Posted in Citizenry

Dummy, dummier, dummiest

Ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country.
~ John F. Kennedy

Penyataan di atas kerap terlintas di benakku kala aku sedang getol-getolnya mengata-ngatai para petinggi negara (yg pada dasarnya pantas menerima itu). Ada kalanya jadi merasa bersalah karena kok rasanya aku cuma bisa komplein doang tanpa bisa melakukan sesuatu; tetapi ada kalanya pula aku mencibir perkataan di atas. Karena kalau begini caranya kok rasa-rasanya kita sebagai rakyat ga berhak berteriak saat tertindas. Lagipula, kalimat di atas rasanya lebih tepat diucapkan oleh pemimpin negara yg telah maju dan berhasil menyejahterakan rakyatnya.

Betul, negara tidak bisa maju tanpa campur tangan rakyatnya, tapi kalau para pemimpin cuma ongkang2 kaki melihat rakyatnya yg sebenarnya udah cape ngurusin urusan yg bukan wilayahnya… gimana tuh? Ga bener juga kan? Apalagi mereka yg suka mengatasnamakan diri sendiri wakil rakyat yg dipilih oleh rakyat (yg mana?) – enek loh dengernya.

Truth be told, i’ve been wanting to write about this many weeks ago, but as days went by i don’t feel the need to do it anymore. I’d decided to drop this subject UNTIL i saw a friend’s post about (yet again) a local leader’s obnoxiously infamous statement. This time was about women asking to get raped when not dressed ‘properly’. Kalau pernyataan Bupati Aceh Barat, Ramli Mansur, ini ga bikin kening berkerut dan mata membulat tak percaya, i’m…speechless.

Bisa dibilang aku hampir 100% setuju dengan opini yg ditulis 21 Agustus 2010 lalu di Kompasiana (yg merupakan reaksi dari artikel west-aceh-district-chief-says-shariah-law-needed-or-there-will-be-hell-to-pay). Baca sendiri aja deh ya, aku udah males ngomel2in orang2 yg mulutnya ga disekolahin macam itu. Oh ya, aku juga setuju banget dengan pernyataan Bahtiar Effendy yg dikutip di artikel The Jakarta Globe di atas: this type of “incompetent leadership” is a growing problem in the archipelago. “It’s not just him — many of our local and national leaders are basically incompetent, which is why they come up with foolish policies.”

Bukan hanya foolish policies, tetapi juga uneducated, brainless statements. Gila, bisa2nya petinggi negara mengucapkan kalimat tidak simpatik seperti itu. Dia dan sekian banyak lainnya yg pernah kukutip dan kubahas habis2an sebelumnya. Aceh memang salah satu provinsi yg menerapkan hukum Islam secara lebih radikal, tetapi itu tidak berarti pemimpinnya berhak mengatur bagaimana rakyatnya menjalani hidup mereka, termasuk cara berbusana. Kita toh punya hak hakiki sebagai manusia terlepas dari apapun agama yg kita anut. Apa iya ada perempuan yg dengan sengaja ingin diperkosa? Memang wanita itu mahkluk apaan? Ada juga harusnya pemimpin itu ngurusin keamanan kota supaya para wanita merasa aman dan nyaman hidup dan beraktivitas di sana. *geleng-geleng*

This brings me to recite this point:

“9.) Don’t be Too Religious: Religion is man made. If you feel at any point that you are being too religious and your religious faith is hindering the way you work or behave with others, then it is time to change. Don’t take religion too seriously. No one knows if God actually exists so cool down a bit. There are better things to do than reading a bible or sitting for hours in the church unless and until you love doing it. If you do it out of guilt stop doing it.”

Fair enough, right? While I agree that religion is the steadfast fundamental of life, it’s clearly gone too far when someone gets to force you to wear dress A or not to wear B for the sake of saving you from going to hell.

Penyataan Bapak Bupati di atas memang dilontarkan tahun 2010 lalu dan (sepertinya) mengkhususkan itu untuk wanita Muslim di Aceh Barat saja. Namun, tak pelak kalimat itu muncul lagi ke permukaan dan menjadi bahan pembicaraan di dunia maya karena akhir2 ini di ibukota terdapat 2 kasus pemerkosaan (yg satu berujung maut) yg terjadi di ruang publik, di dalam angkutan umum pula! Ampuunn, Jkt makin amburadul deh. Dan seperti yg sudah2, dalam kasus pelecehan seksual seperti ini, kaum hawa yg selalu dipersalahkan: siapa suruh pulang malam2, salah sendiri jalan sendirian, atau makanya jangan pake pakaian yg mengundang. Ga pernah denger tuh laki-laki yg dikatain hidung belang, ga bisa nahan nafsu bejat, atau sejenisnya.

Seolah-olah terlahir jadi wanita itu adalah kutukan. Pake baju ngepas badan, salah; pake celana panjang ketat, salah; pake rok, salah; apalagi pake miniskirt atau hotpants, habislah sudah. Kalau udah kejadian, wanita selalu disalahin ga bisa jaga diri – kok laki2 ga pernah disalahin ga bisa jaga burung ya? Sorry ya kalau agak kasar gimana gitu, abis udah kesel abis sama mereka2 yg selalu menyudutkan kaum wanita. Apalagi ada yg bilang kalau ga berpakaian sesuai kaidah hukum agama tertentu pantas diperkosa. Dan nambah satu lagi nih pejabat yg menghimbau agar perempuan berpakaian lebih tertutup: Bapak Gubernur kita.

Ga habis pikir deh! Cewek pake pakaian ketat atau pendek sedikit katanya bisa membangkitkan birahi, lah kalo cowok pake jeans kedodoran sampe CD-nya ngintip ke mana2, berpakaian ketat nunjukkin otot yg kaya bola bekel, atau bahkan bertelanjang dada kok ga ada ributin bisa membangkitkan birahi sih?!?! Kalau cowok dibilang seksi, sedang cewek dibilang seronok. Itu sih emang dasar cowoknya aja! Harusnya tuh ya, preman2 yg suka nongkrong di jalanan yg diberantas, dan meningkatkan keamanan kota, bukannya memberi kiat aneh2 macam ini. Memangnya selama ini korban pelecehan itu pakaiannya serba kekurangan bahan ya?

Huff… mungkin aku harus menyerah mengharapkan adanya kesetaraan gender kali ya… secara pemikiran manusia2nya masih kolot tapi kelakuannya ga karu-karuan.

Kembali ke kalimat pembuka, aku benci mereka yg mengucapkan itu untuk menutup mulut yg udah begah melihat sepak terjang para petinggi negeri ini. Kalau memang kita harus SELALU bertanya apa yg bisa kita lakukan untuk negara tanpa negara berkewajiban untuk menyervis rakyatnya, apa gunanya kita punya pemimpin (yg kerjaannya cuma makan duit rakyat)? Sebagai rakyat kita sudah bayar pajak (yg menurut salah satu orang – di forum kaskus kalau ga salah – 80% sumber dana untuk APBN setiap tahunnya. Kebenaran hal ini masih perlu dikroscek, tapi anggep aja lah ya bener untuk kali ini).

Aku ga bilang semuanya taat pajak, tapi kan lucu ketika perusahaan besar yg jelas2 mengemplang pajak milyaran rupiah didiamkan begitu saja, dan malah menindas dan memeras uang wong cilik yg ga ada seberapanya. Istilah kasarnya, ngapain sih buang2 waktu nangkepin ribuan ikan teri kalau dengan nangkap satu ikan kakap aja sudah cukup untuk makan. Mungkin mereka ga pernah baca pepatah yg mengatakan memberantas itu harus ke akar atau dari kepalanya kali yaa…

Lebih lucu lagi melihat tingkah polah mereka yg duduk di kursi bergengsi di gedung mewah, yg masih bisa petantang-petenteng cengar-cengir setelah mengucapkan kata2 yg atau berbuat yg… gitu deh. Apa gunanya negara kalau bahkan tak bisa menjalankan fungsinya untuk menciptakan stabilitas dan menjamin keamanan warga negaranya? Yg ga berkapasitas bisa menduduki posisi penting dan tinggi, yg kompeten ditendang keluar. Siapa sih yg memilih mereka??? Seinget gue, gue cuma pernah nyoblos ups, nyontreng buat presiden/wapres doang deh.

Kalau begini terus, siapa yg patut bisa dipilih 2014 nanti? Haizzz…

Really, these crazy things make me want to study law and/or politics so badly.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s