Posted in Movie, Review

[Film] Filosofi Kopi: antara kopi, persahabatan, dan idealisme

“Dari semua buku saya yang diadaptasi, film ini yang paling saya suka. Ini yang terbaik!”
~ Dewi “Dee” Lestari

Salah satu faktor utama penentu aku nonton judul tertentu adalah rasa penasaran — sama ceritanya, pemainnya, sutradaranya, kehebohannya, atau aspek pendukung lainnya. Kali ini, penasaran itu lebih kepada kutipan Dee yg menyebut ini adalah adaptasi film terbaik dari SEMUA buah karyanya yg juga telah diadaptasi ke layar lebar. Bisa jadi ini hanya pendapat/preferensi pribadi atau sekadar strategi untuk menjaring lebih banyak penonton, tapi “semua” bukan kategori main-main. Semua loh, s-e-m-u-a.

Aku memang engga belum nonton semua film adaptasi yg dibuat berdasarkan tulisannya, tapi dari dua yg sudah kutonton (Perahu Kertas dan Rectoverso) baik segi cerita maupun keseluruhan masih jauh dari memuaskan. Jadi, kalau pengarangnya sendiri bilang begitu, ga ada salahnya datang ke bioskop dengan pikiran positif kan? Dan berhubung aku belum baca meskipun aku bela-belain baca cerpennya demi ulasan ini, aku bersiap menikmati dan kemudian menakar Filosofi Kopi berdasarkan apa yg tampil di layar tok.

flsfkp_00012

Ga sulit, karena tidak ada yg berat dan filosofis dari film ini, kecuali racauan dan deskripsi akan karakter dan analogi (jenis-jenis) kopi dianggap berat dan filosofis. Plotnya mengalir lancar dan mudah diikuti; karakterisasinya cukup kuat dan diimbangi dengan pendalaman akting yg mantap; dialognya natural, ga kaku atau aneh di kuping; tek-toknya juga mulus banget. Kualitas gambar, permainan warna, serta sudut dan teknik pengambilan gambarnya ciamik dan sedap dipandang mata. Semuanya oke-oke aja… sampai di pertengahan film di mana mood dan cerita yg berubah dramatis mengikis daya tarik yg terbangun rapi dari awal.

Perpindahannya ga drastis dan ga sampai ngebuat filmnya jadi ngebosenin sih, tapi bagian ini menurutku ga signifikan atau relevan, seakan ditambahin untuk memperpanjang konflik, kegalauan, dan tentunya durasi. Aku sempat kaget dengan durasinya yg 117 menit, khawatir filmnya bakal bertele-tele, meski ga sedikit yg mampu menjaga intensitas dan kekuatan naskahnya walau durasinya melebihi 2 jam. Ada film yg akan lebih oke kalau durasinya ditambah, ada pula yg sebaliknya, dan Filosofi Kopi masuk ke kelompok kedua. Aku ga ngerti kenapa setiap karakternya harus digambarnya memiliki episode masa lalu ‘kelam’, seolah takut ketiadaan kisah yg mengharu-biru akan kurang ngena dan menyentuh penonton. Memparafrasakan ucapan Ben: cerita yg baik akan menemukan penikmatnya.

Bukan berarti setengah pertama filmnya sempurna. Hampir — Ben’s Perfecto aja masih tak se-sempurna namanya, hehe. Dari segi directing, misalnya, akan lebih nyaman di mata kalau gambarnya ga goyang-goyang dari kiri ke kanan atas ke bawah terutama di adegan yg disyut panjang tapi minim pergerakan pemainnya, karena lumayan bikin pusing, apalagi di menit-menit awal. Dari segi writing, ada beberapa poin cerita yg mengganjal logika. Awalnya aku pikir oh, ini karena adaptasi kali ya, jadi ga bisa melenceng terlampau jauh dari materi sumbernya… which isn’t the case. Yg udah baca cerpennya pasti ngerti.

flsfkp_00002 flsfkp_00010

Filosofi Kopi adalah kedai kopi yg digawangi Ben (Chicco Jerikho) sebagai barista yg cukup nyentrik nan nyeleneh dan Jody (Rio Dewanto) sebagai pemilik tempat sekaligus sumber modal usaha, yg juga merangkap penjaga kasir, pengatur keuangan, dan pencetus strategi pemasaran, di samping peran-peran lainnya. Intinya, Ben taunya urusan bikin kopi dan Jody seksi repotnya. Repot berkutat dengan u(t)ang sambil berusaha meredam keimpulsifan si sohib (yg jujur lebih banyak gagalnya).

Ben idealis, Jody realistis. Ben bicara ide besar, Jody fakta dan angka. Ben maen hajar ga pake mikir, Jody kebanyakan mikir. Keduanya ibarat hati dan kepala yg jarang sejalan, susah ketemu, tapi saling melengkapi. Keduanya punya andil hingga Filosofi Kopi ramai pengunjung. Masalahnya, mereka sudah menunggak 3 bulan (kedai terkenal, barista handal, tapi ga sanggup nyicil utang? Oke, mungkin 800 juta itu gede dan biaya operasional mereka tinggi…) dan Ben ga mau kompromi dan terkesan menggampangkan masalah. Ia masih terus minta biji kopi yg lebih baik dan tentunya mahal padahal Jody udah abis napas ngulang kalau kocek mereka tipiiisss.

Buntu jalan keluar, mereka kejatuhan durian runtuh ketika ada konglomerat out-of-the-blue datang menantang Ben meramu house blend terenak se-Jakarta dan bahkan se-Indonesia dengan imbalan 100 juta. Ia baca profil Ben di koran/majalah dan butuh kopi tersebut untuk memenangkan tendernya. Pede tingkat dewa, Ben mengubah tawaran menjadi taruhan dengan jumlah 10x lipat, dan diterima tanpa panjang lebar. Ajaib dan mudah banget — tawarannya, bukan tantangannya. Mungkin akan lebih realistis kalau si dermawan (1 Miliar untuk secangkir kopi, cius?? Money comes too easy to some people) membuka sayembara dan duo Ben-Jody memutuskan ikut setelah sekian usaha menaikkan pendapatan gagal. Tetap kebetulan, tapi tingkat kesulitannya lebih tinggi karena dengan begitu Ben akan berhadapan dengan barista-barista terbaik se-nusantara.

flsfkp_00001 flsfkp_00009

Keganjilan berikutnya adalah ketidaktahuan Ben akan teknik meracik kopi yg tepat (“selama ini kita salah”) yg harusnya diseduh pada suhu tertentu blablabla… Itu bukannya hal dasar ya? Aneh ga sih Ben baru ngeh setelah kembali buka buku yg selama ini telah dimilikinya? Kemudian terciptalah Ben’s Perfecto dalam waktu kurang dari 2 minggu, yg ga langsung dihantarkan ke penawar sehingga memberikan waktu bagi El (Julie Estelle), seorang food blogger yg kabarnya punya nama di bidang perkopian, untuk datang mencicipi dan melontarkan komentar “not bad” yg membuat Ben naik pitam.

Gimana engga? Masa Ben’s Perfecto yg dibuat dari biji kopi terbaik yg harus dimenangkan lewat lelang, yg disiapkan dengan cara paling sophisticated, dengan pengalaman dan ilmu yg ditimba Ben ke mana-mana selama bertahun-tahun, kalah sama kopi yg diseduh langsung sama petani kampung? Udah gitu yg ngasih opini cuma seorang food coffee blogger lagi! Ego Ben jelas ga ngizinin itu terjadi. Parahnya, Jody percaya 100% kredibilitas dan penilaian El bahwa semua orang akan setuju Ben’s Perfecto bukan yg terbaik, seolah rasa adalah ilmu eksakta. Well, i shook my head at this, but if they believe so, so be it.

Seaneh-anehnya perkembangan dan plot device yg ada sejauh ini, ga ada yg separah kejadian yg menyebabkan Ben setuju memburu dan membuktikan kedahsyatan Kopi Tiwus sampai ke Gunung Ijen, Jawa Timur. Dengan kembali menginjakkan kaki ke kebun teh, Ben dihadapkan pada luka lama dan trauma masa kecil yg masih melekat hingga sekarang. Dan senikmat apakah Kopi Tiwus? Siapa peraciknya? Terbuat dari biji kopi jenis apa? Bagaimana proses penanamannya, penyangraiannya, penyeduhannya? Jawabannya jauh lebih simpel dan sederhana dari perkiraan.

flsfkp_00005

Makin ke sini, kayaknya makin marak film dan drama seri hasil adaptasi. Banyak yg mengecewakan, tapi ada yg masih bisa dinikmati dengan atau tanpa tau materi asalnya. Menurutku, itu hal utama yg menentukan keberhasilan sebuah proyek adaptasi — seberapa jauh materi berhasil dikembangan, dimodifikasi, atau diterjemahkan tanpa kehilangan nyawa dan esensinya. Dalam hal ini, aku setuju bahwa Filosofi Kopi diramu dengan takaran yg pas. Tidak plek-plek, adegan per adegan, kalimat per kalimat persis sama tapi ceritanya utuh dan detil, serta konflik yg relevan dengan situasi saat ini (contoh: hari gini tempat nongkrong ga ada wifi?? 😂). Tanpa penjelasan ekstra lebar, narasi serba informatif, atau diucapkan blakblakan, aku nangkep Ben dan Jody itu orangnya seperti apa.

Kalaupun ada yg lewat adalah tagline “Temukan dirimu di sini” — ide yg dipaparkan menarik di versi tulisannya namun kehilangan identitas di versi layar lebarnya. Kalau ga baca, sampai sekarang pun aku mungkin masih bertanya-tanya apa maksud dari kalimat ajakan sekaligus tantangan tersebut. Sayang aja, padahal kopi bisa dibuat lebih mewakili manis pahitnya kehidupan kalau saja ia lebih dieksplorasi dan diberi porsi lebih.

Maybe it’s just me. Did you find yourself there, through this movie?

flsfkp_00011

_
Rating: 3/5
Director: Angga Dwimas Sasongko
Production: Visinema Pictures, 2015
Cast: Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer
Genre: Friendship, Drama Comedy

p.s. jarang nemu resensi yg klik, sampe ketemu ulasan ini. Aku suka gaya tulisannya dan 90~95% setuju sama pendapatnya. Also, there are TWO post-credits scenes?? Dang, i missed the second one! Wahh, laen kali harus lebih sabar mantengin credit roll kalau gitu…

~ stills captured from its official trailer ~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s