Posted in Off Topic

Unek-unek soal service charge

Because it deserves its own post.

[tadinya ocehan/keluhan ini bagian dari tulisan sebelumnya, tapi daripada jadi kepanjangan melantur kemana-mana dan kesannya terlalu negatif, aku jabarin di sini aja…]

Been nagging my brain for quite a while now: am i the only one who’s annoyed when the percentage is that high while the service given is nothing special? Dari yg ga membebani sampai yg ‘memaksa’ customer membayar ekstra 8% untuk service charge, pelayanan yg diberikan ga jauh dari 1) mencatat pesanan, 2) menyajikan pesanan, 3) mengangkat piring kotor, 4) mengantarkan bon ketika diminta. Meskipun minuman tertera refill, misalnya, gelas kosong akan tetap kosong jika kita ga minta diisi ulang. Ucapan “terima kasih” juga ga selalu terdengar.

Biasanya aku ga ambil pusing soal hal ini. Udah lumrah juga tempat makan atau nongkrong nge-charge lebih sekian persen untuk pelayanannya. Dari restoran, cafe, sampai ke toko kue. Kalau kayak Santouka masih mending lah, ditulis di menu harga belum termasuk 18% pajak dan service charge, banyak kan yg cuma nulis “all prices are subject to tax and service charge” tanpa nyebutin dengan jelas berapa persenannya. Yg satu sih udah pasti 10%, nah yg satunya lagi kan jadi tebak-tebak buah manggis. Siap-siap kaget pas nerima bonnya.

5% masih oke lah, standar (walau kadang masih ada yg ‘cuma’ nge-charge 2.5~3%) tapi kalau lebih dari itu sedangkan pelayanannya gitu-gitu aja…?? Pengalamanku selama ini sih, besarnya persentase ga berbanding lurus dengan baiknya pelayanan — makin gede service charge seringkali makin buruk pelayanannya. Lagian, sejak kapan sih service charge jadi semacam keharusan? Apa karena kasih tips bukan budaya kita jadi langsung ditambahin aja ke bon? Kalaupun ga ada service charge toh aku dan keluarga suka ninggalin tips, yg besarnya bisa lebih dari 5% total bon. Tergantung sedapnya hidangan sama kesopanan/kesigapan pelayanan juga sih. Itulah bedanya rela sama terpaksa.

Aku ga tahu gaji di bidang F&B berapa tapi tahu betul kalau total service charge yg didapat dibagikan ke pekerja. Tambahan penghasilan bagi mereka yg gaji pokoknya mungkin ga seberapa. Ga masalah; karena pada intinya aku keberatan kalau service charge dijadikan alasan pemilik resto untuk menggaji kecil para pekerjanya dan nombokkin kekurangannya dari service charge yg dibebankan ke customer. Tapi kalo kompensasinya udah memadai…? Dari pengalaman pribadi sama denger-denger cerita yg lain, service charge yg diterima bisa lebih besar daripada gaji pokok loh. Lumayan banget kan? Tapi ya itu, harusnya kan jadi pemicu untuk semakin semangat kerja dan meningkatkan performa kerja, lah ini…

Satu lagi, apa susahnya sih menuliskan harga nett di menu? Aku masih suka kebiasaan nganggep harga yg di menu itu harga yg akan kubayar, yg akhirnya menggelembung karena tambahan ++ itu tadi. I don’t care how much you’ll charge for tax and service charge, i’d appreciate it if the price is already all in. Especially when the price of an entrée is nearing 100K already, extra 18% is a lot.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s