Posted in Foodie, Review

Hokkaido Ramen SANTOUKA: seenak itukah?

Selain sushi, ramen adalah makanan Jepang favoritku. Dan aku cukup royal soal makanan. Sejauh atau semahal apapun, selama masih bisa terjangkau, aku akan dengan semangat dateng nyobain. Apalagi yg terkenal dan jadi favorit banyak orang.

Selera relatif banget sih, yg aku suka belum tentu disukain yg lain, begitu pula sebaliknya. Rasa juga ga gampang dijaga konsistensinya, sekarang cobain enak, nanti dateng lagi rasanya belum tentu sama; kadang cabang di sini enak, di sana belum tentu; atau selera kita yg berubah. Makanya aku jarang ngebahas tempat makan, selain ga jago ngedeskripsiin rasa, ga banyak yg masuk daftar favoritku, dan ya itu, ‘takut’nya yg aku rekomendasiin ga cocok di lidah yg lain.

Sebenernya aku punya pedoman untuk ga nyari yg lain begitu udah ketemu yg pas banget di lidah dan kantong, karena jarang ketemu yg lebih lagi. Tapi ya sering dilanggar. Kalau baca atau denger resto ini baru buka dan katanya enak bingits atau yg itu aselik dari sononya (ditambah foodporn yg diambil dari sudut kreatif, difilter/diedit dengan ciamik sampe penampakannya bikin laper), siapa yg ga tergoda coba?? Apalagi menyangkut makanan yg aku suka, tambah susah nahan diri itu maahh… xp

DSC_0735 DSC_0734

Terus sampailah nama ramen ini ke telinga. Udah ramen, Hokkaido pulak! Berhubung aku bukan ahli makanan — cuma ahli makan, hoho — aku ga tahu menahu soal sejarah pe-ramen-an dan tetek bengeknya. Taunya ramen dari Sapporo, Hokkaido, adalah salah satu yg terenak. Padahal kalau dibaca-baca, tiap daerah di Jepang punya kekhasan ramennya masing-masing, mulai dari bahan dasar kuah (soup base), jenis mie, sampai ke topping-nya.

Entah kebetulan atau ga, tempat ramen favoritku di negeri singa (Men-ya Kaiko di ION Orchard) adalah yg tipe Hokkaido. Di Jakarta sendiri belum pernah coba, baru Santouka Ramen ini kali ya yg dari pulau utara Jepang? Udah lama sih denger namanya wara-wiri paling sering disebut setelah Hakata Ikkousha dan Ikkudo Ichi, tapi belum sempet mampir karena lokasinya yg di Plaza Indonesia atau Mall Kelapa Gading 3 kurang bersahabat dengan basisku di daerah barat. Makanya pas kemarin main ke PI, sekalianlah mampir ke restonya di lantai 5 (terus ke Sephora dan ngintip Uniqlo yg baru buka di Grand Indonesia, hehe).

Sebenernya alasan lain yg bikin aku nunda-nunda makan di situ adalah harganya yg aduhai. Waktu ngecek di zomato, mata langsung membulat ngeliat harga semangkuk kecil shio, shoyu, atau miso ramen dibanderol 73K — 83K untuk ukuran sedang, dan 103K untuk porsi besar. Plus plus. Apalagi kalau ngiler sama Tokusen toroniku ramen yg katanya must-order. Siap-siap ngeluarin (minimal) selembar uang kertas warna merah bergambar Soekarno-Hatta karena harga yg tertera di menu belum termasuk 10% PPN dan 8% service charge. o.O &^@*%@&%&#*%^

That aside, aku tetep mutusin masuk. Daripada penasaran, hayo? Seenak apa sih ramen yg digadang-gadang sebagai salah satu yg terenak, terpopuler, dan termahal ini? Bahkan denger-denger Santouka adalah kedai ramen no.1 di Singapura (versi Ramen Revolution 2014 yg diadakan WAttention Singapore, dimana Santouka menang jauh di atas nama-nama lain seperti Ippudo Singapore dan Hakata Ikkousha).

?????????????????????????????????????Pada kunjungan kemarin aku pilih shoyu ramen (atas) and miso ramen (bawah), keduanya porsi medium — takut porsi small ga cukup, padahal sempat ngelirik cowok-cowok di meja sebelah pada makan yg porsi mini *berasa maruk*. Air es diberikan gratis, kalau mau pesen ocha panas/dingin, harganya 13K++.

Seperti yg bisa dilihat, mangkuk ramen dipenuhi dengan menma (rebung), 2 potong chashu, negi (daun bawang), dan kamaboko/fish cake. Untuk shoyu dilengkapi dengan selembar nori dan irisan kikurage (jamur kuping agar?) untuk miso. Porsinya medium di sini kurang lebih seukuran porsi reguler kedai ramen lain.

Kuahnya sendiri… untuk shoyu yg berasa ya rasa kecap asinnya. Ada bau yg khas walau ga tajam. Diseruput sedikit sih lumayan, tapi kalau makan kebanyakan katanya jadi ga enak juga. Untuk misonya juga lumayan, ga terlalu asin, ga terlalu pekat. Engga wah-wah gimana banget. Rada susah sih dibandingin sama kuah Ikkousha atau Ikkudo yg dasarnya adalah tonkotsu yg lebih kaya rasa dan berminyak sehingga terkesan ‘berat’. Santouka juga mengandalkan kuah tonkotsu yg digodok berpuluh-puluh jam, tapi jauh lebih encer dibanding dua nama lain di atas.

Cuma satu sih yg kurang sreg: mienya. Dari foto ga keliatan, mie yg dipakai tipe yg cukup tebal dan keriting, tapi garing digigit putus. Untuk bakmie ayam aku suka tipe yg begini, tapi untuk ramen aku lebih suka yg tipis, lurus, dan legit — yg sedikit ngelawan waktu dikunyah. Apa khasnya ramen Asahikawa menggunakan mie keriting? Soalnya pas order ga ditanya mau mie yg kayak gimana, di menu juga ga lihat adanya pilihan, so i guess they only have one noodle type, which isn’t the type that i prefer. Alas.

Oh, satu lagi: chashunya. Dari foto mungkin ga terlihat jelas, chashu yg dipakai potongannya lumayan tebal dan bukan berbentuk bulat serta penuh lemak. Ini lebih persegi panjang penuh daging. Different type of chashu, i guess? Engga keras tapi digigit ga mau putus. Alhasil, satu potong penuh masuk mulut baru dikunyah pelan-pelan. If only it were a bit more tender…

Setelah ramen lenyap dilahap, kenyang sih kenyang, tapi kok rasanya kurang puas ya. Bukan karena porsinya, melainkan dari segi rasa — ga seistimewa ataupun seenak yg dibayangkan — serta segi harga yg…

To each his own. Ikkudo is still my fave.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

4 thoughts on “Hokkaido Ramen SANTOUKA: seenak itukah?

  1. Hi how are you? I see that you also seem to like Korean food 🙂

    but you know what, since I do have Indonesian friend.. I’m yearning to taste this what they often tell me— Soto, do you know how to cook this? 🙂

    Like

    1. Hi 🙂 Yes, i love Korean food, although this post is about Japanese ramen 😉

      Each of our cities has their own soto, so you may want to check with your friends which one they particularly like or recommend, and if you can find the instant spices version sold there, as i believe it’s pretty complicated to cook one from scratch.

      Liked by 1 person

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s