Posted in Citizenry

Because it is the right side

Pilpres 2014 sudah di depan mata, sulit rasanya untuk tidak berbincang-bincang soal politik, terlebih lagi setelah ‘debat’ capres-cawapres yg disiarkan secara langsung minggu lalu. Kecuali ada yg cukup apatis untuk ga peduli dengan ‘pesta demokrasi’ 5 tahunan ini. Ga bisa disalahin juga sih mereka yg pada antipati, secara politik di sini tahu sendiri kayak apa.

Kenapa pake tanda petik? Karena yg ditampilkan kemarin bukanlah debat, tapi lebih ke arah adu pidato dengan pernyataan serba diplomatis dan teoritis – oleh salah satu kubu aja sih lebih tepatnya. Dan pesta demokrasi apanya kalau masih banyak yg ga bisa ikut berpartisipasi dan menggunakan haknya karena masalah pendataan dan distribusi yg acak kadut, serta hasil yg bisa dibeli dan dimanipulasi? Well, politics in politics…

Anies Baswedan berkata:

“Jangan ambil posisi diam; mendiamkan. Mereka-mereka yg baik akan kalah jika orang-orang lain memilih untuk diam – karena itu kita harus bantu. […] Mari kita terlibat, mari kita turun tangan, mari kita pilih. […] Jadi saya melakukan ini sebagai kesadaran sebagai warga negara, saya ambil sebuah pilihan yg saya tidak punya beban untuk menjelaskan dan saya yakin bila saya sampaikan alasannya masuk akal dan bisa dipahami oleh semuanya.”

(Mata Najwa, 28 Mei 2014)

Atau merujuk pada ucapan Wanda Hamidah yg di-post FB Revolusi Mental berikut ini:

So here are my takes:

Let’s focus not on whom we don’t want, but rather on whom we want to see as our president.

4 Rabu lagi, penduduk Indonesia yg berusia 17 tahun ke atas berkesempatan untuk kembali memilih secara langsung siapa yg akan memegang jabatan RI1-RI2 untuk setengah dekade ke depan. Hak pilih ada, digunakan atau tidak adalah pilihan dan kesadaran masing-masing; menurutku, memilih tidak hanya sebagai hak tetapi juga kewajiban kita sebagai warga negara, stakeholder tertinggi di negeri ini. Mungkin ada yg berpikiran pemilu itu hanya buang-buang waktu, siapapun yg memang ga akan ada bedanya (eits! sapa bilang?), atau suara kita yg cuma satu ga akan ngaruh (seperti yg dinyanyikan di video Pemiyuk di bawah), tapi di sistem voting, yg menang kan yg mendapat dukungan 50% + 1?

Ditilik dari pemilu legislatif April kemarin, aku mengantisipasi adanya 3 pasangan yg maju ke babak pemilu presiden, ternyata kita ‘hanya’ diberikan 2 pilihan – Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK; #3 bagi yg tetep keukeuh golput. Makin ke sini makin terlihat siapa dukung siapa, meski jumlah pasangan calon yg mengerucut jadi dua bukan berarti prediksi siapa yg akan terpilih nanti jadi lebih mudah. Politik bukan matematika dimana 1+2 pasti jadi 3. Di politik 1+2 bisa jadi berapa aja – bukan jaminan persentase yg didapat di pileg kemarin akan merepresentasikan jumlah yg akan diraup di pilpres mendatang.

Ada banyak faktor yg menentukan antara lain 1) partai – dan partai pendukungnya, 2) capres, 3) cawapres. Di pileg kemarin rakyat memilih partai dan mereka yg akan duduk di DPR, DPRD, dan DPD (did we really know any of them though?), kini yg dipilih adalah presiden, yg rasanya akan lebih cenderung ke penilaian individu daripada partai-partai yg mengusungnya. Suka partainya, bisa jadi ga sreg sama partai lain yg merapat atau sosok yg ditunjuk jadi capres atau cawapresnya, atau sebaliknya. Bahkan anggota partai sendiri ada yg secara terbuka mendukung pasangan capres-cawapres sebelah. Pada tahap ini siapa jauh lebih penting dan berpengaruh dibanding partai apa. Mau dari partai manapun, yg penting calon pemimpinnya punya kredibilitas dan kemampuan yg jelas dan telah teruji.

Ada yg menganalogikan pemilu dengan ajang pencarian bakat yg habis-habis diadakan stasiun2 tivi. Sama-sama menggunakan sistem voting, yg meraih suara lebih banyak keluar sebagai pemenang, di mana kadangkala yg lebih berbakat dan berkualitas kalah unggul dari yg populer atau yg jago meraih simpati penonton. Bedanya, ajang-ajang tersebut menunjukkan kemampuan peserta sebelum penonton diberi waktu mengirimkan sms, di pemilu kita diharuskan memilih dulu tanpa tahu pasti apa yg dipilih benar-benar seperti apa yg digadang-gadangkan — kecuali ada track record-nya. Ibarat beli kucing dalam karung, kita ga tau apa yg didapat sebelumnya – kemampuan/kualitas kepemimpinan, akankah janji-janji dan program-program yg diumbar selama masa kampanye akan dilaksanakan baru akan diketahui jawabannya setelah sang juara dilantik.

Aku sendiri lebih suka menganalogikan pilpres dengan perekrutan CEO misalnya, di mana masyarakat bertindak sebagai pemegang saham, pewawancara, dan pengambil keputusan. Tentunya kita ingin merekrut pelamar terbaik. Tentunya kita ga asal comot dan memilih hanya berdasarkan tampang, popularitas, atau sentimen pribadi. Pengalaman, skills, serta kelebihan-kekurangannya harus ditinjau dan diverifikasi. Sampai ke bibit-bebet-bobot-nya kalau perlu. Jangan sampai kepincut kandidat yg terlihat kompeten, jago bicara dan ‘menjual diri’, ternyata tong kosong nyaring bunyinya.

Behavioral interview questions juga penting untuk ditanyakan, untuk mengorek dan menentukan apa kandidat benar-benar memiliki apa yg mereka ucapkan mereka miliki dan mengetahui bagaimana sikap dan tindakan mereka terhadap situasi tertentu di masa lampau. Dari situ kita bisa menilai keputusan apa yg akan diambil jika dihadapkan pada situasi serupa di masa mendatang, dan apakah dia adalah orang yg kita cari untuk memimpin perusahaan ke arah yg kita tuju. Kita yg menentukan apakah visi misi, program, dan cara kerja mereka sejalan dengan cita-cita kita.

Tapi kan kita ga sedang mencari idola baru yg kalau lagunya ga bagus ga perlu beli atau CEO yg kalau kinerjanya ga memuaskan bisa diganti. Kita mencari presiden dengan kontrak 5 tahun yg hampir ga bisa diganggu-gugat. Masa kita mau coba-coba atau percaya hanya dengan kata-kata? Lidah tak bertulang loh.

Jujur aku ga membaca dan mengikuti setiap berita politik dan perkembangan yg ada. Selain meragukan kenetralan penulis, aku juga selalu mempertanyakan keakuratan berita yg disajikan. Gimana engga, stasiun tivi berita saja milik petinggi partai tertentu sehingga berita-berita yg ditayangkan ga lepas dari bias politik. Berita bisa dicari, data bisa dibuat, fakta bisa dimanipulasi, kebenaran pun bisa diputarbalikkan. Sejarah aja ditulis oleh dan dari sudut pandang pemenang. Makanya aku lebih suka nonton liputan berita dan wawancara – atau debat terbuka kemarin misalnya. Bebas dari narasi memihak yg sinis serta opini pembuat berita yg suka mengada-ada dan memojokkan. Yg terpampang di layar kaca ya kenyataan yg ada. Si A ngomong B. Bener engga, jujur engganya ya silakan diselisik sendiri.

Sampai detik ini pun aku ga tahu secara detil visi misi dan agenda kedua pasangan. Penting tapi ga krusial. 3 hal di atas kan yg dijual ke publik, isinya pasti positif-positif semua dan ga akan jauh beda satu sama lain. Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tau? Lain di mulut lain di hati. Hal yg paling utama adalah memilah dan mengidentifikasi mana yg tulus dan mana yg hanya akal bulus, mana yg benar-benar ingin berbakti mana yg hanya demi dapet kursi, karena setelah terpilih akan sulit dimintai pertanggungjawaban atas janji-janji yg ga terealisasi.

Dari debat terbuka yg disiarkan secara langsung, dapat dilihat gaya, karakter, dan pembawaan tiap calon. Juga terlihat mana yg jawabannya teoritis mana yg realistis, mana yg mengambang mana yg mengarah, mana yg muter-muter mana yg mudah dipahami, mana yg baru akan-akan mana yg sudah pernah melakukan, menerapkan, dan menjalankan. Yg jago ngomong dan mengumbar janji (apalagi menyangkut ka-ching) tentunya lebih persuasif dan menggiurkan, tapi hari gini rasanya itu bukan prioritas utama deh. Jauh lebih penting pemimpin yg peduli dan pro-rakyat (wakil rakyat seharusnya merakyat toh?), yg memberikan bukti bukan janji, yg sedikit bicara banyak bekerja. Actions speak louder than words. Lead by example. Pidato, debat, pemaparan visi misi dan agenda kerja, pernyataan keyakinan dan tekad intinya sekadar wacana dan retorika semata, dan ujung-ujungnya yg paling penting adalah realisasi. Bener bisa dijalankan atau cuma janji surga? Bener bisa dicapai atau cuma mimpi besar?

Menurut Jokowi, “Ini hanya masalah niat atau tidak niat, mau atau tidak mau.”

Kesimpulannya:
– Akan vs Sudah
– Orasi vs Bukti
– Retorika vs Hasil Kerja

“Don’t you know that above the person who runs is the person who flies?”
“Don’t you know that above the person who flies is the one who’s ardent?”
~ You’re All Surrrounded (K-drama) Episode 5 ~

_
Bagi yg belum menentukan pilihan, atau yg ingin memantapkan pilihan, Mata Najwa episode Jokowi Atau PrabowoRonde 1: Debat Capres-Cawapres (Tema: pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum), dan Ronde 2: Debat Capres (Tema: pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial) kemarin bisa dijadikan titik awal yg baik.

Tulisan di atas murni opini, kalau nyari yg ada data dan referensinya, boleh cek yg berikut ini:
– Pilih dengan bijak, jangan ikut-ikutan orang lain, meskipun dia orang yg kita segani. — uh-huh
Arisan kekuasaan yg rasanya ga mengubah apa-apa, sampai — yg ini cukup vokal.
Malu punya pemimpin yg pro-rakyat dan hobi blusukan? — Sumpe lo???
Nasib demokrasi kita — dalam Bahasa Inggris, cukup panjang, tapi patut dibaca dan jadi bahan pertimbangan. Think again.

 

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s