Posted in Movie, Review

[Film] The Raid: Redemption

Mencekam. Menegangkan. Mendebarkan. Memacu adrenalin. Penuh darah dan kekerasan. Sadis. Tapi Seru.

Soal cerita, judul yg dipilih sangat tepat untuk menggambarkan apa isi film yg kabarnya berbudget rendah ini. Seputar penyergapan sekelompok regu Special Forces terhadap seorang sasaran yg hampir tak tersentuh hukum dan bermarkas di sebuah apartemen tua di…Jakarta? Dalam perjalanan, mereka diberikan briefing singkat mengenai identitas target dan apa saja yg perlu diwaspadai. Informasi yg amat minim dan buru-buru karena tak disertai penjelasan mengapa sosok ini begitu penting, dan mengapa (hanya segelintir dari) mereka yg terpilih untuk menyerbu markas penuh bandit setinggi puluhan lantai tersebut. Gimana nyali ga ciut coba? Apalagi setelah mengetahui mereka tanpa back-up dan penyerangan itu tak diketahui oleh siapapun. Nah lo…

Ketegangan dimulai segera setelah pasukan memasuki gedung semi-kumuh-semi-angker dan mengetahui kalau kedatangan mereka tercium si empunya. Non-stop sampai menit terakhir film di mana penonton hampir tak diberikan kesempatan untuk ‘bernafas’. Gimana engga? Tim SWAT ala Indonesia ini terdiri dari 20 orang-orang baru yg seolah dikirim untuk latihan simulasi yg salah tempat, waktu, dan sasaran. Niat awal menyergap malah berbalik disergap dan diburu manusia-manusia sadis yg membunuh tanpa berkedip. Kalah jumlah pula! (Nemu aja ya orang2 berparas bengis berdarah dingin begitu…)

Dan siapa bilang gedung kumuh begitu ga dilengkapi dengan CCTV di setiap sudut yg dipantau tanpa jeda oleh sang big boss? Ia dengan entengnya memberitahukan lokasi regu penyergap kepada para anak buah disertai pesan untuk “bersenang-senang”. ACK! Pertumpahan darah pun tak terelakkan. Ughh…

Too much violence and blood-spluttering my heart almost couldn’t take it. So graphic it’s nauseating. Yes, this ain’t for weak-hearted people. Guys would be enthralled, girls… well…

Satu hal yg masih membuatku meringis ngeri adalah betapa mudahnya nyawa manusia hilang di tangan sesama. Hal ini mungkin lebih bisa dimaklumi dalam konteks The Raid: Redemption berhubung ini masalah hidup dan mati: kalau gue ga bunuh elo duluan, elo yg akan bunuh gue; dan daripada gue yg mati jelas mendingan elo yg mati. Tapi tetep ajaa…

Aku lebih takut ke faktor orang yg menonton sih. Jelas TR:R ditujukan untuk penonton dewasa 18 tahun ke atas, namun tadi di bioskop banyak terlihat remaja usia SMP. Dan berhubung manusia sangat pandai meniru, aku takut banget kalau film ini dijadikan acuan/inspirasi untuk berbuat kekerasan dalam dunia nyata. *Amit-amit jangan sampe*

I earnestly hope people/viewers are smart enough to differentiate fiction from reality — that what happens inside a movie is all camouflage and ain’t real. (Though I too wonder how much injury caused by those intense fighting scenes.) It’s thus high time for us to enforce movie-rating system, to put restrictions on who can watch a certain movie, because those kids aren’t supposed to be there and watch this sans parental guidance.

In terms of suspense and thriller aspect as well as the ability to keep movie goers on the edge of seat, TR:R deserves a full mark. Often kvetching how jerky censorship works for TV-viewing, I got all jittery watching this in theatre which then forced me to do self-censoring, shutting my eyes or ears –- or both –- at times.

The writing, however, is bugging me. It’s flawed to say the least. The backstory is definitely missing. I know it’s not revealed yet (probably) because TR:R is a trilogy, but I believe it can end once and for all in one movie. The ending sealed the movie perfectly fine for me. The remaining mystery revolves around the mastermind behind the raid, but who needs a sequel to answer (only) that when the target’s already gone?

Tentunya masih banyak hal ganjil/mengganjal lainnya, seperti (1) tidak adanya CCTV di lorong kamar lantai 7 tempat Rama bersembunyi; (2) Andi yg tidak hafal letak CCTV sehingga tertangkap kamera; (3) Ketahanan fisik Rama yg luar biasa super; (4) mengapa kapten mengkhianati pasukannya; (5) senyum mencurigakan pemilik kamar pada akhir film, dll.

Hal menggangu lainnya adalah kecepatan para pemain dalam berbicara (ngebut banget!), juga lafal yg tidak sempurna sehingga dialog kadangkala sulit ditangkap (belibet, mas?). Juga soal volume yg luar biasa kencang. Pun soal koreografi perkelahian. Aku ga melihat adanya pertunjukkan seni pencak silat dari perkelahian yg ditampilkan selain orang-orang baku hantam secara acak dan membabi-buta demi membela diri dan menjatuhkan lawan (atau aku yg buta akan pencak silat tak bisa melihat itu). Gerakannya ga cantik. Ada sih beberapa manuver yg ‘wah’ tapi sisanya ya itu, adu jotos tanpa arah yg penting musuh terkapar S=|

Head-to-head, TR:R is a better movie than Merantau, but in itself isn’t a spectacular one — despite well-maintained tension and nerve-breaking score. I know it received recognition and award overseas and that it’s garnered positive reviews in countries like US and Australia –- I feel nothing else beside proud =)

—–
p.s. eh, ada Donny Alamsyah lagi. Kalau ditelisik, film indo yg belakangan kutonton hampir selalu menampilkan wajah dan nama dia, mulai dari Fiksi, Minggu Pagi di Victoria Park, sampai ke Merah Putih (dan Darah Garuda)… Ini betul-betul kebetulan karena aku bukan fansnya, juga ga ngecek daftar pemain sebelum menonton sebuah film XD

_
Rating: 3.5/5
Director: Gareth Evans
Production: Merantau Films, 2011
Cast: Iko Uwais, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Ray Sahetapy, Yayan Ruhian
Genre: Action, Suspense-thriller

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s