Posted in Movie, Review

[Film] 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (777)

7hati7cinta7wanita

Ladies, really, don’t marry before you watch this movie.

Kalau saat menonton Minggu Pagi di Victoria Park aku kesal karena ketiadaan subtitle Bahasa Indonesia untuk dialog non-BI, film 777 membuatku kesal karena adanya subtitle Bahasa Inggris yg cukup membuyarkan perhatianku. Jujur subtitlenya membantu banget saat ada pemain yg berbahasa daerah, tetapi selebihnya engga banget deh.

Pertama, secara ga sadar mataku akan bergerak ke arah tulisan yg tertera di layar. Kedua, banyak dialog yg terjemahan Inggrisnya tidak begitu akurat (menurutku loh ya). Ketiga, subtitle membuat sensor suara menjadi tidak berguna – apa gunanya menyensor makian vulgar yg dengan gamblang tertera di layar kaca? Hellow, pengalih bahasa film 777, apa ga bisa ya memilih kosakata Bahasa Inggris yg lebih halus daripada itu? Aku saja ga nyaman membacanya.

Banyak orang yg mungkin tahu bahwa film ini banyak mendapatkan penghargaan bahkan jauh sebelum film ini diputar di tanah air (tayangan perdananya sekitar akhir tahun lalu kalau tidak salah). Dan mungkin sebagian besar yg datang ke bioskop untuk menonton tertarik oleh hal di atas – getting awards should suggest something about the film quality, right? Aku mungkin termasuk di dalamnya, walau tidak sampai duduk di ruangan teater. Namun jauh sebelum tahu ceritanya seperti apa, judulnya menarik perhatianku karena kemiripan dengan (judul) film yg juga ingin (tapi belum sempat) kutonton, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.

Tonggak penting dari film 777 berada di tangan Dr. Kartini Sp.Og (Jajang C. Noer) karena melalui kacamata beliaulah kita bertemu dengan pasien-pasien wanita yg ditanganinya, yg secara keseluruhan merupakan inti cerita 777. Selain menjadi tempat konsultasi masalah kewanitaan dan kehamilan, Dr. Kartini juga menjadi tempat curhat para pasiennya, yg menempatkan ia lebih dari sekadar pengamat. Ia peduli pada kaumnya, dan mempertanyakan (dalam hati) hal-hal yg terjadi pada pasiennya atau tindakan-tindakan yg diambil mereka.

I missed the opening minutes, so don’t mind about the order accuracy. Pasien 1: Yanti (Happy Salma), seorang pekerja malam yg datang ditemani seorang pria bernama Bambang. Problem: setelah menjalani tes, ia divonis menderita kanker mulut rahim yg memungkinkan ia harus merelakan rahimya untuk diangkat. Tipe: seksi, blak-blakan.

Pasien 2: Ratna (Intan Kieflie), seorang buruh pabrik yg memasuki fase ketiga kehamilan. Problem: tak pernah sekalipun kontrol ditemani sang suami walaupun mereka sudah menunggu kehamilan ini selama lima tahun pernikahan. Tipe: penurut dan setia.

Pasien 3: Lastri (Tizza Radia), wanita bertubuh subur yg amat dicintai suaminya, Hadi. Setiap kali datang selalu berdua dan terlihat sangat mesra. Problem: karena masalah berat badan, sulit hamil. Tipe: over-the-top cute, periang.

Pasien 4: Rara (Tamara Tyasmara), murid SMP yg senang mengemut lollipop namun dengan gamblang menyatakan dirinya “sudah telat dua minggu.” Problem: tidak mau hamil. Tipe: naif, tak pikir panjang.

Pasien 5: Lily (Olga Lidya), seorang Tionghoa yg juga sedang hamil besar. Bersuamikan seorang pribumi. Problem: datang dengan wajah lebam setiap kali konsultasi. Tipe: lemah, penakut.

Pasien 6: Ningsih, wanita karir yg baru memasuki bulan-bulan awal kehamilan. Arogan dan sombong. Problem: menuntut ingin tahu jenis kelamin calon anaknya – hanya ingin anak laki-laki untuk dididik dengan keras agar tak menjadi selembek suaminya. Tipe: dominan, tak masuk diakal.

Enam pasien wanita, enam tokoh sentral. Menurut penglihatanku, wanita ketujuh adalah Dr. Kartini sendiri, karena walaupun tak tergambarkan dengan jelas, ia memiliki masalah kewanitaannya sendiri. Ia skeptis akan cinta. Terlebih lagi setelah menyaksikan betapa tak berdayanya pasien-pasien wanitanya di hadapan laki-laki. Geleng-geleng kepala akan perilaku Ningsih dan Rara, geram akan pengingkaran Lily, kagum pada ketegaran Ratna, membesarkan hati Yanti, serta berbinar melihat kemesraan pasangan Lastri-Hadi. Namun, pendapatnya akan segera berubah ketika fakta terselubung mulai tersingkap, yg saling bertautan dan bersilangan satu dengan lainnya.

[START OF SPOILERS]

Pertama, kesolehaan Ratna ternyata dimanfaatkan suaminya. Air susu dibalas dengan air tuba. Bukannya menafkahi keluarga, ia dengan entengnya selalu meminta uang dari Ratna, yg ternyata digunakannya untuk menafkahi anak lelaki dari istri keduanya. Pacar Rara menolak bertanggungjawab dengan alasan klise: “Aku belum siap.” – kalo belum siap ya jangan macem-macem atuh! Oh, have i mentioned that Rara is Ratna’s lil’ sis’?

Lily berulang kali membuat frustrasi Dr. Kartini karena terus menerus berdalih suaminya mencintainya dan tak sengaja melukainya – WTF. Ketika kita disuguhi gambaran bahwa lelaki itu brengsek, kita diingatkan pada sosok Ningsih. Ia menjadi cerminan wanita dominan yg justru menekan sang suami. Dr. Kartini pun hanya sanggup mengurut dada menghadapi tingkah polah Ningsih yg di atas batas ambang kewajaran itu.

Dan ketika Dr. Kartini (juga penonton) merasa bahwa tidak ada harapan lagi bagi kaum perempuan di zaman emansipasi ini (selalu jatuh menjadi korban namun tak sanggup melawan), ia seolah menemukan secercah harapan melalui hubungan harmonis sepasang suami-istri di diri Lastri-Hadi. Sayang seribu sayang, ternyata Hadi juga bukan tipe lelaki yg puas dengan satu istri – with his own reason. Dr. Kartini pun ternganga dibuatnya.

Ironisnya, cerita tentang cinta-tulus-ku-terima-kau-apa-adanya justru datang dari tempat dan untuk orang yg sangat tidak terduga. Di balik profesi gelap Yanti, Bambang dengan tulus mencintai dan berharap mampu menjaganya sebagai seorang suami.

[END OF SPOILERS]

Di tengah kemumetan menangani setiap pasien dengan problematikanya masing-masing, kehadiran dokter muda baru di RS tempat Dr. Kartini bekerja seakan hanya menaburkan garam di atas luka terbuka. Lidah tajam Dr. Rohana (Marcella Zalianty) tidak disenangi Dr. Kartini, terlebih ketika ia berusaha mengorek tentang kehidupan pribadi Dr. Kartini dan berusaha mengubah pandangan beliau yg menurutnya salah itu.

Namun, tak bisa dipungkiri melalui Dr. Rohana lah Dr. Kartini berhasil mendapatkan jawaban atas apa yg dicari dan dipendamnya selama belasan tahun.

777 bukan film pertama yg mengangkat tema perempuan di masa kini. Sebelumnya sudah ada Perempuan Punya Cerita atau Berbagi Suami. Lebih mirip BS sih dibanding PPC karena tokoh-tokoh 777 saling berkaitan satu dengan lainnya. Bedanya 777 disutradarai dan ditulis oleh seorang pria (yg dialog-dialog indahnya patut diacungi dua jempol.)

Soal cerita, jujur aku ga bisa menangkap apa pesan yg ingin disampaikan lewat film ini. Kalau hanya menggambarkan realita kehidupan masa kini sih sudah pas: ada kehidupan malam, kehidupan bebas, KDRT, dan perselingkuhan yg saking umumnya sudah seperti makanan sehari-hari. Miris? Pasti. Prihatin? Jelas.

Kalau ditilik dari pernyataan penutup Dr. Kartini, apakah wanita tak boleh melupakan kodratnya? Iya, tetapi aku ga terima kalau kita hanya boleh diam menerima ‘takdir’ atau dianggap seperti pembantu yg hanya mengurusi urusan rumah tangga. Ngeri banget kalau gitu jadinya.

Yg jelas, film ini bisa dibilang tidak berpihak pada kaum lelaki karena sepanjang film yg ada hanyalah gambaran betapa tidak tahu diri dan malunya mereka – which led me to come up with the opening sentence. Marriage life has never looked so hopelessly horrifying.

_
Rating: 3.5/5
Director: Robby Ertanto Soediskam
Production: Anak Negeri Film, 2010
Cast: Jajang C. Noer, Olga Lydia, Happy Salma, Intan Kieflie, Tizza Radia, Tamara Tyasmara, Marcella Zalianty
Genre: Feminism, Drama, Sosial budaya

~pic source: filmfanaticindo, photoshopped by me~

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s