Posted in Commentary, Drama Series

SORE the series: episode spesial (!!)

Aaaahhh, ternyata web series ini belum tamat!! Ternyata seri ini beneran berjumlah 9 episode, bukan 8 seperti perkiraanku sebelumnya. Dan ternyata kita hanya perlu menunggu satu minggu untuk bisa menonton kelanjutan kisah Jonathan dan Sore. Untuk ini, aku harus berterima kasih kepada kolom rekomendasi YouTube. Kalau engga, entah kapan aku baru akan ngeh soalnya adanya episode spesial ini, berhubung tulisan “final” di akhir judul episode 8 minggu lalu berhasil menipuku mentah-mentah. Uh!

Jadi, apakah episode pamungkas ini berhasil menutup semua lubang yg masih menganga serta meluruskan hal-hal yg masih mengganjal sampai episode 8? Ada yg iya, ada yg engga.

Ceritanya sendiri dibuka dua tahun semenjak pertemuan pertama mereka (bagi Sore di masa kini) di bazar, masa di mana menurut Sore dari masa depan adalah rentang waktu yg cukup bagi keduanya untuk naik ke jenjang selanjutnya. Tapi situasinya tidak semulus perkiraan. Adegan dimulai dengan Sore yg kesal dengan keputusan Sandra (rekan kerjanya) untuk berhenti bekerja setelah menikah, yg kemudian merembet ke status hubungannya sendiri. Ia tak suka dengan opini Jo tentang “hidup itu lebih besar daripada kerjaan,” yg seolah mendukung ucapan papanya dulu bahwa perempuan tak perlu sekolah atau bercita-cita terlalu tinggi karena jatuh-jatuhnya ‘hanya’ akan jadi ibu rumah tangga.

Sore: “Mungkin bener kali ya kata papaku. Perempuan itu emang ga punya pilihan.”
Jo: “Punya pilihan. Sandra kan milih keluarganya.”

Pendapatnya untuk tidak menikah dulu jika ia jadi Sandra sukses memupus niat awal Jo untuk melamar Sore saat itu.

Benny, teman Jo, mengusulkan cara lain untuk meluluhkan hati Sore — melamar dengan tarian, misalnya? Ide yg Jo anggap gila, tapi adegan berikutnya menunjukkan doi sedang serius berlatih dansa. Hahaha. Niat lamaran (take 2) pun dilancarkan, dengan para penari latar yg sudah duduk manis di kursi masing-masing siap beraksi sesuai aba-aba. Tapi bukan hanya Jo yg ingin ngomong sesuatu. Sore juga, dan dia yg memulai pembicaraan.

Eh, Sore ga bakal minta putus, kan?

(spoiler akhir cerita)

Untungnya engga. Yang berarti…saatnya beraksi! Mereka yg di belakang layar sudah beranjak berdiri, Jo sudah merogoh kantong untuk mengeluarkan kotak cincin… terus kotaknya jatuh dong, dan si bundar dengan sukses menggelinding sampai ke ujung sepatu Sore.

Bagian dari skenario kah? Ya keles~

Duh Jooo, kebiasaan buruk yg lain sih boleh udah berkurang atau hilang, tapi cerobohnya kok malah tambah parah ya? Untungnya Sore bukan tipe cewek kebanyakan, yg bakal bereaksi super klise apaan nih?, atau yg mengharapkan lamaran super romantis disaksikan banyak orang. Dia dengan gamblang nanya apa Jo mau melamarnya, dan mengiyakan bahkan sebelum si cowok bertanya. Ini…siapa ngelamar siapa coba? 😂

Episode 9 ini benar-benar merupakan episode spesial alias tambahan dari 8 episode sebelumnya, yg pada intinya hanyalah memberikan ultimate happy ending. Beberapa adegan dan dialognya berhasil bikin mesem-mesem, tapi dari segi cerita ga menambah apa-apa.

Oke, kita akhirnya tahu betul apakah Jo sekarang menjalani pola hidup sehat, walaupun penyampaiannya bisa diperhalus tanpa harus menyisihkan satu adegan khusus doi lari di atas treadmill dan ibunda mengomentari pilihan makanannya. Hal yg mendorong perubahan drastis sayangnya ga dijabarkan lebih jauh, karena sampai akhir episode 6, Jo masih naik pitam dengan ulah Sore yg sok mengatur hidupnya. Apakah hanya karena Sore membeberkan kalau dia akan mati muda? Terus, bagaimana dengan hubungannya dengan sang ayah?

Selain itu, konflik yg ditampilkan di awal episode ini juga ga tergali dengan baik. Akan lebih kena ke penonton kalau kita tahu dinamika pacaran mereka, dan apakah topik “keluarga atau karir” sudah pernah mereka bahas sebelumnya, sehingga perdebatan mereka serasa timpang sebelah. Jo ga menjelaskan pandangannya lebih jauh, dan Sore ngambek tanpa alasan yg jelas. Toh perihal resign-nya Sandra kan ga ada kaitannya dengan mereka, kecuali Jo meminta Sore untuk mempertimbangkan berhenti bekerja setelah mereka menikah. Karena, aneh rasanya melihat Jo sibuk mempersiapkan metode lamaran baru tanpa berinisiatif mencairkan suasana terlebih dahulu. Sore kan bilang secara teori ga mau menikah dulu, terus Jo malah ngelamar kan kayak gali kubur sendiri. Penyelesaian masalahnya juga terlampau simpel. Jadi pandangan Sore soal ibu rumah tangga apa?

Kepentok masalah durasi lagi? Buatku ini lebih ke arah struktur naskah yg kurang rapi. Seri ini terlihat lebih condong ke arah membangun momen-momen (romantis) dan menyelipkan kalimat-kalimat puitis — kadangkala tanpa konteks yg kuat, dengan segala keterbatasan yg ada. Contohnya, Jo yg tiba-tiba mengulang kutipan tentang senja:

“Kenapa senja selalu menyenangkan? Kadang dia hitam kelam, kadang dia merah merekah. Tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”

Maksudnya, doi adalah langit yg akan menerima Sore apa adanya, gitu? Yg aku suka sih respons Sore yg cadas, “Ini aku lagi digombalin ya?” Haha. Ga mempan, bos!

Terlepas segala kritik di atas, aku cukup menikmati setiap episode web series ini. Awalnya aku kurang setuju dengan kategori komedi romantis secara sebagian besar mood-nya serius dan mellow, dan selipan momen lucunya lumayan garing, tapi aku bisa merasakan hawa itu di dua episode terakhir. Tek-tok keduanya alami dan dapet banget. Meski, kalau boleh jujur, aku lebih suka penutup di episode 8. Lebih ngena, lebih gereget, lebih caem. Paradoksnya juga dapet. Terutama karena bola seolah kembali ke siklus awal — diawali dengan Sore yg mengaku istri dari masa depan dan diakhiri dengan Jo yg mengaku sebagai suami dari masa depan 🙂

Pertanyaan terakhir: ini beneran udah tamat? Ga akan tiba-tiba nongol episode 10-nya, kan? Ga mau kecele dua kali nih! 😅

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

6 thoughts on “SORE the series: episode spesial (!!)

    1. Cerita soal bapaknya Jo rada ngebingungin sih, soalnya di episode 3 Jo nanya, “waktu kita nikah, papaku dateng ga?” (yg berarti papa Jo masih hidup saat itu) tapi di episode 6 Sore bilang, “harusnya kamu tuh tahu persis rasanya ditinggal ayah.”

      Like

      1. aku pikir kemungkinan terbesar itu papa jo cerai sih. thats why sore bilang harusnya kamu tau rasanya ditinggalin ayah kaya gimana. kan jelas, jo tinggal berdua sama mamanya ajah. artinya papa nya yang pergi. maybe? #IMHO

        Like

      2. Kata “ditinggal” emang bisa punya 2 makna, dan alasan papa Jo ga datang ke pernikahan mereka juga bisa karena 2 hal: tidak akur atau sudah tidak ada. Apapun itu, soal ini ga dibahas lebih lanjut, jadinya ngegantung 😦

        Like

  1. Hemmm dari lagu kunto aji… Ngeliat klip drama ini….kok aku langsung jatuh cinta sama drama ini. Blm nonton si. Tp niatnya besok sengaja yutuban mau nonton. Dan terjebak di postingan ini….. Dari postingan sebelumnya…. Yang ini sengaja aku baca sepintas biar pas nonton gak kebayang tulisan ini. Ahahah.. Btw makasih reviewnya…

    Like

    1. Lagunya emang enak dan pas banget sih buat drama ini. Di sini dan postingan sebelumnya aku emang ngebahas akhir ceritanya, tapi semoga ga terlalu banyak spoiler pas nanti nonton 🙂

      Makasih udah mampir dan komen!

      Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s