Posted in Citizenry

Masih seputar pilpres 2014

Pers boleh memihak, tapi pemberitaan harus tetap mengacu pada kebenaran.

Ga ada salahnya memihak salah satu calon, toh hak pilih pemburu berita ga hilang layaknya anggota TNI-Polri, apalagi jika ia bekerja di perusahaan yg jelas-jelas bias ke salah satu pihak. Tapi ya tolong tetap menjunjung tinggi etos dan profesionalitas kerja. Berita yg Anda sampaikan merupakan sumber informasi dan referensi khalayak, apa jadinya kalau yg Anda sajikan justru jauh dari fakta, sekadar spekulasi tak berdasarkan data, atau parahnya lagi sepenuhnya kebohongan?

Tinggal 2 minggu lagi menuju pilpres 9 Juli 2014, kampanye makin getol, gencar, dan panas. Tentunya kita ingin makin banyak pihak turut berada di pihak yg sama, tentunya kita berharap calon yg kita dukung menang, dan sah-sah aja membeberkan kelebihan atau kekurangan calon ASAL kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan… tapi kok ya makin ke sini makin banyak pemberitaan dan penyebaran hal-hal yg ga jelas juntrungannya (dan mudah dipatahkan argumennya).

Kok situasinya jadi kayak gini sih???


[sumber: facebook Ezki Suyanto]

Gue kebetulan lagi buka tvOne saat hasil survei (aspal) di atas dibacakan oleh pembaca berita cewek sekitar jam 5 sore. 54% lawan 41% kalo gue ga salah denger/inget. Cukup kaget dengan jarak yg cukup besar, apalagi ini digadang-gadang berasal dari situs CNN, tapi gue ga gitu ambil pusing. Gue selalu skeptis dengan survei-survei yg banyak beredar tentang calon mana yg lebih unggul.

1) Hasilnya selalu berbeda-beda — di MetroTV yg unggul ya Jokowi, di tvOne ya Prabowo; 2) Ga jelas siapa yg bikin, siapa yg disurvei, kapan diadakannya, apa pertanyaannya, berapa banyak respondennya, berapa margin of error-nya, seberapa akurat hasilnya, dll; 3) Gue ga merasa hasilnya akan berpengaruh banyak. Emang swing voter atau yg pada belom mengambil posisi bakal nentuin pilihannya hanya berdasarkan calon mana yg keliatannya lebih unggul di periode dan hasil survei tertentu? *semoga aja jawabannya engga.

Dan kalau benar hasil survei CNN ini membajak survei pemilu AS tahun 2008 lalu antara Obama dan McCain, apa jadinya kredibilitas tvOne sebagai stasiun berita? Emang informasi yg masuk ga diverifikasi dulu?

Masa kita se-desperate itu ingin menaikkan elektabilitas yg satu dan menjatuhkan yg lain?
Apa harus menghalalkan segala cara yg penting calon pilihan gue menang?
Ga bisa apa kita sportif dan bersaing dengan sehat?

Susah apa mengalokasikan waktu yg kita luangkan untuk mencari kebobrokan pihak sebelah ke menyebarkan prestasi dan pencapaian pasangan calon yg kita pilih? Biar kita bisa memilih yg terbaik dari yg terbaik, bukan yg paling mending dari yg ada.

Salah satu dari dua hal lain yg kemarin menjadi sorotan adalah pemberitaan media Jerman Spiegel yg menyoroti pakaian mirip komandan militer Nazi yg dikenakan musisi penuh sensasi Ahmad Dhani di video lagu dukungan untuk pasangan Prabowo-Hatta dan implikasi negatifnya. Lagu ‘modifikasi’ We will rock you tersebut kabarnya belum mendapat izin guna dari si empunya, Queen.

Gue lupa sumbernya, tapi gue pernah baca/denger ucapan yg isinya kira-kira begini: kita adalah pribadi, individu yg mewakili diri sendiri, tapi begitu kita melangkahkan kaki keluar dari rumah, kita membawa nama baik keluarga di pundak kita. Kita boleh mikir “ah, gue cuma satu dari 250-an juta orang di negeri ini, apalah artinya gue,” tapi satu ucapan atau perbuatan tidak sensitif dan tanpa pikir panjang kita bisa mencoreng nama baik negara di mata dunia internasional.

Artikel kedua yg tak kalah kontroversialnya adalah mengenai isi wawancara anonim yg dilakukan jurnalis asal AS Allan Nairn di bulan Juni-Juli 2001. Narasumbernya saat itu kabarnya tak lain dan tak bukan adalah Prabowo. Ia membeberkan komentar yg dilontarkan Prabowo mengenai fasisme, demokrasi, pembantaian oleh tentara, juga pendapatnya tentang Gus Dur, presiden yg menjabat kala itu. (Ia kemudian menegaskan bahwa apa yg ditulisnya benar adanya, dan siap menghadapi Prabowo di pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik jika beliau ingin menyangkalnya).

Dua hal di atas kemudian menjadi topik artikel di TIME.com. Saking panasnya, si penulis sampai mendapat serangan di twitter. Ya ampunnn~~ *facepalmfacepalmfacepalm

Ngikutin pemberitaan dan updet terbaru aja udah memeras tenaga (dan) pikiran, apalagi ikut-ikutan perang komen di setiap artikel atau postingan yg beredar. Gue sih milih fokus sama pilihan gue aja karena setiap berita miring mengenai pihak sebelah pasti akan langsung dilabeli kampanye hitam tanpa dilihat dulu apa isinya. Bagi gue, mau ada omongan atau pemberitaan apapun ga akan mengubah pendirian gue. Makanya gue ga naif ngarep orang lain yg baca opini gue ini akan mendapat pencerahan dan ganti haluan.

Hal ini cuma akan ngaruh bagi mereka yg masih labil, yg jumlahnya ga sedikit, dan mudah kemakan propaganda yg dilepas pihak-pihak yg ga bertanggungjawab. Tapi kita kan generasi muda, yg tumbuh dengan teknologi. Arus informasi udah sedemikian rupa, tinggal pencet semua bisa dicari dan dilacak, masa iya kita menelan bulat-bulat apa yg kita lihat dan dengar tanpa cek dan ricek? Bagi yg ga gitu melek teknologi, informasi dan data ga hanya bisa didapat melalui internet kok, ikutin aja pemberitaan di tv dan media yg lebih netral.

Buka mata, buka hati, buka telinga. Jangan mudah terhasut. Tentukan pilihan bukan karena ikut-ikutan, sok loyal-loyal-an atau hal tidak signifikan lainnya, melainkan karena kita benar-benar yakin sosok tsb ialah sosok yg bisa membawa perubahan positif untuk negeri ini.

*

Di postingan sebelumnya gue bilang kalo gue condong ke video daripada tulisan, tapi harusnya pencarian ga berhenti di situ. Contohnya debat capres(-cawapres) yg udah sampe ke ronde ke-3. Ga cukup nonton aja, kita masih perlu cari tau bener ga apa yg mereka ucapkan di depan moderator dan disaksikan jutaan pasang mata rakyat Indonesia. Waktu 3 menit ga akan cukup menjabarkan visi-misi dan menjawab setiap pertanyaan dan menanggapi setiap pernyataan dengan detil, harus dicek apakah yg terpampang saat itu dan di belakang layar konsisten dan sejalan.

Ngomong-ngomong soal debat, gue masih ga ngerti fungsi moderator yg di dua ronde ini dipegang ahli tema yg dibahas malam itu dan bergelar profesor dari universitas ternama. Apa sang moderator pembuat pertanyaan? Karena dia ga menanggapi pernyataan yg terlontar atau mengejar penjelasan dari jawaban yg ga menjawab pertanyaan. Cuma duduk dan membacakan pertanyaan ke kedua calon dan bilang, “silakan dijawab, waktu Anda … menit” atau “silakan menanggapi, waktu Anda …. menit). Kalo gini caranya mah mending pake MC atau pembawa acara berita yg udah biasa memandu dan menengahi adu diplomasi macam ini. Biar ga datar dan ngebosenin.

Mengutip kata Deddy Corbuzier saat datang ke Mata Najwa 18 Juni 2014: “Ini kampanye. Bukan sudah terpilih. Kalo udah terpilih masih gitu ga? Kan kita ga tahu…”

Yup. Keduanya ga sempurna. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan. Tapi Ahok di acara yg sama Rabu kemarin mengutip ucapan Abraham Lincoln dalam memilih pemimpin yg pintar, jujur, dan kerja (lebih) baik:

“Tapi Anda jangan ditipu. Teori Abraham Lincoln mengatakan karakter sejati seseorang baru teruji kalo dia dikasih kekuasaan. Kalo orang belum pernah berkuasa, ngomong apapun kita udah sering ditipu kok. Sejak reformasi kita sudah lihat segala jenis orang yg hebat-hebat, ga ngelakuin apa-apa tuh di negeri ini.”

That’s the scary part, isn’t it? — whether or not they’ll deliver, the possibility that it’s all smokescreen.

Atau alasannya menyerahkan tugas pembersihan tugu Monas ke perusahaan Jerman Kaercher daripada perusahaan lokal: “Kalo ga pernah teruji Monas rusak gimana? […] Saya takut dong. Ini Monas cuma punya satu kalo rusak gimana?”

Kalau soal membersihkan tugu Monas aja Ahok aja ga berani mempercayakan kepada pihak yg belum berpengalaman dan teruji kualitasnya, gimana sikap kita dalam memilih presiden? Kita ga bisa kan bilang, “ya udah coba dulu deh jadi presiden seminggu, kita nilai bener bisa kerja ga.” Ini ibaratnya barang yg sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan karena alasan apapun.

Best-case scenario sih punya pemimpin yg seperti ini:

“Ketika ada orang baik yg terpercaya menjadi pemimpin di sebuah wilayah, apa yg terjadi di wilayah itu? Perasaan ada orang bertanggungjwb sedang kerja di sana. Perasaan itu wujud. Apakah orang itu akan menyelesaikan semua masalah? Tidak. Apakah orang itu akan menyelesaikan masalah dalam waktu sesingkat-singkatnya? Tidak. Tapi ketika ada problema-problema baru, maka rakyat tidak mengeluh. Kenapa? Karena dia tahu pemimpinnya sedang kerja.

Republik ini membutuhkan suasana itu. Lihat Jkt banjir. memang Jkt begitu ada Pak Jokowi banjir selesai? Engga, masih ada. Tapi liat suasana di twitter, apakah gubernurnya menjadi sasaran komplein? Tidak. Kenapa? Karena orang tau he’s working out there. He’s working to fix the problem.”

~ Anies Baswedan, 18 Juni 2014

My thoughts exactly. Gue pernah menuliskan opini yg intinya sama dengan yg diutarakan di atas. Terlepas dari masalah ibukota yg belum teratasi (terutama soal macet dan banjir), mungkin untuk pertama kalinya gue senang mengikuti pemberitaan/peliputan gubernur-wagub di media dan ngerasa sedikit tenang karena gue percaya penuh mereka sibuk bekerja mencari pemecahan atas setiap permasalahan yg ada, dan melaksanakannya. Pada akhirnya gue cuma pengen hidup di kota dan negara dengan kondisi yg lebih manusiawi, yg memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram.

_
Bagi kamu yg ngebaca tulisan aku sampai sini, aku cuma bisa bilang sebisa mungkin jangan golput. Kalau memilih, pilihlah dengan bijak, pake hati, dan dengan kepala dingin. Kalaupun akhirnya tetep memutuskan untuk ga memilih, paling engga tetaplah datang ke TPS dan mengunakan hak pilih kamu supaya surat suaranya ga bisa disalahgunakan pihak-pihak yg mengambil keuntungan dari ke-golput-anmu.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s