Posted in Music, Review

[Album] L1ve to Love, Love to L1ve

Pertama kali mendengar single terbaru Afgan, Pesan Cinta, aku berpikir apa sekarang dia mulai beralih ke lagu upbeat? Karena single ini dilepas setelah Dia dia dia dan Panah asmara yg ritmenya cenderung cepat. Walaupun suka banget sama Sadis dan Bukan cinta biasa, perubahan positif ini dengan tangan terbuka kuterima. Penasaran, aku pun melirik LTL. Hasilnya?

Mm, bisa jadi tebakanku benar nih. Lagu pembuka LTL, Katakan tidak, punya beat stakato yg asyik. Di era di mana kebanyakan musisi menelurkan tembang serba galau, mendua, jadi yg kedua, atau tentang si dia yg sudah ada yg punya – yg seolah melegalkan cabang hati – Afgan dengan nyaring bilang jangan macam-macam, bagi-bagi cinta, apalagi “terus kau memandangi temanku di depan mataku.” Wew. Falsetto di bagian verse melengking-lengking dan ditarik dengan sedikit kewalahan, namun refrainnya efektif dan bakal nyangkut di otak. “Katakan tidak pada selingkuh, pada mendua, pada semua yg sudah miliki kekasih; katakan tidak pada berdusta, tebar pesona, pada lainnya, cukup aku satu.” This should be the love anthem of the year!

Selepas Katakan tidak, telinga langsung disuguhi lagu-lagu tipikal Afgan yg mellow dengan nada-nada panjang sampai ketemu Pesan cinta yg diletakkan di pertengahan, yg seperti Dia dia dia dijadikan jingle iklan komersial di TV. Dan populer berkat itu pula? Anyway, Pesan cinta sendiri merupakan kembar-tidak-identik dari Panah asmara. Melodi sekian bar pada beberapa titik serupa. Feel-nya juga sama, meski ga se-catchy pendahulunya. Reff-nya terdengar cukup berat karena nadanya terus berada di range atas.

Kemudian Without you (Eyoo!) masuk dengan beat yg berdentum satu-satu. Full of synth that belongs to Usher or Ne-Yo’s or other R&B songs. Yg bukan Afgan banget. Dibanding semua lagu di TLT, lagu ini terdengar aneh dan salah tempat. Though I still have to give credit to Afgan for singing in English so eloquent and effortlessly. He sounds good in it still.

Lalu ada Demi kamu dan aku yg groovy banget. Diiringi tabuhan perkusi, petikan gitar (atau alat petik tradisional?), gesekan biola (ada cello?) serta dentingan piano yg amat dinamis *maap maap kalau ada yg salah, bukan pakar musik*. Ini contoh sempurna di mana musik pengiringnya hidup, bernyawa, dan ngangkat lagunya. Lagu yg mengingatkanku pada To a beautiful you, duet Kyuhyun dan Tiffany – tipe suara punya kemiripan, dan kedua lagu dinyanyikan bergantian, bersahut-sahutan.

Kalau ada hal yg menganjal adalah suara Sherina yg terlalu dominan di bagian reff. Ini adalah lagu Afgan feat. Sherina, tapi suara Afgan malah tenggelam karena ia mengambil nada rendah. Suara pria kan memang pada dasarnya lebih rendah dari wanita; bukannya biar seimbang, saat harmonisasi, pria lah yg mengambil nada utama dan pihak wanita mengambil nada dua yg bisa lebih rendah atau tinggi? Supaya suaranya keduanya melebur sempurna namun tetap tak kehilangan ciri masing2 *sok tahu abis*. Sayang aja, kolaborasi kan harusnya saling menyokong, bukannya saling mengungguli. Padahal lagu ini bagus – one of the best duet songs I’ve ever heard.

Bisa ditebak, keempat lagu di atas adalah lagu2 yg menonjol dari album LTL ini. Sisanya adalah lagu-lagu pelan atau bertempo sedang yg mirip satu sama lain. Aransemennya standar dan minim variasi, dari ketukan malas drum dem tak, dem-dem-tak ke musik pengiring yg ga ngangkat lagunya. Format lagunya juga mudah ditebak: ABAB-B (penuh improvisasi). Afgan would ad lib, strain his vocal cord and hit high notes like nobody’s business during those last choruses; sadly, the effort doesn’t change the fact that the ballads still fall flat.

Kalaupun ada yg nempel di kuping, itu Jodoh pasti bertemu*. Lagu yg paling mendekati ke-grandiose-an Bukan cinta biasa. Selebihnya ada Jauh dan Tanpa bahasa yg lebih melodis; Untukmu aku bertahan yg bakalan cocok dijadikan theme song sinetron2 kita**; Cinta tanpa syarat dan Sabar yg lelet-let-let.

Pada album ketiga yg dirilis awal tahun ini, Afgan ternyata belum beranjak jauh dari zona amannya. TLT masih dipenuhi lagu sendu nan melankolis yg dibawakan dengan baik namun kurang menginspirasi. I’ve looped the album for 10+ times now; the ballads get more bearable and actually sound better with each listen but i’m afraid they won’t go further. Didn’t hate ‘em, but didn’t quite like ‘em either. They can be good snooze-pills though =p

_
Rating: 3/5

*Apa bener Jodoh pasti bertemu adalah single Afgan selanjutnya?
**Update: Barusan liat bahwa lagu Untukmu aku bertahan beneran jadi theme song sinetron yg akan segera tayang di Indosiar.
Wew, ternyata telinga gue lumayan juga yaa, hehe…

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s