Posted in Off Topic

Analogi Pernikahan

ala Deddy Corbuzier.

Minggu lalu – Selasa(?) – Deddy menjadi tamu di acara talk show yg dibawakannya, Hitam Putih. Kenapa edisi spesial dan pengecualian ini dibuat? Karena yg dibahas adalah topik hangat seputar perceraiannya dengan sang mantan istri Kalina yg baru terkuak di media, meskipun keputusan sah perpisahan mereka telah terjadi beberapa bulan yg lalu.

Kenapa (ini terjadi) dan mengapa (pisah diambil sebagai jalan keluar) adalah pertanyaan paling lumrah yg dilontarkan kepada siapapun yg sedang dalam proses maupun telah melalui proses tsb. Dan “ketidakcocokan” serta “perbedaan prinsip, visi dan misi” menjadi alasan paling klasik dan aman yg bisa diungkapkan oleh kebanyakan figur masyarakat ini. Adanya orang ketiga atau KDRT menempati urutan kedua alasan untuk berpisah, tapi bukan hal ini yg ingin dan akan kubahas di sini.

Mereka tampil berdua di acara tsb, setelah sebelumnya mengadakan konferensi pers yg banyak disorot dan diberitakan media infotainment tentunya, mengisyaratkan bahwa hubungan kekeluargaan di antara mereka tidak terputus dan masih terjalin dengan baik. Komunikasi jauh lebih lancar, ketegangan menghilang, serta tiadanya lagi pertengkaran di antara keduanya (duh! Ya iyalah, udah cerai apa lagi yg masih mau diributin?) membuktikan bahwa perpisahan memang jalan terbaik baik semua pihak yg terkait, terutama untuk anak mereka.

Deddy pun seolah bangga saat Aska anaknya mengiyakan kondisi sekarang lebih disukainya, di mana kedamaian dan ketentraman terasa karena tak ada lagi pertengkaran, membuat gestur yg seolah mengatakan, “See? Ga salah kan gue bercerai? Anak gue aja lebih suka situasi yg sekarang kok.” Tapi ini juga bukan hal yg ingin dan akan kubahas di sini.

Salah satu kalimat paling ‘berkesan’ yg diucapkan Deddy di acara live malam itu adalah pandangannya tentang pernikahan. Yg ia analogikan dengan memancing: “Hal yg menarik dari kegiatan memancing adalah proses memancing itu sendiri, bukan saat mendapatkan ikannya.” Pacaran, oleh karena itu, menyenangkan dan menarik karena itu merupakan proses (menuju pernikahan). Setelah proses itu dilewati, dibutuhkan kedewasaan untuk membuat hubungan itu berhasil dan bertahan.

Tidak dikatakan dengan gamblang, tapi ada kesan bahwa baginya, kehidupan pernikahan tak lagi menarik. Sebuah statement yg cukup mencengangkan dan kontroversial menurutku. Tidakkah ia merasa salah bicara atau telah mengatakan hal yg kurang pantas mengenai pernikahan yg oleh banyak orang dianggap suci dan sakral? Entahlah. Ia juga melontarkan analogi lain – mobil baru kita kalau keserempet pasti rasanya sakit banget. Tapi kalau mobil sudah dipakai bertahun-tahun yg keserempet pasti ga sesakit itu. Kali ini aku ga nangkep ke mana arah dan apa maksud dibaliknya.

Dibalik berbahayanya analogi memancing di atas, aku merasa itu ada benarnya. Saat menonton drama misalnya, kita bisa ikut gregetan dan deg-degan saat tokoh utama di dalam cerita masih dalam masa penjajakan atau penyangkalan akan adanya ketertarikan. Emosi bisa ikut terbawa dan terpengaruh – bisa geli, gemes, kesel, atau cekikikan sendiri – situasi pada saat itu. (Proses). Tapi saat keduanya sudah sah jadi, tak bisa dipungkiri cerita tentang hubungan mereka selanjutnya, jikalau ada, tak begitu menarik lagi. Dengan kata lain, jalan cerita paska-proses menjadi datar. Like, now what? What’s next? Itulah mungkin mengapa banyak drama/film yg menjadikan momen bersatunya keduanya – jadian atau menikah – sebagai klimaks dan akhir dari cerita tsb. Because then the story ends happily, and we all love happy endings.

Masalahnya kita hidup di dunia nyata, bukan dunia fiktif hasil imaginasi seseorang. Dan kisah tidak berhenti setelah gerbang pernikahan dilewati. Memakai analogi memancing Deddy, keasyikan proses memancing (bisa jadi) hilang setelah ikan didapat, namun puaskah dengan hasil tangkapannya? Kemudian pemancing masih harus memutuskan apa yg mau dilakukannya terhadap si ikan. Mau dipelihara? Dimakan mentah? Dimasak? Dijual? Atau dilepas lagi ke laut dan mulai lagi? Atau malah bingung dan berhenti?

Mungkin – MUNGKIN – ide, gambaran, dan visualisasi kita tentang pernikahan terlalu sempurna dan muluk2, sehingga ketika kenyataannya tidak seperti itu, hanya kekecewaan yg dirasakan. (Bukan berarti konsep ideal tidak bisa direalisasikan, cuma tentunya diperlukan usaha, kerjasama, dan kesepakatan dari dua belah pihak untuk mencapai itu). Atau mungkin proses penjajakan dan pacaran terlalu indah dan mulus sehingga ketika ada perubahan setelah pernikahan, hanya kekecewaan yg dirasakan. Atau mungkin di antara lahir batin hati dan kepala (pikiran) ada yg belum siap ‘terkukung’, masih enggan berbagi, atau belum sepenuhnya yakin dan mantap untuk menghabiskan bertahun2, berpuluh2 tahun ke depan hanya dengan dia seorang. Entahlah…

Walau bagaimanapun, pernikahan tetaplah lembaga yg suci, yg idealnya hanya terjadi satu kali. Aku yakin tak ada satu orangpun yg ingin gagal dalam membina rumah tangga, tinggal cerdik2nya membawa dan menahkodai perahu kecil pernikahan supaya tak kandas di tengah2. Apalagi setelah adanya anak. Mungkin ada baiknya kita belajar dari sesepuh kita yg mampu bertahan dengan pasangannya sampai garis akhir. Atau mungkin mereka lebih nrimo, sabar, dan menjalani apa yg ada sedangkan generasi yg lebih muda cenderung ga sabaran dan mudah bosanan serta lebih berani bertindak dan mengambil resiko. Seperti halnya kerjaan, senior tahan pada posisi yg sama selama bertahun-tahun sedangkan junior mendapat label ‘kutu loncat’. Hmm…

Berita perceraian yg marak terjadi tak pelak harusnya membuat orang berpikir dua kali sebelum mantap memutuskan untuk menikah. Karena perceraian ketika pernikahan baru seumur jagung tentu menjadi bahan pergunjingan, dan perceraian setelah puluhan tahun tentunya amat disayangkan.

Tapi kembali lagi, hidup adalah hak milik pribadi masing2. Hidup kita ya kita yg jalani, dan sah2 aja memutuskan sesuatu yg baik untuk hidup kita, menurut kita, seberapapun besarnya penolakan atau negatifnya pandangan orang lain terhadap keputusan tersebut. Selama tidak melanggar hak atau merugikan orang lain ya. Sebagai penutup, Deddy meminta maaf kepada mereka yg merasa kecewa dengan berita ini: “I’m sorry I’m not perfect.” Well…

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s