Posted in Movie, Review

[Film] 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

“Sebenarnya kita masih bisa terus sama-sama ya?
Tapi pasti banyak yg terluka. Buat apa kita bahagia kalau banyak yg nangis?”

Well, life is cruel just like that, honey. Bagaimanapun, sehati-hati apapun, kita akan selalu berbahagia di atas kesedihan orang lain. A dan B pacaran, pasti akan ada pihak C yg sedih dengan itu. Kabar sedih putusnya D dan E tentunya merupakan sebuah kabar baik bagi si F. Berita keberhasilan si G pastilah merupakan sebuah berita buruk bagi sosok H. Dst dst. Tak terelakkan tapi toh benar adanya.

Kalau selalu memikirkan bagaimana perasaan orang, kita tak’kan pernah bisa bahagia. Aku pernah membaca sebuah quote, yg berbunyi seperti ini: “I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody.” (Bill Cosby). So, i guess it’s acceptable to be selfish sometimes, to think of our own happiness first before other people’s…

Rosid dan Delia adalah dua sejoli yg berbeda latar belakang, status sosial, ekonomi, dan juga prinsip. Rosid (Reza Rahadian) adalah pemuda Muslim berambut kribo keturunan Arab. Sedangkan Delia (Laura Basuki) adalah tipikal gadis kota, beretnis China, penganut Nasrani.

Sekilas keduanya nampak liberal dan terbuka dengan perbedaan yg ada – saling mengantar saat yg lainnya menjalankan ibadah. Rosid sendiri bukan penganut Islam ortodoks; ia menolak memangkas pendek rambutnya ataupun mengenakan baju koko dan peci. Ia juga vokal mempertanyakan anjuran-anjuran agama yg menurutnya lebih berdasarkan tradisi daripada titah Allah. (I myself see those attributes as more of a religious statement). Namun tidak demikian dengan kedua orang tua masing-masing.

Hubungan mereka lancar-lancar saja sampai mereka bertemu dengan orang tua pasangan masing-masing. Baik Abah dan Umi Rosid (Rasyid Karim, Henidar Amroe) maupun Papa dan Mama Delia (Robby Tumewu, Ira Wibowo) menentang keras hubungan keduanya. Papa masih lebih lunak dan dengan halus meminta Rosid mempertimbangkan lagi keputusannya memacari Delia karena hal itu sulit bagi kedua belah pihak. Reaksi lebih ekstrim ditunjukkan Abah yg bahkan tak sudi disalami Delia – dan belakangan menginterogasi Rosid mengenai asal usul bibit-bebet-bobot Delia.

Untuk memisahkan keduanya, orangtua Delia memutuskan mengirim Delia kuliah ke Amerika (not again~ ga ada cara lain yg lebih orisinil dan efektif kah? Dan apakah selain Amerika, ga ada negara lain yg bisa dituju untuk melanjutkan studi?), sedangkan orangtua Rosid memilih mencarikan jodoh dan segera menikahkan Rosid. Pilihan jatuh kepada Nabila (Arumi Bachsin), gadis santun, soleha, berjilbab yg langsung merebut hati Abah dan Umi.

Ketika Rosid dengan tegas menolak? Jurus jitu klise kembali keluar – aku bahkan sudah tahu pasti word-by-word yg akan dikatakan Umi bahkan sebelum Umi membuka mulutnya: “Selama ini Umi kagak pernah minta ape-ape ama Ojid. Tapi kali ini, Umi minta… tolong Ojid jangan kecewain Umi.” Atau jurus pamungkas Abah: kalo lu ga lakuin (apa yg disuruh), lu bukan anak Abah lagi. Bah.

Menghadapi pertentangan seperti itu, Delia pun meminta timeout untuk mereka introspeksi diri dan mengkaji ulang tentang hubungan mereka. Namun yg berpikir nampaknya hanya Delia. Yg mengalami dilema pergolakan batin pun hanya Delia karena Rosid tak sekalipun tampak merenung, apalagi mencoba menghubungi Delia. Yg mencoba mempertahankan dan memperjuangkan kelangsungan hubungan keduanya pun hanya datang dari sisi Delia, karena Rosid hanya membeo saja.

Jadi, apakah keduanya bisa bersatu di tengah segala perbedaan yg ada?

Secara tematik, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta menawarkan ide yg bisa dibilang berani, walaupun bukan hal yg baru. Indonesia dengan pluralisme yg tak ada taranya, pastilah isu perbedaan menjadi makanan sehari-hari. Hanya saja untuk diangkat ke layar lebar, 321 menjajal sesuatu yg menjanjikan namun juga kontroversial. Karena isu beda agama – apalagi pernikahan – adalah isu yg sensitif dan sulit dicari jalan tengahnya. (Some compare this with CINtA or CIN(T)A, but i’ve watched neither of them). Kembali lagi: secara tematik menarik, secara eksekusi amburadul.

Pertama, cerita terlalu berpihak ke keluarga Rosid sehingga keluarga Delia tak mendapat porsi tampil yg sepadan, seolah keluarga Delia tak mempermasalahkan perbedaan keduanya. Kedua, selain Rosid-Delia dan keluarga masing-masing, tokoh dan elemen lain serasa hanya tempelan belaka. Termasuk sosok Nabila, yg menilik judulnya seharusnya berkontribusi lebih. Yet, she appeared a little too infrequently to make any impact to the story.

Kegiatan Rosid dengan puisinya, Delia dengan ekskul(?) SAR-nya pun hanya muncul sekali – which can be cut alright. Aku mengira scene itu ga ada sangkut-pautnya sampai tiba-tiba nyelip musibah banjir di mana Abah-Umi terjebak di dalamnya dan Delia muncul sebagai sosok dewi fortuna. o.O Konsep penolong-ditolong ini terlalu maksa dan cemen untuk dijadikan alasan melumernya hati mereka terhadap Delia.

Kemudian kita juga disuguhkan adegan tipikal: sekelompok orang membawa-bawa agama dengan mudahnya menuduh setiap perkumpulan lelaki-perempuan di malam hari sebagai tindakan maksiat yg harus diberantas atas nama agama. Atau Abah yg sepertinya penganut agama yg taat namun dengan mudahnya percaya dan menggunakan hal-hal “gaib” untuk mengubah pendirian Rosid. Manjang-manjangin durasi aja nih adegan! Beneran deh.

Kalau ada yg berpendapat Delia mempertimbangkan untuk berganti kepercayaan, aku malah ga melihat itu sebagai sesuatu yg signifikan. Dari sisi mana sih terlihat keinginan itu? Ia menyembunyikan buku yg bahkan tak bisa kubaca judulnya di balik bantal? Atau ia yg melepas kalung salibnya dan ber-Assalamualaikum? Aku sih melihat itu sebagai gesture toleransi aja. Ga enak kan dipandangin gimanaa gitu hanya karena memakai kalung berbandul salib? Dan aku juga sering membalas salam tsb walau bukan penganut Islam. Perpindahan memang menjadi jalan termudah, namun bukan hal ini yg kucari dari film 321.

Parahnya, saat hati setiap orang tua telah melunak dan menyerahkan segala keputusan di tangan Rosid dan Delia, keduanya tidak juga maju-maju. Keduanya tak pernah duduk berdua mendiskusikan nasib hubungan mereka ke depannya untuk mencapai kata sepakat untuk terus atau bubar. Dan akhirnya… kalimat pembuka di atas pun terlontar dari mulut Delia. Sebagai penutup, keduanya berdansa tarian Japin asal Arab dengan wajah sendu sampai layar menggelap dan nasib para tokoh ditulis dengan gamblang di tengah-tengah layar hitam. WTF~?

 

Ini cerita fiksi kan? That kind of ending works only in nonfiction, dude! Aku tahu masalah pasangan beda agama itu sensitif dan sulit dilogikakan, tapi bukan berarti dengan seenaknya memberikan ending yg mudah seperti ini dong! Berani membawa tema kontroversial ke layar lebar berarti sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dan tentunya di balik setiap film ada tujuan dari pembuat film kan? Nah, di 321 apaa???

Seiman bukan jaminan pernikahan akan langgeng, namun pernikahan campur juga tak selalu berakhir bahagia. Nevertheless, life is about choices we make, so take your stand! Pick a side and develop from it! Don’t give us this horrible (some said cowardly) ending and hope we’ll be satisfied by it. I don’t watch 321 to read (above all things) that each character lives their own respective lives happily with totally different partners.

You know what, i could even accept it if Rosid decided to be with Nabila instead. Anything would be fine, seriously!! As long as it’s conclusive.

Soal akting, tak ada satupun yg menonjol kecuali Henidar Amroe. Sosok teduh keibuan Umi berasa banget – yg pengertian tapi juga harus taat suami. Reza bermain santai, but i’m totally annoyed by Rosid’s snorty laugh. Laura lumayan – she cannot handle emotional scenes well yet so it felt forced. Sama halnya dengan Arumi; mencoba terlalu keras (tapi tak terlalu berhasil) untuk menjadi si alim Nabila.

Film 321 sendiri ga berjalan mulus. Awalnya cukup ringan dan terselip adegan sedikit lucu, namun kembali jatuh ke tipikal melodrama perfilman Indonesia menjelang pertengahan sampai akhir. Banyak adegan yg ga nyambung dengan emosi pemain yg ga berkesinambungan pula. Juga banyak adegan yg maksa banget.

So… to have 321 as the best movie in FFI 2010 is… dispiriting. Is this THE best movie we’ve got throughout the year?? Really?

_
Rating: 2/5
Director: Benni Setiawan
Production: Mizan Productions, 2010
Cast: Reza Rahadian, Laura Basuki, Rasyid Karim, Henidar Amroe, Arumi Bachsin, Robby Tumewu, Ira Wibowo
Genre: Drama Komedi

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s