Posted in Citizenry

e-Passport

Rutinitas setiap 5 tahun yg harus dilakukan – selain berpartisipasi dalam pemilu – adalah memperbarui/memperpanjang KTP, dan SIM, juga tak lupa paspor. Sebenarnya mengurus paspor lebih dilakukan setiap 4-4.5 tahun sekali berhubung kita sudah ga bisa bepergian kalo masa berlakunya di bawah 6 bulan. Juga bukan ‘memperpanjang’ karena masa berlakunya ga bisa ditambah, tapi lebih ke ‘pembuatan baru’ karena toh kita masih harus mengisi formulir blablabla serta akan mendapat buku baru dengan nomor baru pula.

Ini adalah kali kedua aku mengurus paspor sendiri setelah 5 tahun sebelumnya mengurus di kedutaan berhubung saat itu sedang sekolah di luar. Dan karena sekarang sudah balik ke Indo lagi ya ngurusnya di kanim (Kantor Imigrasi) Jak-bar. Denger2 sekarang bisa apply online, dan juga satu hari kelar – tapi baru bisa di kanim barat dan pusat aja. Trus, ternyata juga ada pilihan bikin e-paspor, yg kegunaannya biar di imigrasi bisa lewat mesin automated clearance, ga perlu ngantri2 lagi.

Tau dong salah satu hal yg bikin bete saat bepergian naik pesawat adalah lamanya waktu yg habis buat ngantri di imigrasi, apalagi di terminal kedatangan? Kalau di negara lain yg banyak dan mengular adalah jalur untuk foreigner, di sini justru kebalikannya. Nah, katanya kalau punya e-paspor, waktu ngantri untuk lewat imigrasi bisa dipangkas.

Pertanyaannya: benarkah secepat itu? Seberapa banyak kah mesin yg tersedia dibanding banyaknya pengguna? Dan se-fungsional dan seefisien apakah alat yg digunakan? Sejauh manakah sosialisasi keberadaan dan cara pengoperasiannya? Dan, poin yg paling penting nih, seberapa tahan bantingkah perangkat yg digunakan? Bukan dari segi harga atau buatan mananya loh ya, itu sih bisa aja asbun, tapi kualitas barangnya – yg bisa dengan mudah dibuktikan dengan waktu.

Bukannya sinis atau skeptis (karena memang iya tapi beralasan) karena banyak contohnya: (1) jalanan yg ditambal lagi, bolong lagi, diaspal lagi, ambles lagi – termasuk jalur khusus busway. (2) bus transjakarta yg barunya kinclong; ga lama kemudian terlihat kotor, lusuh, dan tak terawat, serta karatan dan penyok kanan kiri (the new sets of long-bus model are nice; let’s see how long this niceness lasts). (3) cheap-looking nan berkelok2 halte bus tj yg terlihat bagai onggokan seng di sepanjang jalan – apa kabar mesin pemakan kartu dan sliding door yg awalnya menghiasi poin masuk dan keluar halte? (4) palang otomatis tol yg seringkali tak lagi terlihat naik turun – cape kali ya dipaksa kerja rodi non-stop? xp. Empat contoh cukup ya – you get the picture right?

*Balik ke topik awal yuu~*

Intinya, begitu mendengar penjelasan tentang fungsi e-paspor, pertanyaan ini langsung terbersit di kepala: “e-passport, the latest form of discrimination?” Ga cukup counter check-in dibedain bagi yg beli business-class sama economy, juga pelayanan saat di atas udara, sekarang nambah satu lagi ‘perlakuan khusus’ bagi kaum privileged: lewat imigrasi pakai mesin automated clearance en langsung bablas… Ini berlaku bagi mereka yg mampu, rela, atau sanggup-sanggupin bayar 3x lipat harga normal untuk mendapatkan buku paspor ber-chip demi memangkas waktu di gerbang bernama imigrasi. Dengan catatan mesinnya ga ngadat dan orang2 di depan situ pada ngerti cara makenya *evil grin*

Ini bukan kali pertama aku kenalan sama immigration automated clearance system. Walau belum pernah lewat situ – ya iya lah – sudah beberapa tahun terakhir ini aku tau dan liat kalau imigrasi di Changi sudah memberlakukannya. Dan ternyata wacana tentang e-paspor di dalam negeri sendiri sudah mulai dibahas dan digembar-gemborkan sejak 2010 silam dan mulai diterapkan sejak 2011 dan sekarang masih dalam tahap percobaan dan sosialisasi karena baru tahun 2015 mendatang penggunaan dan kepemilikannya diwajibkan. (Telat banget yak gue?) Baru aja ngoceh2 soal kaum privileged dan diskriminasi serta mau beragumen kalau memang pengamanan dan sistem baru ini mau dijalankan it should be made available, accessible, and affordable to and by everyone, terus nemu kabar ini.

Kenapa? Berdasarkan artikel2 yg kubaca, di 2015 hampir semua negara akan menerapkan sistem ini, jadi kalau kita ga punya e-paspor bakalan susah – bahkan ga bisa – masuk ke negara lain. Apa ini artinya mulai 2015 seluruh dunia kompakan katakan tidak pada paspor reguler? Apa berarti kita ga akan berhadapan muka sama petugas imigrasi keluar masuk suatu negara? Terus ga pake cap2an lagi? Lah berarti buku paspor cukup selembar aja dong, ga perlu ampe 48 hal? Hmm… *Eits! Visa mau ditempel di mana bu?*

Terus apa ini berarti gue harus bikin paspor baru LAGI dalam waktu 2 tahun? Well, only time will tell. Let’s see if it will work out as planned.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s