Posted in Music, Review

Kotak Never Dies


Di tengah semua perkembangan, pemberitaan, perdebatan, dan ‘perang’ komen, nyari sesuatu yg seger, yg bisa “menyatukan kita siapapun kita di sini, mewakili kita meski warna kita berbeda”? Udah pada denger album terbaru band Kotak?

Para Kerabat Kotak sih pasti udah pada tahu. Never Dies judulnya. Diluncurkan di iTunes pertengahan Maret tahun ini, Never Dies berisikan 11 lagu, 3 di antaranya kolaborasi dengan musisi lain. Album ini kalau ga salah (ya bener xp) album kedua Kotak yg kudengarkan secara penuh, yg pertama antara Kotak Kedua atau Energi wasn’t impressed then. Aku jarang ngecek full album musisi lokal karena kebanyakan lagu yg enak ya yg jadi single. Sisanya? *kedipkedip. Dan kalau setengahnya aku suka, biasanya albumnya bakal aku ulas — if not, it’s not worth my time reviewing it, don’t you agree?

Now that you’re reading my review of this album, you know what that means 😉

Kesan pertama ga hanya penting saat ketemu orang baru, tapi juga saat ngecek album baru. Kesan pertama bisa salah, tapi kalau lagu pembukanya udah oke, biasanya belakang-belakangnya ngikut. Never Dies sendiri dibuka oleh Satu Indonesia (video liriknya ada di atas) yg luar biasa bagusnya. Aku suka lagu pop-rock Kotak seperti Masih cinta, Pelan-pelan saja, dan Apa bisa, tapi Beraksi-lah yg duduk di puncak. Tapi itu lagu yg dilepas 6 tahun silam, yg edisi 2014 ya Satu Indonesia. Ga melulu soal cinta, tapi juga nyinggung fenomena sosial dengan lirik dan nada yg bisa membakar semangat dan bikin semuanya jejingkrakan dan nyanyi-teriak bareng.

Kamu kamu dan kamu bangunlah semua,
Bangkitkanlah jiwa Indonesia

Satulah para pemuda Indonesia
Damai cinta indah berbagai budaya, satu cinta
Indonesia, satulah para pemuda Indonesia
Alam semesta, bagusnya negeriku Indonesia

Song of the year, hands down. Aku rasa lagu ini bisa se-iconic Bendera-nya Cokelat. Anthemic banget!

Lagu ‘pemersatu’ lainnya terletak di pertengahan album, Music. Betotan sangar bass dan gebukan kencang drum langsung hilang begitu sampai ke bagian reff yg setengah dinyanyikan setengah dideklarasikan dengan lantang: “Music… menyatukan kita siapapun kita di sini. Music… mewakili kita meski warna kita berbeda.” Lagunya nge-rock abees~

Mendekati penghujung album, ada Bobrok! (feat. Pay & Eross) yg sarat kritik politik. Tema dan tipe yg mengingatkan pada lagu-lagu Iwan Fals seperti Bento.

Tiba waktu t’lah sirna, badut-badut tertawa
Semua membual, mencari citra, hanya ingin menjadi kaya

Jelas sengsarain rakyat, rakus uang yg kau sikat
Terlihat hebat, ternyata bejat
Badut bikin orang melarat

Apa kita harus percaya mereka gila
Kosong belaka, buta, harta, takhta, ga ada logikaaaa…

Ahh~ adil memang udah ga ada, salah benar ga ada beda
Kita merdeka, kata siapa?
Oh ahh~ percaya udah ga ada, hitam dan putih pun jadi sama, sama aja
Kita merdeka, kata siapa?

Kalau kita ga peduli, mau ke mana
Bo-bo-bo-bo-bo-bobroookkkk!

I always see them as a rock band, i thus like it when their song is more rock and less pop. Karenanya aku puas banget dengan apa yg ditawarkan Kotak di album ini. Hampir semua lagunya nge-rock, seperti yg personilnya dibilang bahwa album ini merujuk ke glam rock tahun ’90-an. Gritty vocals, screechy bass sounds, heavy drum beats. Kerasa banget nuansa oldies-nya. Cek: Sisi lain atau Sendiri (new version). 

Bagi yg ga terlalu suka lagu tipe hard rock yg keras dan berisik, Never Dies juga punya lagu-lagu yg kalem, tenang, bertempo pelan serta bertemakan cinta. Perfect love dan Aku percaya pilihanku hampir akustik — gitar dan dentuman drum satu-satu di Perfect love, sedangkan Aku percaya pilihanku hanya diiringi piano dan gitar.

Mau yg lebih upbeat dan riang? Ada Kamu saja. Atau Inspirasi sahabat yg sudah wira-wiri sejak tahun lalu, salah satu lagu soundtrack film Bangun Lagi Dong Lupus. Lagunya groovy dan nendang banget, sayang aja beat dan melodi di bagian reff-nya mirip Teenage dream-nya Katy Perry. Kebetulan? Terinspirasi?

Terus masih ada rekaman ulang Aku yang tersakiti (feat. Judika who sings on a higher key than Tantri) sebelum lagu Rise and fall (feat. JFlow) menutup Never Dies dengan apik.

All in all, great album. Paket komplit, ada yg temponya pelan, sedang, dan cepat. Ada yg temanya cinta, persahabatan, nasionalisme, sampai politik (momentumnya pas banget!). I enjoyed most songs, Rise and fall is skippable and only Aku percaya pilihanku is a miss for me. If they say it is their best full-length studio album to date, well trust them on that.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s