Posted in Off Topic

Cetak foto hasilnya begini!? Baru kali ini

Seumur hidup aku nyetak foto dan melihat hasil cetakan foto milik orang lain, baru pertama kali ngeliat yg hasilnya begini. Parahnya lagi, kualitas menyedihkan ini kudapatkan dari hasil cuci cetak foto di konter FUJIFILM di MTA, Senin kemarin.

Mundur sedikit, belakangan ini aku lagi sibuk2nya ‘merancang’ projek pemilihan, penyortiran, penggubahan, dan pencetakan foto keluarga untuk dibingkaikan. Sejak zaman menjamurnya kamera digital dan punya satu, aku udah ga pernah lagi yg namanya nyetak foto. Apalagi sekarang zamannya eksis2an – jadilah pelbagai hasil jepretan diunggah ke social media seperti facebook untuk kemudian di-tag, di-share, dan dinikmati bersama.

Pun demikian halnya dengan foto graduasi. Aku ga merasa ada keperluan untuk mencetaknya dalam bentuk hardcopy karena toh bisa dilihat dengan mudah lewat layar komputer/laptop. Tetapi karena selalu diuber2 minta datanya biar bisa dicetak, aku pun menyerah. Apa boleh buat. Untungnya hari kelulusan adik plus rencana jalan2 sekeluarga sudah di depan mata; hasilnya kan bisa dicetak sekalian! (namanya juga males! xp) Lengkap kan?

Masalah mulai muncul begitu tahu berapa jumlah jepretan kamera kami selama rentang waktu 10 hari-an itu: LIMA RATUS-an FOTO! Di otak udah mulai itung2an berapa duit yg harus dikeluarkan kalau mau nyetak semua-muanya. Thus as soon as i returned to my cozy seat in front of my laptop, i was starting to work on the project. Pilih punya pilih, jumlah akhir sekitar 200 foto. Merasa jumlahnya masih terlalu banyak (apalagi setelah cek harga di Fuji yg harga cetak per ukuran 4R-nya 3000 – jadi 2000 kalau di atas 200 lembar), aku mengusulkan untuk men-scan dan mencetak ulang foto studio graduasi dulu. Foto studio graduasi adikku juga baru sampai, pas deh bisa scan semuanya, jadi foto2nya AKHIRNYA bisa dipajang di pigura yg kita beli beberapa bulan lalu.

Pergilah kita ke kios cuci cetak di dekat rumah. Biaya scan dan cetak lebih murah dibanding Fuji (ya iya lah yaw~!): scan per lembar 5000, cetak 4R 1200-an. Tapi cukup kaget setelah tahu kalau biaya cetak 5R harganya 4x lipat 4R, yakni 5000! Tapi apa boleh buat, pigura yg sudah dibeli ukurannya 5R. Kekesalan kedua merasuki tatkala melihat di bon kalau ada biaya “transfer ke USB.”

I was like, WHAT!? Okay, we paid for the scan fee, and i understand that we should pay for CD transfer, but i used my own personal USB! And you actually CHARGED for copying those damn files over to my thumb drive?!?! Shouldn’t that be classified under ‘customer service goodwill’?? NO? Okay. Now i know that NOTHING in this hella world is free. Talking about pettiness~ Well, your computer better be virus-free or i’d have another go with you.

Yet i was further vexed by the end product. The quality was nowhere near the original files; the scanned files weren’t good either – they’re dark and dirtied with black-or-white spots at the wrong places (they made us have unsightly HUGE moles on our face/neck, or dandruff, or filthy gowns) that weren’t there in the first place. My sis needed to photoshop those off and do some leveling to make them look clearer.

Akhirnya, kita menyalahkan diri sendiri karena milih yg murah untuk hal2 menyangkut kualitas. Mungkin aja itu mesin scanner ga pernah dibersihin makanya banyak titik2 tak diinginkan yg ‘nempel’ ke foto. Pelajarannya: kalau mau kualitas, ada harga lebih tinggi yg harus dibayar. Mungkin kalau menggunakan jasa Fujifilm ga akan seburuk ini hasilnya. (Or so we thought.)

Intinya, setelah memuas-muaskan diri dengan apa yg ada, terlintas keinginan untuk menghadiahkan foto kelulusan untuk popoh sebagai tanda terima kasih. Berhubung ini adalah hadiah ulang tahun, kita ga mau hasil yg setengah2. Kualitas adalah yg nomor wahid; harga urusan kedua. Maka kita memutuskan untuk cetak di Fujifilm yg ga usah diragukan lagi kualitasnya. (Seharusnya). Galeri terdekat rumah ya TA, maka kita ke sana. Sampai di sana sekitar 2:15, setelah menransfer foto dan melunasi pembayaran, kita menunggu hasil cetakan itu selama 25 menit sambil keliling2 mall.

Ketika mengambil hasil cetakan, kita baru sadar kalau kita lupa bilang kalau kita mau yg doff (gimana sih spellingnya?), bukan yg glossy (karena bisa menempel di kaca pigura). Tetapi masalah utamanya bukan itu. Di lembar2 foto berukuran 4R itu, di sisi kiri dan kanan foto masing2 terdapat space berwarna putih setebal +- 1 cm seolah foto kurang panjang untuk ukuran 4R. Awalnya kita pikir itu belum dipotong karena petugasnya membiarkan kita memeriksa foto2nya terlebih dahulu. Namun ketika adik mencocokkan ukuran tsb dengan yg ada di buku contoh ukuran, ukurannya sama persis.

Kita pun bertanya mengapa hasilnya bisa demikian. Jawabannya: memang begitu karena disamakan dengan ukuran aslinya. Kalau mengikuti ukuran 4R-nya, maka ada bagian dari foto yg terpotong. Kita protes dan bilang seumur-umur ga pernah kejadian seperti ini. Si masnya tetep ngotot kalau memang seperti itu.

“Terus kalau nyetak ukuran 5R gimana?” tanyaku.
“Sama aja, cuman nanti ukuran warna putihnya akan lebih kecil.”
BAH! “Jadi, ukuran foto/kamera saya yg salah?” tanyaku lebih lanjut. Maksudnya kalau memang gitu, untuk berikutnya ukuran fotonya kan bisa disesuaikan biar kejadian ini ga berulang.
“Bukan. Memang begitu. Ukuran kamera kan memang lebih lebar.”

I don’t follow him at all. If it wasn’t the size and it wasn’t the machine’s fault, then who’s fault it was to produce such photos?? He works at the photo-printing line, he should’ve known the solutions to this problem! Instead, he offered to reprint those photos to fit 4R size on one condition: some parts would be cut off. WHO WOULD HAVE WANTED THAT?!?! The point of printing it out is to have a hardcopy version, not the cropped version! Duh.

Bicara soal crop, si masnya malah menyalahkan file awal kami yg merupakan hasil cropping. With all due respect, sir, NONE of our photos was cropped! Hasil editing iya, hasil scan iya, tapi BUKAN hasil cropping. Tapi kalaupun itu masalahnya, kenapa di beberapa foto asli tanpa edit-an apapun yg dicetak tetep aja ada gap putihnya?? Dia tak bisa memberikan jawaban lain selain “memang begitu” atau solusi lain selain “ya udah, cetak ulang aja, tapi ada yg kepotong.”

Aduh, capek deh. Gini ya, kalau fotonya untuk ditaro di album foto aja sih mungkin kita ga akan ribut begini. Tinggal potong aja bagian putihnya, selipin di album foto, kelar perkaranya. Tapi ini masalahnya mau ditaro di bingkai foto UKURAN 4R dan DIJADIKAN hadiah buat orang lain! Ngerti ga sih, mas?? Mbok ya jangan ngulang2 usulan untuk nyetak-ulang-tapi-kepotong dong! Kreatif sedikit napa?! Kemudian aku bilang yaudah putih2nya dipotong aja, yg ga digubris. GUBRAK!

Pulang dengan hati dongkol, kita coba naro foto di pigura, kali-kali aja putihnya ga keliatan (walaupun udah tau ga mungkin). Yup! Itu bagian putih masih nyempil di kiri-kanan foto. Dipotong juga ga membantu karena penutup fotonya yg jadi terlihat.

Penasaran, aku mengecek foto print-an dari kamera digital sebelumnya, yg seinget mami-papi memang bukan dicetak di Fuji. Ukuran 4R, tidak ada yg terpotong. Utuh. Aku kemudian mengecek dimensi foto2 tsb: sama2 1600×1200.

JADI SEKARANG YG SALAH SIAPA COBA? JADI MASALAHNYA DI MANA COBA??

This is Fujifilm that we’re talking about. Sengaja milih fuji biar hasilnya bagus malah jadi begini. Mengecewakan. Fujifilm Indonesia, di mana tanggungjawabmu??? Tau gini ga usah bayar tuh biaya cetak. Can we get our money back, then? Dan untungnya lagi ga nyetak 200 foto itu sekalian. Gigit jari yg ada. (In the end, higher prices aren’t always commensurate with better quality, huh?)

You know what, i’ve slowly lost faith in service rendered by humans – if not in humans themselves.

Advertisements

14 thoughts on “Cetak foto hasilnya begini!? Baru kali ini

  1. Saya berani bilang karena ketidak tahuan anda, tapi anda marah marah jadi yang salah anda. Perlu diketahui walaupun kamera sudah digital tapi standar yang dipakai adalah film/analog. 3r,4r dsb itu adalah standar analog. Jaman analog ukuran film itu sama, entah itu apsc, 35mm dsb. apapun merknya ukurannya tetap sama.
    Nah beralih ke digital, film digantikan dengan sensor, sialnya ukuran sensor itu tiap merk kamera itu beda. Jadi biarpun sama sma 10 mp tapi beda merk ukurannya bisa beda, sedangkan standart cetak itu masih analog. mudahnya gini, ada punya kotak ukuran 12 cm x 12 cm, ingin dimasukkan kotak ukuran 10cm x 8cm tidak mungkin bisa pas kecuali ada lis putih atau gambar kepotong.

    Nah kalau ingin cetak foto tapi tidak ada putihnya atau gambar tidak terpotong, gunakan kamera digital yang ukuran sensornya Full Frame seperti eos 5d atau nikon d700 keatas.

    salam

    Like

    1. terima kasih atas penjelasannya. Saya memang ga ngerti soal hal-hal teknis seperti ini, makanya saya coba tanya supaya ngerti kenapa dan bisa menghindari ‘kesalahan’ yg sama… dan tidak mendapat jawaban yg memuaskan… *susahnya nyetak foto*

      Like

  2. Jadi lain kali sebelum cetak foto, pastikan dulu keinginan anda.
    1. Kalau ingin gambar full size (3r,4r dsb) mungkin pada beberapa gambar akan terpotong untuk mempertahankan rasio ukuran.
    2. Tapi kalau ingin gambar utuh, anda tidak boleh marah kalau nanti akan ada lis putihnya, entah itu atas bawah atau kiri kanan.

    Mungkin kedepan jika motret pakai kamera digital usahakan jangan terlalu mepet ketika mengambil gambar, jadi seandainya nanti di cetak bisa full size karena bagian yang terpotong tidak lah bagian yang terlalu penting.

    Atau tanyakan dulu sama lab cuci cetak, apakah mereka menyediakan ukuran digital. Di tempat saya ada ukuran digital, yakni 3RD, 4RD dst. ukuran ini lebih besar dari ukuran standar, disesuaikan dengan ukuran file gambar. Jadi tidak ada gambar yang terpotong dan tidak ada lagi lis putihnya. Memang tidak semua lab cuci cetak menyediakan ukuran ini, karena ukuran ini termasuk “standard” baru dan banyak konsumen yang masih suka ukuran standart analog. Kelemahan ukuran digital, harganya lebih mahal karena ukuran lebih besar juga tidak bisa masuk ke album foto/pigura normal. kalaupun bisa masuk album harus pakai album yang type magnetik.

    Semoga bisa membantu.

    Like

  3. Satu lagi solusi tapi mahal, anda bisa ganti kamera anda dengan kamera yang memiliki ukuran sensor full frame. Ukuran full frame sama dengan ukuran negatif (film) 35mm. Jadi masalah lis putih/gambar terpotong tidak akan anda temui lagi. Masalahnya kamera digital dengan sensor full frame harganya masih mahal, termurah setahu saya Nikon D600 yang harganya 20 jutaan.
    Sebagai gambaran, ukuran full frame itu sama dengan ukuran 1 frame film (diagonal 35mm). Kamera DSLR standart menggunakan ukuran APS-C yang ukurannya setengah dari full frame. Nah kamera pocket ukuran sensornya bisa setengah dari APS-C..bisa dibayangkan kecilnya seperti apa. Ini belum ukuran sensor kamera hp, ukurannya hanya seujung kuku manusia, jadi walaupun banyak pabrik HP mengelukan ponsel kamera dengan ukuran pixel tinggi tapi karena ukuran sensornya masih kecil, kemampuan menangkap gambarnya masih kalah dengan kamera digital termurah.

    Memang tepat pilihan anda jatuh ke Fujifilm, dengan bangkrutnya Kodak, memang Fujifilm menjadi satu satunya pilihan yang logis untuk urusan fotografi. Memang sih banyak lab yang masih pakai produk Kodak, tapi materialnya sudah bukan Kodak lagi tapi”Kodak” dari Cina. Sedangkan Fujifilm material dan mesinnya masih asli Fujifilm, memang bukan made in Japan tapi Made In USA karena distributor Fujifilm Indonesia, mengambil materialnya dari pabrik Fujifilm di Amerika, gak tahu kenapa bukan yang di Jepang. Kalau gak percaya mungkin bisa main ke lab cuci cetak dan lihat kardus paper/chemicalnya tulisannya Made in USA…he…he…he…

    Like

    1. Bukan begitu, kamera fullframe apsc maupun mikro 4/3rd hanya beda dari sais sensornya. kamera canon 6d fullframe@35mm hanya 20mp, tapi kamera sony nex terbaru hanya apsc tapi 34mp. jadi sais sensor tidak maknanya imej lebih besar. yang nyatanya, ini masalahnya aspec ratio. dimana kamera digital guna 2:3, tapi kamera filem guna 4:5 zaman dulu. maka jika kamu print saiz 4R (4x6in) sepatutnya tiada putih2. tetapi jika kamu print 8R (8x10in) maka gambar harus dipotong kerana ratio digital kamera 8rw/8rd(8x12in.). jika tidak dipotong gambar itu, maka ditepinya ada putih. harap dapat bantu

      sais print kamera digital nisbah 2:3
      4×6, 8×10, 10×15, 16×24
      sais print filem nisbah 4:5/ 2:2.5
      3R,5R(5x7in),6R(6x9in),8R(8x10in),11R,10R(10x12in)

      Like

  4. Yuuupp.. Klo tetp ngotot juga ga pengn ada putih d samping dan pengennya gambar utuh, sya bisa kok mbak, tp jgn kaget klo potonya jadi ceper ato malah melebar gak jelas :v :v :v ,, tp ga da yg slah ato bener kok,, yg penting sama-sama belajar 😀 hihihihiii..

    Like

  5. maaf kalo blh ikut join..pertama kali mo komen judulnya dulu deh.. 😀
    baru kali ini cetak foto hasilnya begini apa memang baru kali ini cetak foto?hehhee maap ..menurut sy bukan salah yg cetak..krn sy sndri kerja di tempat foto..jd pnjelasan sy sama kaya mas purnomo di atas.. yg nyetak pasti lbh tau .. sebaiknya sblm marah2 begini anda browsing dulu .. 🙂

    Like

  6. usul mbak.. emang mesti kepotong kalo kaya gitu solusinya ya ada list putih di atas/samping foto.. aku jg pernah kalo nggak.. pas motret kasih space dikit buat croping nya..
    naah solusi buat masalah ongkos cetak nya mending print deh tu foto di percetakan A3 pake kertas ivory 210.. lebih murah yakin, 1 A3 bs muat 9 foto 3R /6 foto 4R /1 foto 10r ATAU 1 foto ukuran A3 (hayo lu gede kan) cuma 5 rebu 😀 #truestory aku dah coba,

    Like

  7. setau saya , skrng mesin pencetak foto sudah pada digital deh … ini ga mihak siapa pun, cuma berdasarkan pengalaman …cetak foto di daerah kemanggisan binus, fuji jg … dari kamera hp dan kamera digital … perasaan bisa milih borderless ato yang ada lis putihny … note: “ini bukan pake mesin printer laserjet ato inkjet loh ya , tapi mesin cetak yang super gede” , kalau dari komen pakar2 diatas yang katanya kerja tukang cuci foto , pertanyaan nya, emank masi pada analog ? , dan buat author yang bikin article nya , mungkin bisa coba software editing … untuk di paskan ukurannya dulu …. yang paling penting itu aspect ratio nya… 😀

    Like

  8. Saya operator cetak Fuji Film “Tangerang” melihat kasus di atas sepertinya kesalahan terletak pada operator cetak Fuji di tempat kamu cetak,, seharusnya sebagai seorang Operator senior dan handal komunikasi sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan pahaman terhadap konsumen…. karena saya SELALU bertanya kepada customer saya ingin di cetak di kertas apa,, ukurannya berapa,, harganya sekian,, dan kalaupun ada potongan pada Cropingan akan saya jelaskan agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari…. jadi tinggal konsumen yang menentukan mau lanjut cetak atau mau di setting seperti apa saya rasa demikian jadi bukan standard FUJI FILM INDONESIA’y yang salah tapi faktor human error saya pikir, Terma Kasih….

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s