Posted in Foodie, Review

Puas makan di Waroeng SS

Meski rumah makan sederhana ini sudah memiliki lebih dari 50 cabang yg tersebar di banyak kota di Pulau Jawa dan Bali, baru kali ini aku mampir ke cabang terdekat, Tanjung Duren. (Deket rumah sih, tapi daerah macet punya; tempat makan berjejer, tapi lahan parkirnya sempit) Itupun karena penasaran sama embel-embel ‘sambal’ dan ‘pedas’ plus karena keramaian pengunjungnya. Telat banget yak?

Lokasinya sendiri ga jauh dari pertigaan Tanjung Duren Barat (yg kalo belok kiri ke arah Greenville) menuju Tanjung Duren Raya. Sampai sana sekitar pk 18:30 dan baik lesehan maupun ruang makan biasa (lengkap dengan meja kursinya) sudah hampir penuh. Namanya memang ‘warung’, tapi tempatnya lebih ke arah restoran rumahan satu lantai bermodal kipas angin di beberapa titik. Ga masalah sih, cuma kemarin hawanya lagi ga adem jadinya berasa panas dan pengap. Lain kali kalau bisa mau pilih meja yg deket pintu masuk ah…

DSC_0262

“28 sambal, 22 lauk, 11 sayuran, 24 minuman. PEDAS ABIS!!” bunyi papan namanya. Ngiler? Yuk masuk~

Menu Waroeng SS (Spesial Sambal) sendiri tipikal makanan warung. Lauknya didominasi segala sesuatu yg digoreng: ayam (broiler), sapi, ikan, belut, tahu/tempe, babat/iso/rempelo ati, udang/cumi, jamur, dll (ini mah ditulisin semua) dengan kisaran harga 3,5~11rb per porsi; sayurnya ada pecel, plecing, lalapan, sayur asem, dll (2,5~5rb); minuman dari teh, jeruk sampai aneka jus (1,5~9rb). Milih makan minum sih gampang, yg bikin bingung adalah milih sambalnya. Dari namanya ada yg mudah ketebak (contoh: sambal terasi, tomat, bawang), ada yg kalo ga dijelasin ga bakal ngerti itu sambal apaan (contoh: sambal bajak, tubruk, dan gobal gabul) yg dibanderol 1,5~6rb per ulekan.

Pesanan keluarnya lumayan lama, maklum 1) restoran sedang ramai, 2) katanya makanan dimasak setelah dipesan — cook to order. Berdasarkan booklet tipis dan tergeletak di meja, disebutkan lauk cepat jadi (tinggal goreng aja kali ya?), tapi untuk sambal atau telor ceplok/dadar misalnya bisa lama. Disarankan untuk ga mampir saat lagi laper berat atau ga sabar nunggu 😉  Untungnya semua pesanan keluar di saat yg bersamaan — bete ga sih nunggu 1~2 menu terakhir yg luamaa banget keluarnya? — disajikan di atas piring cobek mini dari tanah liat.

Porsinya sih kecil, tapi kalau pesan banyak macam, bisalah untuk dishare semeja. Ditambah lagi harga yg nyaman di kantong, boleh lah kalap dikit… Hasilnya kayak lagi di restoran padang gitu, bedanya semua piring yg tersaji di depan mata boleh diicip! Babatnya empuk, bumbunya nyerep. Sayurnya boleh lah. Lauknya ga digoreng terlalu kering, jadi masih renyah dan ga keras, tapi cenderung kurang rasa. Di sinilah kegunaan sambal; cocol dikit, terutama sambal korek brambangnya, beuhh~~ Ada aroma apaa gitu yg enak banget — efek campuran kemiri? Mantap walaupun kurang pedas menurut lidahku. Tingkat kepedasannya bisa request ga ya?

(Foto menyusul, bakal diambil pas mampir lagi. Kemarin terlalu lapar jadi makanan yg dateng langsung diserbu, ga sempet jeprat-jepret dulu, hehe…)

Makanan oke, sambal jempol, harga bersahabat. Pesan 11 piring termasuk sambal dan minum (ga termasuk piring nasi) totalnya ga sampai 100rb. Perut senang, kantong ga bengang! Alamat balik lagi dalam waktu dekat nih…

Haruskah judulnya diganti “Puas nyambel di Waroeng SS”?

Selamat makan, eh, nyambel~ :DD

_
Untuk menu selengkapnya, jelajahi websitenya.
Untuk daftar harganya, intip di zomato.com.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

2 thoughts on “Puas makan di Waroeng SS

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s