Posted in Foodie, Review

PABLO Cheese Tart: rasanya seenak panjangnya antrian?

Akhirnya kesampaian juga~

Salah satu makanan, atau lebih tepatnya kue, yg hype-nya gila-gilaan akhir-akhir ini tentunya dipegang PABLO baked cheese tart. Sejak gerai pertama di Gandaria City buka pertengahan November tahun lalu (setahun lebih penantian sejak papan namanya terpasang di sana), konon sampai sekarang antriannya masih mengular.

Aku sendiri 2x mampir ke sana, 2x pulang dengan tangan hampa melihat antrian yg sampai terbagi menjadi TIGA blok yg panjangnya mantap abis, yg katanya bisa memakan waktu 1,5 jam untuk sampai ke depan kasir. Penasaran kenapa nama yg satu ini hebohnya sampai segininya sih iya (perasaan dulu DORÉ ga begini), tapi aku ga se-ngebet itu juga untuk bela-belain antri berjam-jam hanya demi seloyang kue keju yg harganya juga ga murah.

Rencananya nunggu sampai hype-nya udah reda, atau cabang Neo SOHO buka. Makanya begitu dengar kalau gerai kedua ini sudah mulai beroperasi pertengahan minggu lalu, langsunglah saya meluncur ke sana, sekadar untuk cek seberapa panjang antriannya. Dan surprise surprise, ternyata ga separah perkiraan (padahal aku datang di hari Minggu, yg pada dasarnya adalah hari libur dan nongkrong nasional 😁), ‘hanya’ mengular tiga baris mengikuti jalur yg ada di depan open kitchen-nya. Oke lah.

Antriannya sendiri terbagi menjadi 2: jalur takeaway dan dine-in. Di sini tart-nya dijual per slice khusus untuk makan di tempat. Atau bagi yg ga mau ngantri terlalu lama. Sayangnya hanya cheese tart rasa original yg bisa dipesan, itupun setiap potongnya dijual per set bersama kopi/teh panas/dingin.

Dan setelah ngalamin sendiri, aku baru tahu kenapa waktu nunggunya bisa lama banget: karena pembeli maju satu-satu ke kasir, dan proses pesan, bayar, dan dapat barangnya ternyata bisa memakan waktu minimal 2-3 menit tiap orangnya.

Enough with the long introduction. Onto these bad boys~


[Freshly baked cheese tart + tea/coffee 40K]

Ini dia tart yg bikin orang Jakarta (dan sekitarnya) mabuk kepayang belakangan ini. Dari segi ukuran memang kecil, secara diameternya kurang lebih 15 cm. Dan satu potong ini sekitar seperenamnya. Yg makin terlihat kecil jika dibandingkan dengan piring dan peralatan makan yg berukuran jumbo.

Rasanya? Setelah nyobain, aku baru ngeh kenapa banyak yg bilang menu andalan PABLO ini overrated. Nama sih boleh cheese tart, tapi ini lebih tepat disebut egg cheese tart berhubung rasa telurnya lebih kuat daripada keju. Memang tidak se-eggy egg tart pada umumnya, tapi kejunya terlalu mild untuk masuk kategori cheese tart. Dari segi rasa bisa dibilang ini mirip Portuguese egg tart yg cenderung manis, namun dengan tekstur isi yg jauh lebih lembut dan “meleleh di mulut” serta pinggiran yg lebih garing. Secara keseluruhan, perpaduan antara asam-manisnya olesan selai aprikot, cheese custard setengah meleleh, dan pastry renyah cukup seimbang. Tidak ada yg terlalu dominan.

Meskipun pihak PABLO mengaku mendatangkan bahan baku dan alat pemanggang langsung dari Jepang untuk menjaga kualitas dan keseragaman cita rasa, yg dijamin 99% sama, aku sempat menemukan beberapa komentar yg berpendapat bahwa yg di Jepang masih lebih enak. Lebih cheesy, katanya. Mungkin 1% perbedaan kualitas air itu berpengaruh banget. Perbedaan lainnya adalah tingkat kematangan yg bisa dipilih di Negeri Sakura, namun distandarisasi di tingkat medium rare (setengah matang) bagi cabang internasional mereka. Well, disamaratain aja antriannya udah mengular gini, gimana kalau made-to-order??


[Premium cheese tart + tea/coffee 70K]

Menu lain yg kupesan adalah premium cheese tart, yg dibanderol 70 ribu per set-nya (belum termasuk service charge 5% dan PPN 10%). Kalau classic cheese tart-nya lebih pas disebut egg cheese tart, maka premium cheese tart-nya lebih pas disebut cheese cake. Hehe. Diolah dari dua jenis cream cheese, teksturnya jauh lebih padat dengan rasa keju yg lebih nendang dan asin. Rasa manisnya datang dari lapisan karamel bakar ala crème brûlée di atasnya dan cocolan sirup maple yg disediakan di sekitarnya. Aku pribadi lebih suka makan kuenya apa adanya, dan tanpa embel lain-lain pun kue ini sudah enak kok.

Sebenarnya keduanya ga bisa dibandingin karena beda jenis, tapi aku yakin para penggemar cheese cake akan lebih condong ke si premium ini. Harganya memang 1,5x lebih mahal, tapi puasnya juga dijamin 1,5x lipat deh. Bedanya, si premium ini cukup ‘berat’ sedangkan tekstur si classic yg ringan bikin satu slice ga cukup. Dua-duanya bikin nagih dengan caranya masing-masing =)

Untuk minuman pendampingnya sendiri ga terlalu istimewa. Kopinya jenis kopi item yg lebih asam daripada pahit, sedangkan tehnya jenis yg ada wangi kembang gitu (mawar kah?). Tanpa tambahan gula sih keduanya cocok sebagai teman makan cheese tart yg sudah cukup rich dan manis.

Di samping dua menu ini, mini cheese tart, Hokkaido mille crepe, dan soft serve-nya juga bisa dipesan untuk makan di tempat. Aku belum coba menu lainnya, dan ga tahu apakah akan balik untuk itu. Soalnya, kalau ditanya apakah PABLO cheese tart ini worth the hype? Jawabanku adalah engga. Rasanya oke (dan kayaknya belum ada cheese tart yg selembut ini), tapi ga pakai banget. Soal rasa memang kembali ke selera masing-masing, tapi menurutku masih ada pilihan/toko lain yg menawarkan produk dan rasa yg mirip dengan harga yg lebih bersahabat.

Buat yg masih penasaran sama cheese tart yg satu ini, bisa kunjungi gerai PABLO Neo SOHO lantai LG ujung, di sebelah Born Ga, di seberang Pingoo. (Lokasinya persis di belakang eskalator jadi mungkin sedikit ketutupan.)

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s