront her sister, Sekar crumbles, weeping as she finds herself filthy and unworthy of living anymore. In a brink of desperation, she reaches out to the sink for a pair of scissors…

 

A great, promising theme, huh? It was to me, yet the nonexistence of subtitles is a complete letdown. Aneh aja kenapa bisa ga ada terjemahan ke bahasa Indonesianya SAMA SEKALI, tetapi malah ada terjemahan ke bahasa Inggris untuk catatan akhir film. HAHAHA. See? I laughed. Awalnya kupikir mungkin dialognya ga gitu penting kali ya makanya ga diterjemahin, tapi ketika film terus bergulir dan tak nampak sedikit pun terjemahannya, aku udah mulai keki dan ngantuk. Mana ditayanginnya malem-malem lagi!

Someone in the projecting room seriously forgot to turn the subtitles on. You owe me this!!

One more gripe: I hate censorship. Cuz no matter how little the deleted part is, the movie isn’t whole anymore. And what’s the point of censoring things out when the movie is aired late at night anyway?? How I miss streaming videos online… sigh.

I won’t blame RCTI here since it’s clearly the movie producer’s fault. Even the little tiny bits of Arabs in Ayat-ayat Cinta are translated! Yeah, I abhor insensible movies like this whose producers assume we movie goers understand ALL languages in the world. Maybe this is the first time I watch an indo movie without comprehending the language. The only reason I proceeded with the movie was because I already stayed up late until past 11pm JUST to watch the movie—and all of my effort and patience to live through preceding soap operas would be wasted if I just gave up. Anyway, I was curious just how good this movie could be upon hearing tempting snippets of the plot.

I didn’t get to see the full picture thanks to the language barrier; regardless, it could have been…more, better. The complexities are kinda forced. It’s illogical how sudden Agus’ girlfriend sulks and decides to jump off the railings—if only to show that others suffer too. The ending, for one, doesn’t straighten things out. Just one confrontational scene with tears and all, puff! Gone is the sisterly-rivalry. I expected better script for the climax as I don’t feel the accumulated angst, built-up tension, or any emotional relief. Furthermore, I still cannot buy the idea of Donny Alamsyah being the prince charming. Imo, he doesn’t have enough qualities for it (here or in Fiksi). Donny Damara is more fitting for this role, acting-wise, character-wise. Gandi is mature, caring, and dependable; a good balance for Mayang’s icy disposition. He is thus more likely to be the protective shell for her shrouded vulnerability.

 

Final thought: TKI dan TKW bergelar ‘pahlawan devisa’ karena memang pengiriman mereka ke luar negeri mendatangkan pendapatan yg tidak sedikit bagi negara setiap tahunnya. Mirisnya setelah dengan sukses mengirim mereka ke negeri orang, pemerintah (seolah) tak lagi ambil pusing dengan nasib para pahlawan di sana. Bahkan setelah sekian banyak kasus KDRT yg dialami para pekerja (khususnya TKW) di negara seperti Arab Saudi dan Malaysia, pemerintah tak kunjung turun tangan untuk membenahi sistem, mekanisme, dan standar ketenagakerjaan. Boro-boro menunjukkan gigi dan wibawa sebagai negara pengirim SDM, pemerintah juga tak memperketat jumlah pengiriman TKW.

Terlepas dari segala pemberitaan memilukan tentang keburukan bekerja di luar negeri, jumlah peminatnya tak menurun. Mungkin karena tergiur gaji yg jauh lebih besar dari sini karenanya dengan tegar berani menantang nasib. Misalnya gaji mereka di HK sekitar 3800 dollar per bulan (sekitar 4-5 juta). DARIMANA DAPET GAJI SEGITU KERJA DI INDO??? Jadi ga bisa disalahkan juga keinginan mereka menaikkan taraf hidup keluarga. Namun tak semua berakhir duka. Tak sedikit pula yg berakhir bahagia. Dan tak semua TKW pula disiksa. Inilah yg ingin diangkat film ini. Di HK, standar hidup TKW baik. Mereka bisa bebas keluar di akhir minggu, bahkan bisa punya hp dan berpacaran. Majikan juga baik dan tak kasar, walaupun tetap saja akan menegur kalau kerjaan tak sejalan yg diinginkan. Bisa dibilang, kehidupan TKW di HK berbanding 180 derajat dengan yg dialami teman seperjuangan mereka di Timur Tengah.

Namun, yg namanya hidup tak akan lepas dari problematika masalah. Tinggal tergantung bagaimana kita mengatasinya dan bersikap. Gaji besar juga tak akan ada gunanya kalau tak bisa mengerem pengeluaran dan keinginan untuk pamer. Karena penghargaan atas hidup dan diri tidak datang dari orang lain, melainkan dari diri sendiri…

_
Rating: 2.5/5
Director: Lola Amaria
Production: Pic[k]lock Production, Juni 2010
Cast: Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah, Imelda Soraya
Genre: Drama, Sosial budaya

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s