Posted in Citizenry

Hoi, antri dong!

Kronologi: selesai isi bensin di salah satu SPBU di Jkt, mobil kami berhenti di jalur pengisian angin untuk ban. Di depan mobil kami ada 2 motor yg sedang menggunakan jasa gratis tsb. Tak lama kemudian, dari arah kiri mobil datanglah motor lain yg menghentikan kendaraan roda dua-nya di belakang 2 motor tadi. Bukan satu, bukan dua, tapi tiga motor menyalip tanpa rasa bersalah dan tanpa memberikan muka ke arah kami. Kami tidak memberikan lampu, tidak juga mengklakson walau dalam hati jelas keki. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10 lewat dan rasanya kesal berlebihan hanya akan merusak moodku di hari yg cerah itu.

Tak pelak kejadian tsb langsung menyulut rentetan ide di kepalaku bagaikan letupan kembang api yg ga bisa diredam…

Remeh memang, tetapi kalau hal kecil macam antri saja ga bisa diterapkan, gimana dengan hal yg lebih besar lainnya? Hal-hal seperti ini adalah budaya yg seharusnya sudah mendarah daging, yg tentunya diajarkan dan dipupuk semenjak kita bahkan belum bisa berjalan atau berbicara. Ya atau ya? Coba deh, apa sih pelajaran pertama yg diberikan ke bayi? Sejauh pengamatan dan pengalamanku, toleransi dan etika dasar semacam minta tolong, maaf, dan terima kasih adalah beberapa contohnya. Kenapa? Karena manusia adalah makhluk sosial, dan dalam banyak segi kehidupan bersinggungan dengan makhluk lain, tidak hanya manusia, dan pengertian tsb penting adanya supaya sesama makhluk hidup bisa hidup berdampingan dengan damai dan kalau bisa tanpa friksi yg tak berarti serta tidak melanggar hak yg lain.

Setuju atau engga, antri adalah salah satu dari sekian banyaknya budaya dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Hal remeh yg sangat mampu menyulut emosi ‘pabila dilanggar. Selain itu, antri juga merupakan bentuk kedisiplinan diri. Mudah memang berbelok sedikit mengikuti arus, cincai lah, toh yg lain juga gitu, jangan sok suci lahh… tantangannya adalah: bisakah mengerem diri ga ikut-ikutan mayoritas? Wrong is wrong – even if everyone’s doing it; right is right – even if only you are doing it (author unknown).

Kita tentunya sering mengeluh kok keadaan kota kita bukannya membaik malah makin ruwet, blablabla… sebelum kita berpikir yg jauh-jauh, mulai dari hal yg simpel-simpel aja. Solusi baru akan berhasil bila membasmi akar permasalahan, bukan cabangnya. Akar dari semua permasalahan tak lain dan tak bukan adalah manusia. Yg baca ini semuanya manusia, kan? Maka, mulailah dari berkaca. “Ngaca dong!” mungkin adalah himbauan – umpatan? – yg terdengar kasar dan memanaskan hati, tapi suruhan itu bener banget. Situasi ga akan berubah kalau ga kita duluan yg berubah. Jangan fokus terus sama semut di ujung lautan tapi menutup (sebelah) mata sama gajah di pelupuk mata. Sebelum mengkritik orang lain, nengok dulu ke dalam, sudahkah kita bersih dari hal yg mau dan akan kita kritik?

Kesel diserobot, sudahkah kita antri dengan tertib? Ribut banjir atau jalanan kotor, sudahkah kita buang sampah — sekecil apapun itu — pada tempatnya? Jalanan semrawut, sudahkah kita taat berkendara dan mematuhi rambu-rambu yg ada? (masa nyebrang di zebra cross masih diklaksonin dengan kalap?) Cuaca dan iklim tak menentu, sudahkah kita peduli alam? (misal: menghemat energi, menjalankan 3R semampunya.) Bayangkan kalau setiap manusia tertib, memiliki toleransi yg tinggi, dan bertanggungjawab atas segala tingkah lakunya – akan senyaman apa jadinya?

Man in the mirror boleh jadi dirilis pada tahun 1998, tapi bukankah isi pesannya masih relevan hingga kini?

I’m gonna make a change,
For once in my life
It’s gonna feel real good,
Gonna make a difference
Gonna make it right…

I’m starting with the man in the mirror
I’m asking him to change his ways
And no message could have been any clearer
If you wanna make the world a better place
Take a look at yourself, and then make a change

<Man in the mirror – Michael Jackson>


Hal besar berawal dari yg kecil.
Bangunan akan kuat bilamana fondasinya kokoh.
Semua bermula dari diri sendiri. Yep! Semudah dan sesulit itu.

_
p.s.
Apa negeri ini harus dirombak dari nol lagi? Hmm…

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s