Posted in Citizenry

Lotte Shopping Avenue: Asmat vs. K-pop stars

Kemarin sore menyempatkan diri mampir mall yg baru mengadakan grand opening 22 Juni kemarin: Lotte Shopping Avenue, Ciputra World 1, yg berlokasi di seberang ITC Kuningan. Sudah menjadi rahasia umum kalau salah satu pilihan hiburan/refreshing warga Jakarta adalah jalan-jalan ke mall. Seolah belum cukup banyak mall dan ITC serta pelbagai shopping center yg tersebar dan/atau terkumpul di ibukota, tetap aja bermunculan mega-proyek/-gedung baru. Lotte Shopping Avenue (yg disingkat LOVE) mungkin bukan mall ter-gres yg ada, namun adalah tempat terbaru yg ku kunjungi di antara sekian banyak nama tempat belanja baru lainnya yg belum familiar di telinga.

Ngomongin dah tuh rakyat susah, gaji ga memadai, kesenjangan sosial, angka pengangguran blablabla, kenyataannya Jakarta penuh dengan warga yg hidup serba berkelebihan. Siapa yg sanggup membeli dan menghamburkan ratusan ribu hingga jutaan uang untuk produk (merk) tertentu di pusat perbelanjaan mewah yg terdapat di berbagai sudut dan titik kalau bukan kalangan menengah ke atas dengan dispensable income mereka yg seolah ga berbatas? Yahh, yg kaya banyak yg miskin bejibun; yg kaya makin kaya, yg miskin mah tetep aja miskin. Tinggal masuk golongan yg manakah kita.

Sebelum beleber lebih jauh… LOVE tak ubahnya puluhan mall lain yg pernah kusinggahi. Menilik dari lokasinya di Kuningan, salah satu lokasi prime/prestigious, mudah diduga pangsa pasar yg diincar. Mungkin bedanya adalah nama yg digunakan – Lotte – yg lebih mengarah ke, tau lah ya, Korea. Lotte Mart pastilah tau, Lotte Duty Free dan Lotte World juga mungkin terdengar familiar, lalu Lotte Shopping Avenue? Kedengarannya seperti one-stop-shopping untuk segala hal mengenai Lotte2 lainnya. Tapi kalau dibilang ini adalah surga bagi mereka yg pecinta atau berkiblat ke negeri ginseng tsb rasanya engga juga – mayoritas toko yg ada ga berpapan nama hangul atau berlabel merk terkenal dari sana.

Entahlah. Mesti telah menggelar grand opening bertepatan di hari jadi kota Jakarta ke 486 serta menghadirkan figur kenamaan Korea dua setengah minggu yg lalu, operasionalnya belum berjalan sebagaimana mestinya. Lahan parkir terlihat belum ‘jadi’ betul karena masih penuh debu dan beberapa bagian terlihat masih diberi pembatas. Juga ga ada papan penunjuk arah pintu masuk mall. Cari punya cari, ruangan bereskalator di P9 masih out of access. Kemudian kami ditunjuk ke arah berlawanan di mana ada 2 elevator di sana.

Ruangan kecil di depan lift tidak dilengkapi dengan ventilasi yg memadai sehingga baru sekian menit berdiri menunggu datangnya satu dari dua lift yg tersedia sudah berasa pengap dan sesak nafas. Jumlah lift yg hanya dua dibanding banyaknya pengunjung, serta kapasitas lift yg hanya 15-an orang jelas tidak seimbang. Pergerakannya pun lelet bukan main. Ga tahan nunggu, kami mencari lokasi lain yg ada eskalator atau minimal tangga… Lift masih berjumlah dua namun kita memutuskan untuk turun lewat eskalator yg belum jalan, penuh debu, serta masih diberi palang. Sungguh bukan pemandangan yg menyenangkan atau pun diharapkan dari sebuah mall yg baru saja kujelaskan di awal paragraf sebelumnya.

Untuk bagian dalamnya sendiri baru ¾ yg sudah beroperasi penuh, sisanya entah masih under construction, coming soon, atau tanpa alasan yg jelas masih tutup meskipun sudah ada staff/pekerja yg ngobrol di dalamnya. Termasuk kids play area di lantai paling atas. Para orang tua yg sengaja mengajak anaknya untuk main di sana pasti kecewa. Di setiap lantai juga terdapat floorplan beserta informasi apa yg ada di level lainnya seperti women’s, men’s, kids’, sports, dll (think: department store satu mall penuh). Hal lain yg menonjol adalah pertokoan yg berkonsep open-display tanpa ‘pagar’ kaca ataupun satu-dua poin keluar masuk. Para SPG harus ekstra jeli supaya tidak ada barang yg hilang dicomot-sambil-lewat pengunjung – just sayin’

Sampailah di satu sudut di mana terdapat pin-up (standing) poster dari para personel Suju, SNSD, serta Hyun Bin, yg ramai dikerubutin pengunjung (tua muda, cewek cowok) untuk berfoto ria. Tepat di kirinya adalah blok tentang Suku Asmat. Spacenya terang benderang, banyak ruang lapang di dalamnya – terlihat lebih seperti pameran daripada toko permanen dilihat dari penempatan barang pajangan (sebagian besar ukiran dan poster) beserta penjelasannya (tanpa pricetag), juga adanya seorang dari suku tsb(?) di kiri depan berpakaian khas Papua lengkap dengan lukisan tubuh sedang memahat sepotong kayu – dan tak seorang pun mampir atau tertarik pada apa yg ditawarkan. I mean, the crafting man, displayed information and goods from a local tribe, and big “I [heart] Asmat” statement – don’t they grab your attention and stir curiosity?

Action speaks louder than words. Dan itu ga bisa bo’ong. Jawaban atas pertanyaan “manakah yg lebih menarik perhatian masyarakat – budaya sendiri atau budaya luar yg sedang hip?” terlihat jelas. Cukup miris sih melihat betapa hebohnya orang rela gantian foto bareng figur artis Korea dalam berbagai pose meski hanya posternya saja (pun di samping poster raksasa/plakat cap tangan plus tandatangan artis tsb yg terpajang di depan Lotte Duty Free, yg disebut Star Avenue) sedangkan manusia beneran dari negeri sendiri yg sedang memahat karya seni ga dilirik barang sedetik pun.

Aku ga tau jelas apa maksud dan tujuannya, apa cuma pameran atau gimana, tapi di kanan depan ruang terdapat banner yg menawarkan bikin perangko pribadi bertema Asmat atau bisa foto menggunakan pakaian adat mereka. Dan selesai melihat2 bentar ukiran dan penjelasan yg ada, di depan sudah ada beberapa orang yg berkerumun melihat si bapak pemahat atau menjepret2. That’s good~

Tips: berhubung eskalator di dalam mall bertebaran di berbagai sudut, supaya gampang nyari jalan pulang ke lokasi parkir kendaraan setelah puas berkeliling — ga harus menuju dan keluar gedung dari titik yg sama — hafalkanlah nama elevator/lift yg anda gunakan untuk naik/turun memasuki gedung. That would help A LOT.


All in all, LOVE is just like any other mall out there. Nothing’s strikingly different tho’ not quite as deluxe and spacious as those in Sudirman. I deliberately dropped by shortly after the opening because one would argue that it’s the best time to visit a place as the service is ensured at the highest level possible and service personnel are as eager as they can be to serve, because well, it’s a new establishment we’re talking ‘bout. Gotta create good first impression, right? LOVE falls short in that regard. It feels as if it’s still at its soft-opening phase, not post-grand-opening stage. I remember Grand Indonesia or Living World being more ‘ready’ and polished than this even when half to tierce of the spaces weren’t occupied yet.

Talking ‘bout first impression, i think the management tries to tackle that aspect well. Upon exiting the premise well after paying the hourly park rates and spiraling down the lane, i noticed two gals standing on each side of the ticket box at an entrance then saw and passed one standing near the exit who bowed to us and mouthed a thank you. Wew. We didn’t see one upon entering and many have argued that last impression is much more important than the first does, thus the pretty girl stationed near the exit, but – are they really necessary? Do we really need to be greeted and thanked inside the damn-hot parking lot? Does LOVE need to hire those girls specifically to do this kind of uncalled-for job? I always feel bad for the GROs manning a hotel’s main entrance opening the giant glass doors for visitors, but this is even worse imho.

_
Anyway, sejak biaya masuk* per jam naik 100% dan harga bbm bersubsidi naik 50%, diikuti harga barang kebutuhan hidup lainnya (apalagi sekarang menjelang puasa), secara alami frekuensi jalan2 yg tidak perlu dikurangi untuk menghindari window shopping berujung impulse buying. Sempet mampir sebentar sih ke Uniqlo (anybody knows how to pronounce this brandname?) yg penuh banget kayak lagi sale gede2an aja, dan berhasil keluar tanpa tentengan. Fiuh~ puyeng euy liat orang banyak gitu di satu tempat.

(* lebih pas disebut biaya masuk daripada parkir. Toh meskipun kita cuma sekadar lewat dan ga parkir – atau ga dapet parkir – dan keluar dalam 15-20 menit tetep kena bayar 1 jam pertama.)

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s