Posted in Travelogy

Travelogy: Belitung

Satu lagi tulisan yg terkatung-katung pengerjaan, dan tertunda-tunda penyelesaiannya. Well, with tonnes of distractions and lack of determination work can’t be done right on time, huh? Let’s get it done and over with THIS TIME – let’s start…

[Will add in pictures at a later time. Too lazy to insert ’em in now *geez* pictures are finally up! Enjoy~]

*INTRODUCTION* (a super long one. Kindly jump to the tour to go straight to the business)
Setelah liburan tahun 2011 sukses ke Vietnam, nah tahun 2012 mau keluar lagi atau domestik aja? Kalau mau keluar negeri, dengan waktu yg udah lumayan mepet dan persiapan dana yaaangg…gitu deh…rasanya paling banter ke Asia Tenggara aja. Singapur? Ah, basi. Kalau khusus liburan ke sana doang mah males, kalau untuk transit doang sih ga masalah. Sedang untuk ke Malaysia atau Thailand entah kenapa aku ogah. Kalau ke Phuket sih masih ok lah, tapi selain ke Phuket mau ke mana lagi? Masa ngabisin liburan cuma main di pantai doang? Akhirnya pilihan jatuh ke tur domestik aja, kali ini mengarah ke Sumatera. Incerannya: Medan, Padang, dan Bangka-Belitung.

Tujuanku sih cuma satu: menjelajahi sebanyak mungkin wilayah yg berdekatan untuk memaksimalkan waktu dan budget tanpa membuat kantong bolong. Dengan kata lain, toh udah sampe ke sana, perlu tiket blablabla, daripada cuma ngunjungin satu tempat trus balik lagi Jakarta kan mendingan ngiter2 sedikit yg rutenya searah.

Yahh…pokoknya niat awalnya begitu…

P1030593

Dan seperti hal lainnya, rencana awal dan hasil akhir tidak selalu sama. Dari dengar komentar kiri-kanan dan hasil riset data Mr. Google serta pemangkasan kiri-kanan, akhirnya diputuskan untuk ke Belitung saja untuk liburan kali ini. Titik. Kenapa? Tujuan utama ke Medan ya ke Toba, tapi katanya kondisinya tak secantik dulu alias udah kotor. Terus kalau ke sana juga idealnya mengunjungi Pulau Samosir dan bermalam di sana (penginapan seperti rumah penduduk). Tujuan lainnya paling ke Brastagi yg katanya mirip2 Puncak. Wah, kalau kayak gini sih kurang menarik. Soal Padang, tujuan utamanya mengunjungi Bukit Tinggi yg (menurut beberapa sumber) punya pemandangan menakjubkan. Tapi selain itu, keluargaku kurang masuk dengan itinerary lainnya – rada membosankan katanya. Sedangkan Bangka dengar2 juga kurang bagus, mending ke Belitung.

Destinasi sudah ditentukan, tahap berikutnya menentukan mau memakai jasa tur yg mana. Belitung Trans yg memenangkan tender. Korespondensi yg dilakukan melalui e-mail berbuah hasil memuaskan – dari segi harga dan paket wisata – dan belakangan pengalaman wisata.Jadinyaaa… ya akhirnya tujuannya tinggal ke Belitung tok. Yg awalnya mau 3 hari pun ditarik menjadi 4 hari supaya lebih lama dan lengkap liburannya di sana.

Rasanya sudah menjadi rahasia umum bahwa hari pertama dan terakhir fungsinya lebih sebagai formalitas daripada bagian dari tur itu sendiri. Hari pertama adalah hari kedatangan, dan kalau beruntung hari tersebut masih dapat digunakan untuk berwisata setengah hari, sedangkan hari terakhir hanya bisa breakfast lalu terbang pulang ke daerah asal. Jadi jangan banyak berharap bahwa tur 4D3N misalnya berarti kita bisa jalan2 selama 4 hari penuh *you wish*. Nah, melihat fenomena ini, kita tentunya kelompok orang yg ga mau rugi. Kalau ambil tur 4D3N ya berarti harus selama mungkin berada di sana, ga hanya 3 hari, atau lebih parahnya 2 hari berwisata. Untungnya pihak Belitung Trans amat fleksibel dan mengakomodasi permintaan yg masuk. Ya intinya mereka mengakomodasi selama waktu dan sarana memungkinkan.

When it comes to financial matters, i’m the kind who looks for the an option that makes the best out of the expenses we have to spend. And Belitung Trans offers great holiday package at the reasonablest price. Dan berhubung kita orangnya ga mau rugi, kita memilih salah satu penerbangan paling pagi sehingga masih bisa sempat keliling setengah hari, lalu memilih penerbangan pulang paling sore hari supaya masih bisa jalan2 bentar pagi harinya. Good thinking huh?

P1030693

*THE TOUR*
Ada dua maskapai penerbangan Jkt-TanjungPandan, Sriwijaya dan Batavia*, dan kita memilih Sriwijaya yg frekuensinya lebih banyak. (*Saat ini Batavia sudah berhenti terbang semenjak dinyatakan pailit oleh MA akhir bulan lalu – dan menyebabkan keruwetan soal refund tiket etc). Awalnya kita book flight kedua, tapi beberapa hari sebelum hari H tiba2 terima sms yg mengabarkan pembatalan flight tsb dan akan dialihkan ke penerbangan selanjutnya. Hari H-nya, seperti penerbangan lain pada umumnya, pesawatnya delay tanpa kejelasan selama +- satu jam (malah pesawat kita ga ada di jadwal departure! Ngeri ga tuh) dan tiba di TanjungPandan sekitar 11-12-an (dan seperti penerbangan jarak dekat lainnya, waktu nunggu di airport blablabla jauh lebih lama dibanding lamanya penerbangan =,=).

One crucial advise: luggage-nya di hand-carry aja. Bandaranya kecil, dan waktu untuk nunggu mereka unload, ngegerek, trus load bagasi ke satu2nya conveyor belt di situ bisa digunain untuk makan siang. Luama uabies!!

P1030792 P1030793

Langsung menuju hotel untuk freshen-up sedikit dan berganti pakaian karena akan menuju Pantai Tanjung Tinggi. Perjalanan dari hotel GrandPelangi ke sana sekitar 20 menit – jalanan super lancar dan lengang serasa milik sendiri! Makan siang di restoran seafood di sana (nyobain gangan khas Belitung di sini) ditemani guyuran hujan yg lebat. Hati sudah mencelos “gimana mau main di pantai dengan cuaca begini?” Akhirnya waktu makan siang pun molor karena menunggu hujan sampai tinggal rintik2, tapi ga rugi lah. Menunya enak, makannya santai, udara segar dengan angin sejuk ^^

Pantai Tanjung Tinggi merupakan salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi. Bagi mereka yg kepincut wisata Belitung karena film ini, tempat ini tentunya tidak mungkin dilewatkan. Pantainya cantik berbentuk setengah lingkaran dengan tumpukan bebatuan bulat2 di kedua ujungnya. Airnya jernih, gradasi warna terlihat jelas namun sedikit keruh di dekat bibir pantai karena bercampur dengan pasir. Kita puas2in bermain air di pantai ini pada hari terakhir karena ga bisa menjelajah bebatuan akibat air laut yg pasang pagi itu. Namun pada hari pertama ini kita dibawa Pak Empong (pemandu-wisata-cum-supir) menjelajah bebatuan di sisi kanan pantai.  Daerah situ relatif sepi jadi kami leluasa main air, jepret kanan-kiri dengan pose gajebo atau meloncat dari batuan satu ke batuan lainnya. Atau bermain imajinasi dengan bentuk bebatuan yg beraneka ragam – ada yg menyerupai seekor binatang sedang menyembulkan kepalanya keluar dari air sampai yg mirip ikan paus.

P1030575 P1030586

Dan ternyata ‘mendaki’ bebatuan juga bukan perkara mudah. Keliatannya sih gampang: tinggal hap! Lompat sini, langkah ke situ, beres. Situasi dipersulit oleh bentuk batuan yg abstrak ditambah minimnya permukaan bisa diinjak yg tidak licin. Sempat hampir terkilir melangkah mengenakan sandal jepit karet, akhirnya sisa penjelajahan dilakukan tanpa alas kaki alias ciaka. Cukup bangga sih berani dan bisa mencapai batu bundar raksasa yg menjulang tinggi di atas air laut. Pemandangan dari sana tanpa batas, dan bisa dengan mudah lompat nyebur ke laut. Masalahnya adalah nyali, juga ketidaktahuan posisi bebatuan di bawah air – kalau nyandung kan ga lucu.

Wisata super singkat hari itu diakhiri karena adanya insiden kecil di mana mami nyelonong terus menuruni batu bundar yg curam serta licin meskipun sudah diperingati berkali2 jangan turun karena licin. Mami dengan sukses tergelincir dan jatuh terduduk; kakak yg menjaga di belakang dengan sukses ikut tergelincir tanpa henti sampai mendarat di air laut. Dari posisi tsb sudah ga bisa merangkak naik lagi karena memang batu amat licin; jalan keluar satu2nya turun ke air, mengitari batu besar tsb dan naik dari sisi laut. HP basah kuyup, mami lecet2, serta horor melihat kakak jatuh tepat di punggungnya – sejak mengenal chiropractic, aku jadi parno dengan segala hal yg berbau trauma fisik (salah satu penyebab sublukasi) *kok jadi promosi?*.

Niat untuk menjelajah seraya lenyap, kami langsung diantar kembali ke hotel untuk beristirahat dan keluar lagi untuk santap malam. Wisata hari pertama yg berakhir kelabu tapi tidak diakhiri dengan kelam – makan malamnya dahsyat: iga bakarnya uenak!!

P1030610 P1030620

Agenda hari kedua adalah nyebrang ke Belitung Timur, mengunjungi vihara Kuan Im di sana dan main ke Manggar (lokasi syuting sekolah di Laskar Pelangi, baik PN Timah maupun SD Muhammadiah, sampai ke lokasi ‘pentas seni’ jalanan). Tetapi ternyata sebelum cabut ke Beltim, kita dibawa ke dua lokasi Danau Kaolin yg jaraknya berdekatan. Lokasi pertama dekat lokasi pengerukan, dan kita hanya bisa melihat danaunya dari atas. Lokasi kedua lebih landai dengan pasir yg menjorok sampai ke tengah ‘danau’. Pijakan pada beberapa tempat terasa lembek tapi mampu dilewati. Warna air pun biru pucat seperti warna kapur biru yg dilarutin di air, tapi ga tau rasanya seperti apa – ga ada yg beniat nyicip xp.

Tancap ke Beltim sejauh +- 190km yg memakan waktu sekitar 2 jam. Melewati pusat pemerintahan yg pernah dipimpin oleh Ahok. Daerahnya lebih terlihat seperti kota dibanding Belitung Barat walau tetap tak terlihat adanya kegiatan penduduk – juga hampir tidak bertemu kendaraan lainnya selama perjalanan. Hal yg dominan hanya jalanan dua lajur untuk dua arah yg amat mulus lus – no bumps, no holes, no uneven surfaces like we usually get when rolling on Jakarta’s roads.

Sebagai seorang pemandu wisata, Pak Empong ga banyak berkicau, menjelaskan seperlunya, ga cerewet/elaborasi panjang lebar bila ditanya. Plus minus sih. Tapi dari penjelasan singkat itu kita jadi tahu kalau hampir semua rumah di sana beratapkan seng. Rupanya mereka tidak mau berada di bawah tanah selama hidup. Ngerti dong ya? Hal ini menyebabkan suara amat berisik ketika hujan. Lalu semua rumah juga memiliki dua pilar di beranda yg membentuk serambi kotak kecil. Katanya itu tempat mereka makan, yg ga dilakukan di dalam rumah, tapi di luar sambil ngeliatin orang lewat. Hehe… Tapi kebiasaan ini pula yg membuat masyarakatnya mengenal satu sama lain, karena suka bersosialisasi dan tidak terkukung dalam individualitas dan rumah masing2.

P1030665 P1030670

Dari vihara, mampir sebentar ke Pantai Burung Mandi yg cenderung lebih kotor dan bukan merupakan pusat wisata karena sudah tercemar timah(?), lalu mampir ke Bendungan Pice, Rumah Kata-nya Andrea Hirata (yg selain menjadi memorabilia Laskar Pelangi juga menyediakan karya2 serta t-shirt colorful “I’ve been to Negeri Laskar Pelangi too” untuk dibeli), dan berakhir di replika SD Muhammadiah (yg khusus dibangun untuk keperluan syuting. Bangunan aslinya sih katanya sudah tidak ada—sudah dibongkar dan dibangun kembali sehingga nuansa jadulnya sudah hilang, hehe). Wisata hari ini lebih banyak dihabiskan duduk di dalam mobil, tapi posisi begini juga megel+nyapein lohh…

Hari ketiga diperuntukan khusus untuk island hopping. Sesuai namanya, hari ini menu utamanya adalah ‘lompat’ dari pulau yg satu ke pulau lainnya yg lokasinya berdekatan di utara Pantai Tanjung Kelayang. Kita sengaja berangkat lebih pagi dari yg dijadwalkan supaya bisa lebih puas mainnya, dan supaya ga kena matahari yg terlalu nyengat di kulit. Dari bibir pantai sudah terlihat batu berbentuk burung dengan kedua sayap terbentang lebar yg selalu menghiasi pelbagai situs tur Belitung. Menaiki kapal nelayan kecil sambil tak lupa mengenakan life jacket milik travel yg bersih dan terawat, ke sanalah tujuan pertama kita, yg hanya bisa dipandangi tapi tak bisa disentuh.

P1030687 P1030701

Kemudian lanjut ke pulau terjauh yakni Pulau Lengkuas. Di sana kita beradventure ria dengan bebatuan yg ada di sisi pulau baru kemudian memanjat mercusuar 18 (19 kah?) tingkat peninggalan Belanda. Bangunannya masih kokoh walau besi2nya sudah berkarat dan di beberapa lantai terdapat genangan air yg entah berasal dari mana. Diameter per lantai makin mengerucut dan otot paha sudah mulai teriak ketika akhirnya sampai juga di lantai teratas… yg super panas, pengap, dan minim oksigen. Di dekat tangga ada pintu kecil untuk keluar ke teras mercusuar, tapi setelah mengambil beberapa foto di dalam dan melongok keluar untuk menghirup oksigen, kepala tiba2 pusing dan pandangan memutih dan kabur… aku takut bakal pingsan di tempat! Aku pun langsung jongkok di dekat pintu masuk, gemetaran, dan mengambil nafas satu2 sampai penglihatan kembali fokus. Disclaimer: it’s not acrophobic. Tapi ya akibatnya aku jadi ga bisa berpose ria di teras… x_x

Kembali ke kapal, aku masih merasa ga enak dan sedikit mual, sehingga pas dipersilakan untuk snorkeling, aku dengan nanar hanya dapat menatap air menembus ke bebatuan karang yg terlihat cukup jelas meski dari atas kapal. Ini adalah highlight utama yg aku tunggu2, tapi kondisi badan ga memungkinkan untuk nyemplung ke air… aku takut muntah atau parahnya lagi, masuk angin, huaaa… Bener aja, sesampainya di Pulau Burung untuk makan siang, aku langsung muntah di pasir dekat kapal orz. Rugi sih sebenernya waktu snorkeling yg lain jadi hanya beberapa menit, tapi ya mau gimana lagi… Beruntung setelah muntah aku langsung merasa jauh lebih enak, dan setelah makan dan minum kelapa, badan langsung balik ke 100% fit. Ahh…kalau aja bisa balik snorkeling lagi…

Ternyata keindahan alam Belitung juga menarik bagi sineas internasional untuk menjadikan Belitung sebagai lokasi syuting. Salah satunya adalah The Philosopher yg katanya akan rilis tahun ini. Dan…Pak Empong pun menggiring kami menuju salah satu spot syuting di Pulau Burung tsb… yg sepi turis dan berair lebih jernih dari Tanjung Tinggi. Sekitarnya sih mirip2 dengan gugusan bebatuan bulat2 berukuran besar yg berserakan/bertumpu di tepi pantai. Di sini ada satu batu khusus yg dari mirip kepala manusia, tidak bulat tapi hampir persegi.

P1030746 P1030751

Puas berkecipak di Pulau Burung, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Babi yg kecil dan tak berpenghuni. Hanya ada bebatuan, and that’s it. Dari situ kalau situasi memungkinkan, kita bisa mampir ke Pulau Pasir, yg terdiri dari pasir tok. Tapi berhubung air masih pasang, pulaunya masih terendam dan belum cukup besar untuk disinggahi. Wisata hari ketiga berakhir di sini… Di itinerary sih island hopping berlangsung sampai pk 4 sore, tapi karena cuaca mendung tebal mami ngejar2 untuk langsung pulang padahal jam masih menunjukkan pukul 13-an. Booo…

Cukup kecewa sih waktunya dipotong memendek dan ga bisa snorkeling… Kemudian kekecewaan terbesar adalah tidak mampir ke Batu Berlayar… Kalau aku benar, posisinya terlihat dari kapal saat menuju Pulau Lengkuas, yg terlihat seperti stonehenge di air. Sempat penasaran sih apaan tuh batuan bisa ngambang di air, tapi ga sempat nanya. Dan ga ditawarin untuk ke sana juga. Mungkin cuaca ga memungkinkan ke sana, atau kondisi air laut yg masih pasang (Batu berlayar bisa disinggahi saat air surut, sama seperti Pulau Pasir deh kayaknya). Tapi yaa tetep aja, salah satu highlight island hopping jadi hilang dan terlewatkan deh

However, there’s always a positive to a negative. Positif dari pulang cepet island hopping, kita masih sempat santap sore Mie Belitung dan es jeruk kunci yg wuih seger banget. Top markotop deh! Dengan ini berakhirlah rute wisata kali ini – hari keempat hanya diisi dengan kembali ke Tanjung Tinggi dan belanja souvenir yg singkat sebelum diantar ke bandara untuk kembali ke Jakarta.

P1030759 - Mie Belitung

*CONCLUSION*
Highlightnya sih sudah pasti island hopping dengan pantai yg bersih, pasir putih, dan air laut yg jernih. Dihiasi gugusan bebatuan yg unik dan aneh-aneh. Dan berhubung Belitong itu pulau, menu makanan ga jauh2 dari seafood, dan menu pilihan tur juga lumayan monoton – ikan, udang, cumi, dan sayur. Bisa bikin bosan, tapi untungnya semua rasanya masuk ke lidah kita, jadi ga ada komplein soal makanan. Selain wisata pantai dan pulau, Belitung hampir tak menawarkan wisata lainnya.

Plus pointnya adalah lokasi wisata yg masih tak terjamah, jadi masih jauh dari turis dan sampah. Soal jumlah turis sih katanya meningkat cukup signifikan sejak rilis Laskar Pelangi, dan prediksiku sih bakal lebih membludak setelah rilis The Philosopher. Karena pulau2nya merupakan surga bagi mereka yg mencari lokasi bersantai yg tenang dan indah (kami datang bulan Desember, tapi itupun masih jarang ketemu turis lain, jadi serasa punya pulau pribadi, hehe…). Atau bagi mereka yg gemar fotografi dan berburu angle2 cantik.

Sejak mampir ke Belitong, aku langsung menempatkan kenyamanan dan keindahan alamnya di atas Lombok yg selama ini kubangga2kan. Sorry Lombok D:  Looking for pristine beauty, serenity, and tranquility? Come to Belitong! But please please please do not litter the sea, especially, or anywhere else in general. Dalam hal ini ada satu kalimat spanduk, dari puluhan spanduk di sepanjang pantai Tanjung Pendam, tentang kebersihan yg ngena banget (dan harusnya bisa dijadikan slogan di seluruh Indonesia): “Hidup memang sulit, tapi buang sampah pada tempatnya ga sulit kan?”

Until next time~

Next stop: Japan~ (AMIEENNNN!!! ^^)

P1030715

Advertisements

2 thoughts on “Travelogy: Belitung

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s