Posted in Commentary, TV Program

TVI: The Battle week 3

Dari 150 suara yg ditampilkan dalam babak awal Blind Audition, semestinya ‘hanya’ 56 nama yg maju ke panggung The Battle. Namun karena coach dua G melebihi kuota dan ternyata diperbolehkan memboyong masing-masing 15 orang ke babak kedua TVI, mereka pun harus siap menerima pinalti. Apa konsekuensi yg dihadapi mereka itu terjawab di tayangan ini.

1)    Team Armand: Sefrain VS Ferdinand <Bunga – /rif>
(“Apa adanya, mengalir, tidak dibuat-buat.” Well said, well said, Glenn. Karena seperti itulah kolaborasi Sefrain-Ferdinand di babak ini. Mereka tahu di mana harus menempatkan suara sehingga menghasilkan harmonisasi yg melebur dan nyaman di telinga. Hasilnya? Hitherto the best harmony in the competition, from same-gender battle collab. Dengan range vokal dan gaya yg bisa dibilang bertolak belakang, keduanya mampu menyamakan suara untuk dinikmati dengan asyik – tanpa kesulitan, tanpa cela. A thoroughly enjoyable performance.)

2)    Team Glenn: Agnes VS Monika <Biarlah sendiri – Rio Febrian>
(“Baru tau Agnes Monica bisa dibagi dua.” Hahaha. Witty, these coaches of TVI. I love – and kinda miss – their jabs and shrewd one-liners that were rampant in early Blind Audition stage. Anyway, beberapa detik sejak buka mulut, suara bening Monika menangkap semua perhatianku. Enak aja didengernya. Walaupun secara keseluruhan, keduanya tampil kaku dan kelihatan mikir “apa nih nada atau penempatan berikutnya.” Awal-awal ga masalah, tapi menjelang akhir lagu improvisasi mulai kacau balau dan ga nyatu.)

3)    Team Sherina: Rebecca VS Bayu <Panah asmara – Afgan>
*Ups! Belum-belum aku main ngitalic-in Rebecca aja padahal Sherina belum milih. Untung bener xp* (Di VTR katanya keduanya grogian?? Mana?? Rebecca bermain dengan hampir full improvisasi; Bayu stick more to the original tunes. Biasanya ad-lib sebanyak ini ga bagus, tapi ini dilantunkan dengan apik seolah-olah memang itu melodi aslinya. Akibatnya, bagian Bayu terkesan datar dan ‘ngebosenin’. Sayangnya lagi suaranya tenggelam saat reff (kurang power?), padahal dia yg bertugas di nada utama. Good collaboration, nevertheless. Suka banget sama liukan dan tarikan suara Rebecca. Lagunya pun berasa swingy. A keep!)

4)    Team Giring: Karina VS Grevi <Andaikan kau datang – Ruth Sahanaya>
*Ups! I missed the first half of the song – terpesona mantengin tentang resto aneh/unik di channel sebelah hehe* (Idk what happened but the panel panned this performance. Pertama kali keempatnya satu suara bahwa ini ga sreg di mereka. Pembagian yg telah dibuat tidak diikuti, dan yg ditampilkan di panggung berbeda dengan saat latihan sampe2 coach Giring perlu waktu extra untuk mutusin mana yg pantas untuk terus maju. Hmm…jadi ga boleh buat last-minute changes ya? Menurutku sih ok2 aja. Suara Karina powerful dan mirip Uthe; suara kepala Grevi mengambang dan lumayan mengkhawatirkan. Ga bagus gimana, tapi ga jelek2 amat juga.)

5)     Team Glenn: Desy VS Saud VS Tito <Dia – Vina Panduwinata>
(WOW! Ganas! Keren keren keren! What a killer trio. Jamming session yg sedikit bermasalah – pembagian lagu dan penempatan suara yg kurang pas – membuat co-coach Ello harus turun tangan mengubah urutan nyanyi mereka (“Inilah gunanya coach”). Harus berterima kasih nih, karena berkat dia, grup ini mampu menyuguhkan penampilan yg luar biasa menakjubkan. Aku pun ikut bergoyang. Hands down the best performance of the night.)

6)    Team Giring: Abdi VS Joddy <Cemburu – Dewa 19>
(Abdi hampir telat masuk di nada pertama dan Joddy sedikit bermasalah dengan tempo. Aku pun berharap mereka lebih energik karena lagunya udah greng banget. Pembagian lagu juga jelas banget: Abdi-Joddy, Abdi-Joddy, Abdi-Joddy, barengan. Kurang variasi ah. Selebihnya ga ada komplein. Kolaborasi yg bagus walau nyaris tanpa harmonisasi. Abdi lebih ‘hajar aja’ tapi Joddy punya attitude serta expresi/mimik yg sesuai isi lagu. Giring pun kembali komat-kamit sebelum menjatuhkan pilihan. Penutup yg manis walau tidak berakhir manis.)

*) Nama yg miring maju ke babak selanjutnya.


Empat ronde yg mantap di minggu ini. Terutama duet no 3 dan trio no 5. Ga nyangka lagu lama bisa tedengar gres, dan Panah asmara bisa dibelokkin sedemikian rupa. Dan ga gampang menyanyikan lagu milik penyanyi seperti Afgan, yg punya karakter suara yg khas dan nempel banget di setiap lagu2nya, tanpa terdengar seperti atau bisa lebih bagus dari penyanyi aslinya. Dan duet Rebecca-Bayu kali ini boleh jadi salah satu pengecualiannya. Kalau ada high quality mp3 rekaman kedua lagu di atas, mauuu~

Masih sama seperti dua minggu pendahulunya, episode ini punya Duet – atau Trio – Maut Tipe 1, yg masih bikin miris menyaksikan dilepasnya potensi-potensi berbakat seperti Tito dan Joddy – dan beberapa lainnya. Terutama Tito yg masuk grup neraka berhubung ya itu tadi, baik tim Glenn maupun Giring kelebihan satu pemain sehingga ronde pinalti ini harus terjadi. Berarti kita akan melihat satu lagi grup trio di minggu2 mendatang. What if, oh what if…

Tapi ya kembali lagi, TVI adalah ajang pencarian bakat. Kompetisi. Dan pada akhirnya hanya akan ada satu pemenang. Doing good or even great is no longer enough; one gotta shine the brightest at every turn. Lagipula sistem seperti ini bukannya hal baru – toh ajang kompetisi olahraga pun menggunakan sistem gugur. Bedanya di sana lawan ditentukan berdasarkan undian; di sini, coach TVI secara sadar dan terencana memasangkan A dengan B, C dengan D, dst. Nasib, nasib. Yg kalah harus sportif, dan masih harus menyampaikan sepatah dua patah kata kepada para coaches.

Jadiii…setelah berminggu-minggu melihat manusia-manusia bermental baja yg menerima kelengseran dengan luar biasa lapang dada dan ikhlas, di episode ini untuk pertama kalinya kita melihat raw, real human emotions – tears. And Agnes was the first to shed one onstage. Not because she wasn’t tough or bighearted, but regardless, it was a letdown. It was a disappointing turndown. Well, “one man’s misfortune is another man’s gain.”

Hal lain yg berbeda dari sebelumnya, yg merupakan peningkatan, adalah urutan tayang peserta yg mulai mengacaukan grafik kualitas penampilan. Sudah mulai naik turun jumpalitan serasa naik roller coaster. Aforementioned, Abdi-Joddy collab was a sweet closure, but they should’ve put threesome Desy-Saud-Tito last. Had the order been switched, the episode would’ve ended on a bang.

_
Silakan membongkar channel youtube TVI untuk video-video penampilan yg disebutkan di atas.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s