Posted in Citizenry

Policies for (and by?) dummies

“funny ‘best possible’ solutions high-ranking officials have been suggesting to deal with Jakarta’s continuous gridlock woes – so unbelievable I believed they ripped off school graders’ minds.”

On April 02 I said I may be writing about the funny systems (one of which is the point above) in my country, but I never had the desire or zeal to really write up (or rant) about it. Never thought I’d follow it up, but I guess I’ll do it now. Cuz things have gotten worse and worse – it’s so implausible I cannot make up my mind whether to laugh or jeer at them. The officials, I mean.

I have no idea if things ever get better in Jakarta – and Indonesia – because they don’t directly impact my personal life. Apart from the awful traffic jam, of course, as an example. Of course with the current situation, going out by myself is getting harder and harder to do. Not because I’m not allowed, well that’s one point, but because I don’t dare to. I don’t even have the guts to (try to) drive anymore as well – the herd of motorcycles (and their crazy maneuver) allows no slightest sign of unalertness!

Sigh. I’ve been drifting off topic again.

I’ll dive head-first straight into it then.

(1) Kita dosa kalau beli BBM bersubsidi karena mengambil jatah mereka yg tidak mampu. Bahkan kabarnya MUI (atau lembaga keagamaan lainnya kalau bukan MUI) sampai diminta mengeluarkan fatwa (haram) tentang BBM bersubsidi – haram gitu jatuhnya bagi yg mampu untuk beli BBM bersubsidi.

Sekarang gini deh. Definisi ‘mampu’ ‘tidak mampu’ itu ga diberikan dengan jelas. Terus kita disalah-salahin kalau beli yg bersubsidi. Harga pake dibandingin-bandingin sama negara tetangga yg harganya jauh di atas segala. Terus disindir-sindir pake mobil mahal nan mewah kok belinya BBM bersubsidi – malu dong! Sedangkan definisi mobil ‘mahal’ dan ‘mewah’ juga ga diberikan. Semua kata-kata sifat tersebut di atas itu sifatnya relatif loh. Ibaratnya hanya yg tinggi dan cantik dan langsing yg boleh naik Busway. Tinggi oke lah bisa diukur, langsing bisa diukur juga (walau rada susah tanpa menyerempet pelecehan), tapi cantik?? Gimana coba caranya ngukur kecantikkan?? Sama halnya dengan kategori orang mampu bermobil mewah yg membeli BBM bersubsidi jatah yg kurang mampu. Tolok ukurnya apa???

To say it more simply, yg beli BBM bersubsidi jelas tidak mampu. Tidak mampu beli BBM non-subsidi. Yg harganya hampir 2x lipat harga yg disubsidi. Poin kedua, masyarakat tidak mampu mana yg sanggup membeli kendaraan roda empat, aku tanya deh. Mobil tua pun butuh puluhan juta, bung! Berdasarkan definisi ‘tidak mampu’-ku, mereka-mereka itu sudah cukup kesulitan memenuhi kebutuhan perut, mana mikirin lagi yg namanya premium?

Lagipula, sebagai warga negara/rakyat, kita berhak loh menikmati fasilitas yg diberikan oleh negara. Dan wajib hukumnya negara melayani rakyatnya. Kalau soal bahan bakar aja negara mau lepas tangan ga mau menyubsidi, dalam bidang apa negara mau berpihak pada rakyat yg setiap tahunnya bayar pajak (yg seringkali di atas yg semestinya)? Hidup bukannya dipermudah, tapi malah dipersulit.

(2) Banyaknya kendaraan yg berlalu lalang di jam-jam sibuk – lebih tepatnya sepanjang hari sih. Salah satu cara mengatasinya? Ada usulan pake warna mobil. Lalu ada usulan pake nomor plat – ganjil genap. Sampai sekarang belum jelas solusi mengerikan mana yg akan diujicobakan. These preposterous solutions is what made me argue that they actually ripped off school graders’ mind. Because such opinion is so child-like.

It’s like asking, “Hey, kids, what do you reckon we should do to hedge down traffic jam?”
One palm raised. “I know! How about we pick colors, missy?”
“Can you explain more, honey?”
“Emm… so Monday is blue, Tuesday is red, Wednesday is green, …”
“That’s good. Anyone else?”
“How about we go by brands, missy? So Monday is Honda, Tuesday is Toyota, … ?”
“How about we ask everyone to walk to work, missy…? It’s healthy!”
(the lesson goes on…)

(3) Merasa 3-in-1 kurang efektif (karena ada joki dsb), ada usulan baru untuk mengadopsi sistem ERP yg diterapkan di Singapura. (See? MRT ngikutin S’pore, sekarang ERP juga niru Spore. There’s so much we can learn from S’pore without spending much money on traveling to Europe to conduct ‘studi banding’ – ermm…comparative study? – right?) Namun soal tarif ERP ga sama sekali mengikuti yg diterapkan di sana. Entah berdasarkan apa usulan harganya 75-100.000 per entry, yg anehnya sudah disetujui dan tinggal menunggu persetujuan gubernur.

SIAPA SIH YG NENTUIN HARGA SEENAK UDELNYA BEGITU?!?!

Di negeri asalnya harga per entry itu berkisar antara 50 sen sampai 2 dollar-an, gila apa masang harga setinggi itu? Gaji siapa yg kuat bayar ERP segitu? Makan tuh ‘Bebas macet? Bayar 100rb’! Ga punya otak. If the governor passes that brainless proposition, i’m so gonna wring him dry!

(4) “Malu dong ambil jalur busway.”
It tells us to be ashamed for taking the special buses’ line, yet they shamelessly take ours. Tanpa ada gantinya, jalan kita diambil. Gimana ga pada teriak? Okelah, memang tujuan dibikin Busway supaya orang-orang give up kendaraan pribadi dan beralih ke Busway. Ya oke kalau fasilitasnya memadai dan mudah diakses. Nah ini mau ke halte Busway-nya aja jalannya ngiter-ngiter nguler jauh tenan, belum lagi jadwal bus yg ngaco-ngaco – mending ada jadwalnya! Menunggu satu bus aja bisa jem-jeman (katanya). Dan selama beberapa minggu menuju Kuningan di jalanan super padat dan macet hampir tak terlihat ada bus yg melintas.

Bus yg ada pun ga dirawat dengan baik – baru sekian tahun warnanya udah pudar, badan kotor, jalanan sering ambles ga jelas, sering kebut-kebutan nabrak sana-sini – ga enak dipandang deh! Kalau gini caranya, gimana mau mengharapkan orang pindah ke situ? Hal mendasar aja deh, banyak kan orang tua yg ngeluh ga kuat naik turun tangga dari dan menuju halte Busway. Jangankan mereka, kita yg muda aja gempor kalau harus ngejalaninnya tiap hari!

(5) Argumentasi yg hampir sama kusampirkan untuk kebijakan baru-baru ini yg melarang parkir di sepanjang jalan Hayam Wuruk Gajah Mada. Bukan masalah menghapus lapangan pekerjaan bagi sekian banyak tukang parkir aja, tapi lebih kepada ga ada lahan parkir yg memadai di sana makanya orang-orang pada mengambil trotoar dan jalur lalu lintas. Berderet-deret pertokoan dan rumah makan, gimana pelanggan mau datang kalau ga bisa parkir? Jalanan memang jadi lebih lengang – jelas aja, wong nambah satu jalur baru! (Apa mereka ga mikir apa efek Busway yg ngambil satu jalur pengendara? Baca: MACEEET!!!)

Mbok ya dipikir dulu sebelum mengambil dan menjalankan suatu keputusan: viable kah, doable kah, berpotensi untuk berhasil kah? Paling engga studi banding ke Solo gih, ketemu Pak Jokowi dan tanya apa kiat suksesnya. Di sana ia membabat (habis?) PKL (pedagang kaki lima) DENGAN melobi mereka lebih dari 50x dan memberikan kios gratis di lokasi lain. Lebih manusiawi dan ada jalan keluarnya kan? Ga cuma sur, gusur, gusur tanpa mikirin mau ke mana para korban penggusuran itu.

(6) Critical cases left unsolved, corruption blooms like no tomorrow, suspects flee away. Citizens yelp, you sit there high and tall. You put on that exact same face and expression while addressing different topics. Words get undone, statements left unexecuted. Just please stop talking. Get the work done, for goodness sake! Stop promising things you never want to fulfill. Like always: “kami butuh bukti, BUKAN janji.”

Never thought i’d say this: WHY DID I CHOOSE YOU. WHY DID I TRUST YOU. WHAT DID I SEE IN YOU.

(7) Ngomong sih gampang, coba gih lu yg mimpin, bisa apa? Bisa buat perubahan apa!?
Mikir gitu ya? Hmmm…ga pernah kepikir sampai ke situ sih, since i know how dirty politics is. It’s too late, but since the proposal of Busway is on, i already wonder why the government needed to pour so much budget into this when Jakarta already has more than enough public transportation – mulai dari ojek, bajaj, sampai ke metromini. Halte-halte bus juga udah ada walau ukurannya kecil, ga terawat, dan jarang disambangi sama angkutan umum juga sih. Nah, masalahnya kan itu – halte kurang (terjaga) dan supir yg indisipliner, juga soal keamanan. Seharusnya kalau mau memberikan solusi kan mengarah ke akar permasalahan sehingga problem yg ada bisa tuntas diatasi.

Menurutku, seharusnya dana yg dikucurkan untuk membangun halte bus dan pancang-pancang jalanan busway itu digunakan untuk memperbaiki dan memperbanyak halte-halte bus di seluruh pelosok Jakarta; mengganti kendaraan bobrok ga layak pakai dan lihat dengan yg baru – dan merawatnya!; mendisiplinkan para supir agar taat rambu dan aturan yg berlaku: jangan ngetem, naik-turunin penumpang sembarangan, jangan bergelantungan di pintu; meningkatkan keamanan di jalanan.

Itu polantas jangan cuma mejeng nyari mangsa yg salah tikung atau apa terus malak minta duit, jaga dong keamanan dan kenyamanan kota! Tentang perlu tidaknya ada jalur khusus kendaraan umum memang harus dikaji ulang. Singapur bisa lancar walau tanpa jalur khusus mungkin ga bisa diterapkan di sini mengingat jumlah kendaraan di Jakarta duileh banyaknya. Oya, itu tuh para pengendara motor juga harus diajarin sopan santun! Lalu diujicoba deh.

Kalau semuanya tertib dan manis berkendara, dijamin ga perlu lah pake acara Busway-busway-an segala. Mending fokus ke MRT – karena kalau pengerjaan MRT kayak Busway yg meleset sasaran, rasa-rasanya nasibnya ga akan beda jauh. Dan Jakarta bebas macet tetap menjadi impian. Yg ini harus bergerak cepat nih. Aku ga mau prediksi Jakarta akan lumpuh total di tahun 2014 kalau ga ada perubahan jadi kenyataan… Ngeri euy!

I still want to survive here. Please be nice to me…

Anyway, just my two cents.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s