Posted in Journal

Perbandingan

Tidak akan pernah ada akhirnya membandingkan diri sendiri dengan orang lain, terutama membandingkan apa yg tak kita punya dengan apa yg orang lain miliki. (=it’s eternally pointless to compare what we don’t have with what others do, or what they are to what we are not.)

Kalau dipikir-pikir sih ada benarnya, tetapi kalau dipikirkan lebih dalam lagi, itu kan esensinya perbandingan? Membandingkan suatu hal dengan hal lainnya dan mencari mana yg lebih baik, mana hal yg dimiliki hal satu yg tak dimiliki yg lainnya. Kalau ga demikian ya bukan perbandingan dong namanya?

Ini juga inti dari perasaan iri – tetapi bukan dengki. Menurut KBBI keduanya memiliki arti yg sama, namun menurutku pribadi keduanya berbeda. Iri lebih normal, dengki lebih negatif. Wajar merasa iri akan apa yg orang lain punya (yg belum kita miliki saat itu), namun merasa dengki jelas lebih dari itu. Menurutku, ketika kita melihat orang lain dan sadar tak sadar berkomentar, “Enak ya… Pengen ya… Coba kalau…” itulah iri. Dengki = sirik kali ya: kesal, benci melihat kelebihan orang lain.

Iri juga sebuah bentuk perbandingan di mana kita sebagai pembandingnya berada di posisi yg lebih lemah. Ga mungkin kan kita mengirikan sesuatu/seseorang yg ‘kurang’ dari kita? Walau demikian, aku melihat perasaan iri sebagai suatu perasaan yg bersifat positif. Sah-sah aja merasa iri, karena perasaan itu mampu memotivasi kita untuk berbuat lebih untuk mencapai sesuatu yg lebih baik – hal yg kita irikan dari pihak lain. Lain halnya dengan dengki. Merasa dengki lebih cenderung mendorong perasanya berbuat sesuatu untuk menjatuhkan pihak sumber kedengkiannya.

Bingung?

Pendek kata, membanding-bandingkan adalah hal yg lumrah. Dan tentunya akan menyenangkan kalau kita menjadi pihak yg berada di atas angin. Although in some aspects I’d rather not compare myself to others, there’re some characteristics of mine that I hope aren’t being compared to those of others. Karena menurutku comparison itu ada batasannya. Ada hal yg sebaiknya tidak dibandingkan, dan tidak semua hal bisa dibandingkan dengan orang lain. Untuk aku pribadi aku lebih mencoba untuk mengurangi frekuensi membandingkan diri sendiri dengan orang lain – walau untuk urusan merasa iri lebih susah dibendung.

Yahh…intinya perbandingan dan perasaan iri sih wajar-wajar saja selama tidak berlebihan. Pepatah mengatakan “the grass is always greener on the other side”; kita merasa bahwa kehidupan orang lain lebih baik daripada kehidupan kita. Pada kenyataannya kita menjalani hidup kita dan kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan orang lain. So, i am still in the process of being content with what i am and have now – and continuously improving myself for the better. It ain’t easy, but i’m reaching there. With my own pace. In my own way.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s