Posted in Journal

"Tidak ada nasib, hanya ada pilihan"

“Tidak ada hal yang disebut dengan nasib. Karena yang terjadi, semuanya adalah pilihan.”
~ Dong-yi; DONG YI (K-drama) Episode 54 ~


Kalimat di atas diucapkan Dong Yi kepada Selir Jang di momen-momen terakhirnya berhadapan dengan si selir jahat ibunda dari Putra Mahkota tsb. Ia membahas kembali ucapan mengenai nasib siapa yg (akhirnya) menjadi cahaya dan bayangannya. Dan kalau diresapi secara mendalam, kalimat di atas mengandung kebenaran. Karena banyak yg menggantungkan hidupnya kepada nasib – udah nasibnya begini atau begitu – tetapi nasib sejatinya memang adanya di dalam genggaman kita sendiri. Yg bisa mengubah nasib adalah diri sendiri, yg bisa menyalahkan keadaan pada nasib juga diri sendiri. Tinggal memilih mau jatuh ke lubang yg mana: kejayaan dan kemajuan atau kejatuhan dan kemunduran.

Tapi kan banyak yg bilang, “manusia boleh merencanakan, Tuhan pula yg menentukan”? Itu juga betul, tetapi kalau tidak melakukan apa-apa untuk mengubah keadaan atau mengejar impian, apa iya Tuhan akan dengan baik hatinya menjatuhkan emas berlian di teras rumah kita? Aku ga bilang mukjizat tidak ada, tetapi segala sesuatunya memang adalah buah dari pilihan kita sendiri. Sejak usia tertentu kita bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yg kita buat, baik hasil maupun akibatnya. Life is full of choices, and we are lucky to be given a chance to choose.

We are what we are now as a result of a chain of choices we have made until now. Take me for an example. Although not really given a chance to choose my junior and junior-high schools, i did make a choice whether to study or laze around – to earn good grades or fail, to do my homework or cheat others’ – including whether to make friends or enemies. Then, i chose whether to enter IPA or IPS – science-to-be student is somehow able to choose to drop that and transfer to social class. After passing the national exam, i was ‘free’ to choose my major and where to study it – with a note that it was still within my parents’ means and permission. Restrictions were placed, but they never really interfered with our university hunting.

Being away from home gave us the responsibility to care for ourselves – when parents couldn’t stick their heads out of the door to inform that dinner was ready or to check if we studied. I then searched for jobs and so on, and decided to come back. I was the one who made the decision to stay here. I decided whether to look for jobs and submit the job application. I decided whether to attend an interview, whether to project myself positively, and whether to accept or turn down an offer. I do not say that there’s no divine intervention; yes, there’s indeed divine intervention in between, like when I was ready to work but something cropped up that cost me my job(-to-be). Yet… what has happened till today is more-or-less the result of all the decisions I have made. It may or may not be the snowball effect…

Pada akhirnya, segala sesuatunya, sekecil dan tak penting apapun suatu hal, memerlukan sebuah keputusan untuk menjalankannya. (Makanya banyak yg berpendapat bahwa “memilih untuk tidak memilih” (golput) pun sudah merupakan sebuah pilihan yg harus dihargai). Dan keputusan merupakan hasil dari pilihan. Termasuk untuk menjalani hidup dengan baik dan menjadi orang baik dan jujur.

For me,
I am in charge of my own life.
I make my own decisions, and thereafter that’s how it’s gonna be.

Bagaimana dengan kamu?

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s