Posted in Movie, Review

Nada untuk Asa: berani hidup?

Film yg bicara tentang semangat hidup, yg mengajak orang untuk bilang “kami berani hidup”, “saya berani hidup”, di saat di mana banyak orang bilang “saya berani mati”.

Tema yg menarik serta latar belakang ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yg kayaknya jarang diangkat ke layar lebar adalah 2 faktor utama pendorong niatku untuk nonton. Setelah bertahun-tahun puasa nonton film lokal (minim cerita yg mencuri perhatian), aku menaruh harapan besar pada Nada untuk Asa dan datang ke bioskop siap terinspirasi. Tak lupa menyiapkan tisu siap terenyuh. 98 menit kemudian, aku keluar teater dengan banyak pertanyaan serta tisu yg hampir tak digunakan sama sekali.

What went wrong? Where did it go wrong? 

nua_00008

Berbekal inti cerita yg tragis, tokoh wanita yg kuat nan tegar, serta misi yg jelas, (terinspirasi dari kisah nyata pula!)* aku pikir ga sulit meramu cerita yg menggugah dan mengharu biru. Di samping itu, industri kreatif kita kan kuat di drama. Genre drama mendominasi film dan sinetron (meskipun ga sedikit yg over the top), lagu juga kebanyakan mendayu-dayu dengan lirik yg bikin depresi. Tapi tentunya kuantitas bukan penentu kualitas. Banyak bukan berarti bagus kalau cuma menang di jumlah tapi kosong di isi.

Di tahun 2008 sampai 2010 banyak banget judul film yg aku tonton dan ulas; frekuensinya menurun drastis akhir-akhir ini karena kapok dengan jalan cerita yg cetek atau bikin meringis. Kangen sih nonton film Indo lagi. Kangen dibuat terpukau. Masa dari sekian banyak judul yg berseliweran, ga ada yg luar biasa bagus? Makanya, aku berharap Nada untuk Asa berbeda. Aku positif ini bisa menjadi tontonan yg bermakna, berkesan, dan memotivasi. Tapi mungkin pesan moral yg selalu dikedepankan serta kisah ODHA yg seolah menjadi jualan utama film ini membuat ekspektasiku melambung tinggi. Seperti yg sudah ditulis di atas, tujuanku nonton film ini cuma satu: ingin keluar dengan senyuman and then write a rave review of it.

Yg ada malah rasa heran ketika filmnya selesai begitu saja. Rasanya masih banyak yg bisa dan harusnya digali lebih jauh sehingga penyelesaiannya kurang nendang dan konklusif. Jadi, letak keberanian untuk hidupnya di mana? adalah kesan yg ga berhasil kutangkap, padahal ada adegan di mana salah satu pemain figurannya dengan gamblang berseru “saya berani hidup!” I don’t think i could figure that ‘will/dare to live’ is the underlying message had i not exposed to it beforehand. Pesan yg kudapat lebih ke perihal memaafkan, berdamai dengan diri sendiri, serta makna janji pernikahan — untuk setia di kala senang dan susah, kaya atau miskin, sehat maupun sakit — yg baru teruji ketulusan dan komitmen pengucapnya saat mereka dan/atau pasangan tidak sedang berada dalam kondisi senang, kaya, dan sehat.

nua_00003

Situasi yg dihadapi Nada (Marsha Timothy) bisa jadi tergolong luar biasa dramatisnya. (1) Baru ditinggal pergi sang suami, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa (2) Bobby bukan menyerah melawan kanker melainkan AIDS. Ternyata ada satu hal lagi yg disembunyikan Bobby dari Nada, yakni fakta bahwa (3) ia terpapar virus HIV karena pernah tidak setia. Tak sampai di situ saja, (4) Nada dan anaknya yg masih balita berisiko tinggi tertular virus yg sama. Untuk menyempurnakan kepiluan Nada, (5) ia harus melewati segala cobaan yg datang bertubi-tubi ini tanpa dukungan dari Ayah (Mathias Muchus) dan kakak kandungnya (Inong Nidya Ayu).

Di waktu dan tempat yg berbeda, ada Asa (Acha Septriasa). Memiliki kinerja baik di kantor bukan berarti kenaikan pangkat, penyesuaian gaji, atau pemberian bonus yg didapatnya, melainkan surat PHK dan pesangon. Kenapa? Karena pihak perusahaan baru tahu kalau Asa positif HIV. Dia menerima keputusan sepihak ini dengan tegar, tanpa banyak perlawanan (apakah ini bukan pertama kalinya dia dipecat karena alasan serupa?) walaupun akhirnya termenung di kafe sebelum akhirnya dicolek Pongki buat menertawakan mengusir kesedihan lewat nyanyian.

Adegan ini penting banget buat ditulis bukan hanya karena lirik yg menusuk namun dibawakan dengan melodi yg riang dan bikin hati adem, tapi juga karena lagu ini menjembatani pertemuan pertama antara Asa dengan Wisnu (Darius Sinathrya) yg begitu berkesan — ada momen dag-dig-dug-nya, ada momen super cute-nya, ada momen blunder-nya.

Which was then followed by one of the best pick-up lines ever:

Wisnu: “Jadi, kamu HIV?”
Asa: “Kenapa? Takut?”
Wisnu: “…Belum.”

I totally expected him to give a flat out “no” but his response was the most possible realistic reply. She was throwing what-if situations, and he didn’t know whether or not she had the condition. He might be afraid later on, but at that moment, he wasn’t. And i liked that.

Balik ke Asa, ia kemudian mencoba berjualan kue kering namun banyak yg enggan membeli, ada pula pembeli yg membatalkan pesanan setelah tahu kondisi kesehatan Asa. Masalah lainnya, soal kedekatannya dengan Wisnu, yg ia ragukan arah tujuannya serta kepantasan/kemampuannya menjadi pendamping Wisnu.

nua_00007

HIV/AIDS jelas sumber konflik yg efektif. Penyebab cobaan demi cobaan yg seolah tak berujung. Sangat mungkin penderitanya merasa bahwa hasil positif = vonis mati. Lalu jatuh depresi dan kehilangan semangat hidup. Dari sinikah konsep berani hidup berasal? Tetap saja, baik Nada maupun Asa bukan sosok wanita lemah. Nada memang kerap menangis, tapi lumrah banget lah, siapa coba yg ga tertekan kalau berada di posisi dia? Sedangkan Asa sendiri kelihatannya berprinsip “Lu ga terima gue? It’s your loss.”

Mungkin akan lebih ngena kalau Nada digambarkan menarik diri sehingga ketiga anaknya terlantar dan harus ‘diselamatkan’, apabila Asa diceritakan mengalami PHK untuk yg kesekian kalinya sampai putus asa. Which, again, wasn’t the case. All Nada needed was a spur for her to open up to receiving treatment,^ and Asa to Wisnu’s sincerity. Karena pada akhirnya, apapun yg terjadi, apapun kondisinya, mereka berhak untuk hidup, mencintai dan dicintai, dan untuk hidup bahagia.

Kelemahan terbesar Nada untuk Asa terletak pada naskahnya, yg menghabiskan terlalu banyak waktu di bagian introduksi dan pemetaan konflik sehingga bagian klimaks dan penyelesaian tidak mendapat porsi yg cukup. Cerita Nada berjalan terlalu pelan dengan terlalu banyak adegan mewek-mewekan panjang yg tidak perlu. She is crestfallen, i get it; we also knew all along that she and Asa would be diagnosed as HIV-positive, so why drag it out? The scenes with Wulan Guritno also feel unnecessarily lengthy and darn uncomfortable to watch. Her foul mouth could definitely be toned down — and whom she’s calling biyotch?

nua_00002

Dengan banyaknya materi potensial yg dimiliki Nada untuk Asa, sayang banget kalau pada akhirnya HIV/AIDS hanya dijadikan tempelan belaka. Di beberapa kesempatan, Charles Gozali selaku sutradara, penyunting, dan penulis skenario memang menyebutkan bahwa Nada untuk Asa bukan bicara HIV/AIDS, but still! It can choose any other disease, yet it chose HIV/AIDS and grossly wasted it.

Melihat stigma negatif yg masih melekat pada ODHA serta minimnya pengetahuan masyarakat akan HIV/AIDS, bukankah akan lebih bermakna dan ‘dalem’ jika Nada untuk Asa dibuat lebih edukatif? Paling engga menyinggung soal cara penularannya deh, misalnya saat kakak Nada menolak disentuh dan berdekatan dengan Nada. Lalu soal PHK Asa. Dia berkilah kalau dia ga bilang karena ga pernah ditanya. Apa tindakannya sudah benar, atau haruskah ia memberitahu pihak perusahaan pas proses perekrutan? Tak apa-apakah ia memasak dan membuat kue tanpa pelindung — what if she cuts herself? Dan terakhir, ia bertanya “bisa ga?” dia menjadi istri — gimana caranya supaya Wisnu dan keturunan mereka nantinya negatif HIV?

Terakhir, soal Wisnu. Setelah dibuat klepek-klepek oleh deklarasi “…belum”-nya, aku kecewa begitu tahu kalau dia ternyata pendamping ODHA. Yg berarti dia sudah tahu seluk-beluknya. Pantes dia ga keder pas Asa nakut-nakutin dengan jurus “kalau gue HIV?” Gregetnya turun drastis. Coba bayangkan betapa bikin melelehnya kalau dia orang yg ga begitu paham soal HIV/AIDS, yg setelah bilang belum takut kemudian mencari tahu segala sesuatunya tentang penyakit tersebut, dan akhirnya dengan tegas dan lantang mengutarakan keberanian, kesediaan, dan kesanggupannya menjalani hidup bersama Asa?? *kebanyakan nonton drama nih kayaknya*

Ahh, what could have been…

nua_00010 nua_00009

_
Rating: 3/5
Director: Charles Gozali
Production: Magma Entertainment, 2015
Cast: Marsha Timothy, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Mathias Muchus, Inong Nidya Ayu, Butet Kartaredjasa, Tri Yudiman, Nadila Ernesta
Genre: Drama, Romance

*) Dua kisah ODHA lainnya yg tampil di “Mata Najwa: Hidup Dalam Stigma” edisi 16 Oktober 2013: bagian 4 dan 5.

^) Film Nada untuk Asa BUKAN diangkat dari novel berjudul sama tulisan Ita Sembiring, bukan pula sebaliknya. Keduanya dikerjakan hampir bersamaan, berdasarkan konsep yg sama. Makanya katanya ceritanya berbeda, termasuk hal yg memotivasi Nada untuk bangkit. Jadi penasaran apa yg memicu Nada versi buku, lebih dalem dan ngena dari versi filmnya kah?

~ stills captured from its official trailer ~

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s