Posted in Commentary, Drama Series

Nic & Mar: episode 4~5

“Well, does it really have to be our last night?”

Well, i doubt it, but let’s figure it out!

Episode 4: “Our last night?”

Meskipun waktu di episode 3 berkisah tentang ‘hari terakhir di Paris’, Nic masih belum meninggalkan ibukota Perancis tersebut karena masih ada ‘malam terakhir di Paris’ yakni episode 4. Perjalanan keduanya menyusuri Paris diakhiri dengan mengelilingi Marché des Enfants Rouges, pasar indoor tertua di sana.

Mendengar Nic mencari pasta, Mar teringat akan pasta buatan Nic yg enak banget dan meminta Nic “masakin [lagi] yg kayak zaman dulu itu…” Seperti biasa, Nic awalnya menolak tapi dengan cepat berubah pikiran dan menyanggupi. Adegan berikutnya, silakan menikmati food porn, pemandangan Nic memasak, main mata dan tersenyum padamu seperti ini:

nicmar4_00003

Sorry to burst your bubble but he is not smiling at you, but at Mar 😂

Setelah mengomentari enaknya makanan, mereka akhirnya menyinggung ke ranah pribadi yg bikin hati kebat-kebit: masalah pacar.

Mar: “Pasti kamu sering masakin cewek-cewek. Pacarmu misalnya.”
Nic: “Mau tau aja…”

Mar mengaku pernah jalan dan deket dengan beberapa pria di New York, tapi belum ada yg ke arah serius, sedang Nic baru putus 2 bulan yg lalu. Hmm~

Nic: “Semakin ke sini, semakin sering ketemu orang, tapi semakin susah nyari yang cocok.”
Mar: “Yah… kalo nyari yang kayak aku sih… susah.”

Oy! Menjurus banget, Mar? Tapi Nic siap berkelit, matter-of-factly, “Ya susah lah, mesti ke Paris dulu baru ketemu.” Haha, that’s true though.

Kemudian mereka tos untuk malam terakhir Nic di Paris, yg ga akan jadi malam terakhir mereka kalau Mar ikut ke Praha. Whoa whoa whoa. Mereka sudah lama ga jalan bareng dan kerjaan Mar di Paris juga sudah selesai… tapi Mar menolak karena ajakan Nic datang terlalu mendadak. Oof, what a mood killer.

Belum menyerah, Nic mengirim pesan singkat (“Kita buktiin kalau Praha lebih romantis dari Paris.”) beserta jadwal penerbangannya ke Praha. Mar masih menimbang pilihannya.

nicmar4_00005

What, that’s it?? It was sooo short!! But then, gurl, what are you hesitating for? Just say yes!

Awalnya aku pikir kebersamaan mereka akan berakhir begitu aja dan Mar yg harus mengejar Nic ke Praha, tapi Nic secara blak-blakan ngajak Mar ikut! Dan ngebuktiin kalau Praha lebih romantis dari Paris! Apa ada yg lebih mengundang dan eksplisit lagi dari itu? Honestly, it couldn’t get any better than that, and she need not play hard to get at this point. But well, i highly doubt that she’ll stay behind, so let’s say hello to Praha…


Episode 5: “Hello, Praha!”

Episode dibuka dengan Nic menggeret kopernya sendirian melalui sebuah gang. Aww, jadi Mar ga terbang bareng? Tapi pasti dia akan nyusul pake pesawat berikutnya kan? Namun, adegan berikutnya Nic yg belum booking hotel bertanya, “Apa ini aja ya hotelnya? Kayaknya bagus.” ke seseorang di sampingnya, dan kamera perlahan di zoom out untuk memperlihatkan Mar berdiri di sampingnya. Aww, yeah!

Bukan senyum yg terpasang di wajah Mar. Dia ga ngerasa ada sesuatu yg romantis dari ketidakpastian adanya hotel untuk mereka singgahi. Sayangnya lagi, hotel di depan mata hanya tersisa satu kamar double-bed. Karena Mar udah mulai bete dan capek jalan, mereka memutuskan untuk berbagi kamar dan ranjang, “biar lebih romantis.” Err…

Setelah beristirahat sejenak, di mana Nic menyiapkan rencana perjalanan selama di Praha, mereka bergerak menyusuri Charles Bridge(?) dan menikmati pemandangan gedung-gedung tua nan cantik dari atasnya. Nic menyebut ada Museum Kafka sembari mengutip, “He who seeks does not find, but he who does not seek will be found.” Seperti mereka yg tiba-tiba bertemu lagi setelah sekian lama.

nicmar5_00005

Rasanya Nic & Mar kurang lengkap tanpa ada renungan puitis. Setelah absen di episode sebelumnya, ia kembali hadir di sini:

“Yang spesial dari Praha adalah… kamu. Kar’na kamu, aku di sini.”

Saat bersantap, Nic menjawab panggilan telepon dari Sasha menanyakan soal sepele. Mar segera menunjukkan keposesifannya kecemburuannya dengan menyarankan Nic jalan sama cewek yg deket, tinggal satu kota, dan nyaman dengannya itu. (Kok pembicaraannya jadi melenceng ke situ sih?) Nic ga kalah ketus ketika membalas, “Iya, entar aku pacaran sama dia, biar kamu seneng.” Puahahaha~ I know it isn’t supposed to be funny, but it is so absurd it is.

Itu jelas bukan jawaban yg ingin didengar Mar dan mood keduanya langsung terjun bebas. Hidangan lezat di depan mata tak lagi menggugah selera dan mereka tak lagi berjalan berdampingan. Mungkin Nic dan Mar ga boleh makan bareng kali ya? Ga episode kemarin ga sekarang, acara makan romantis berakhir ga manis (-.-;)

nicmar5_00007 nicmar5_00006

She overreacted, didn’t she? It was just one brief phone call which Nic was nonchalant about. Mungkin telepon itu diikuti pesan singkat yg berhasil bikin Nic mesem-mesem ngebacanya, tapi itu bukan berarti apa-apa kan? Si Sasha ini juga ga jelas siapa, kecuali dia disebut naksir Nic habis-habisan dan pantang menyerah ngedeketin sejak dulu. Udah gitu Mar juga bukan pacarnya Nic, isn’t she taking it too far by playing the jealousy card? Iya sih, Nic masakin pasta enak untuk dia, juga ngajak ikut serta merasakan romantisnya Praha, ditambah lagi mereka tinggal sekamar, tapi tetep aja reaksinya kekanakan.

Talking about sharing room and bed, i knew it is going to be controversial although we all did see it coming, didn’t we? Kita yg sempat nonton teaser serial ini pastinya ngeh akan adanya satu klip di mana mereka rebahan di atas ranjang yg sama. Iya kita sekarang hidup di zaman yg lain dengan orang tua atau kakek-nenek kita. Ini abad 21 dan tahun 2015. Mereka juga sudah sama-sama dewasa (di atas 30 kalau berdasarkan usia pemerannya). Tapi ini tetap produksi dalam negeri untuk konsumsi dalam negeri, dan menyaksikan dua manusia lawan jenis akan menghabiskan malam di dalam kamar yg sama jelas bukan pemandangan yg baik.

nicmar5_00004

Kalau kondisinya semua hotel di daerah itu sudah fully-booked terus hari sudah beranjak malam sehingga mereka terpaksa harus menyewa satu kamar mungkin lebih bisa dipahami. Mereka mungkin ga akan ngapa-ngapain, secara Mar juga sedang ngambek, tapi kesan negatifnya sudah terlanjur terbangun. Sayang aja sih menurutku. Settingnya sudah romantis, dialognya masih nyaman di telinga, pendekatannya juga makin kelihatan… mereka ga harus dibuat selalu berdampingan ke mana pun, di mana pun, dan kapan pun dong?

Meskipun demikian, hal yg paling kusuka dari perpindahan mereka dari Paris ke Praha adalah… pergantian kostum! Habis selama beberapa hari di Paris setelan bajunya ga ada yg berubah. Jangan bilang mereka hanya akan mengenakan setelan yg sama selama di Praha… Winter sih winter, tapi masa bajunya ga ganti sama sekali?? Bawa kopernya lumayan gede loh, isinya apaan aja?? XD

 

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

3 thoughts on “Nic & Mar: episode 4~5

    1. Yup! Simpel, pendek, tapi berhasil bikin gregetan juga, apalagi pas mulai ada konflik-konflik kecil yg sebenernya karena hal sepele. Sepanjang drama ga kerasa kayak mereka tuh mantan yg udah lama ga ketemu.

      Haha, ternyata bukan gue doang yg mesem-mesem disenyumin Nic. Ga cuma di situ aja, di episode 2 pas adegan buka mata terus terpampang muka sumringah Nic… itu tatapannya juga maut! Sutradaranya jago banget bikin yg nonton jadi ngarep gini XD

      Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s