Posted in Journal

"Reading Brings Knowledge – Writing Brings Wisdom"

Itu judul tulisan Rene Suhardono di kolom Ultimate-U-nya di Kompas, 11 Juni 2011. Biasanya bahasanya berbelit-belit dan a bit pretentious, tapi tulisannya kali itu bener-bener ngena ke aku. Mungkin karena topiknya berhubungan dengan apa yg senang kulakukan kali ya. Bagian-bagian yg kusuka ku-copas di bawah ini:

[…] Kalau ada satu kebiasaan yg ingin saya tanamkan sedari kecil pada anak-anak saya adalah keasyikan membaca dan menulis. Kebiasaan menjadi “kutu buku” telah banyak membantu saya melalui masa-masa paling sulit, selain juga memberikan ide-ide terobosan dalam karier dan kehidupan. Namun, yg terpenting, membaca buku bagi saya selalu mendatangkan kenikmatan luar biasa.
 
Knowledge comes, but wisdom lingers. Start with reading & proceed with writing. Membaca membuka pintu ilmu untuk mengetahui hal-hal baru, memahami budaya dan pemikiran sesama manusia, serta menjelajah kisah cerita. Sementara itu, menulis membuka pintu hati untuk mengeksplorasi kedalaman pemikiran dan perasan diri. […] Titik awal semua berkah yg senantiasa saya syukuri ini adalah saat saya memutuskan untuk menulis. Apakah anda sudah memutuskan untuk melakukan hal yg sama?*
 
Clear writing is a sign of clear thinking. Pikiran manusia umumnya seperti kutu loncat yg berlompatan ke sana kemari tanpa henti. Saya pernah membaca kalau manusia normal memikirkan 10.000-15.000 pemikiran setiap hari. Bayangkan betapa riuh dan bisingnya isi kepala kita? Satu hal yg saya kagumi dalam diri para penulis andal […] adalah kejernihan pemikiran mereka. Tidak pernah mudah membuat orang lain mengerti dengan tulisan. Tidak pernah gampang merangkai kata-kata menjadi tulisan apik dan menjadi cerita yg menggugah. Menjadi penulis mengajari saya untuk lebih memahami cara-cara berpikir, berkontemplasi, dan berkomunikasi dengan lebih baik. 
 
Writing is never about knowing – it is about sharing & caring. […] Ada satu kesamaan di antara para perangkai kata, yaitu keinginan untuk berbagi dan kepedulian untuk berkontribusi melalui tulisan.
 
Writing is about leaving our footprints in life – it is about our legacy. Kelaziman menulis paling tidak seharusnya terangkat dalam era digital sekarang. Jutaan blogger Indonesia selain jutaan pengguna facebook, twitter, dan mailing list adalah bukti budaya menulis yg tidak akan pernah hilang, bahkan semakin menggelora.**
 
Sahabat saya, Bapak Blogger Indonesia, @enda, pernah memaparkan dalam satu kesempatan bahwa apa pun yg ditulis di dunia maya bisa jadi akan abadi dan merupakan rekam jejak kemanusiaan paling nyata. Apabila benar demikian, kalimat Latin ini terasa sangat sesuai: Semper letteris mandate – Sic transit gloria mundi.***
 
(for the full article, go here)


Oke kan tulisannya kali ini? Yah, menarik engga-nya suatu hal memang tergantung masing-masing individu. Bagi yg ga minat tentang dunia baca dan tulis-menulis mungkin akan melewatkan tulisannya kali ini. Aku pribadi hampir 100% setuju dengan apa yg ditulisnya di sini (hampir loh ya. Hampir…).

Aku senang membaca dan menulis. Walau inginnya membaca sesuatu yg menarik dan berarti, karenanya seringkali terbawa emosi kalau buku yg sedang/telah kubaca ga ada bobot isinya. Karena membaca kan memerlukan waktu – kita harus menyediakan waktu untuk membaca, apapun itu – makanya aku mengharapkan bacaan yg berkualitas. Kalau engga, percuma kan udah buang-buang waktu untuk sesuatu yg ga worth it? Cuz the time wasted reading useless stuff is gone forever.

Lain halnya dengan nulis. Menulis jelas juga memerlukan waktu luang untuk melakukannya – yg mungkin lebih banyak daripada yg diperlukan untuk membaca. Karena menulis merupakan buah pikiran sendiri, yg harus dipikirkan dengan masak apa temanya dan bagaimana sistematika alur dan konsistensi penulisannya agar ide mengalir lancar, ga lompat-lompat, serta mudah dipahami dan diikuti. Membaca bisa membuat pikiran suntuk jadi jernih lagi (misalnya dengan membaca bacaan yg ringan atau lucu), menulis ga akan jalan kalo lagi ga mood. Kalau engga, bisa berjam-jam duduk di depan komputer atau buku tanpa ada ide yg mengalir keluar – kayak kalo lagi bikin makalah atau tugas report untuk dikumpul.

Di bawah ini merupakan hal-hal yg membuatku suka menulis:

Writing for me is a means of relieving stress. It’s a way to keep me healthy, mentally. I can say and express whatever i want to in writing, the privilege i don’t have in speaking. Banyak hal yg sebaiknya ga diucapkan lah, harus jaga perasaan orang lain lah, ngomong sembarangan bisa bawa masalah lah, but I face no such restriction when writing down my thoughts. (I freely write what I feel, no censorship needed!) Unless somebody gets to read my journal and is peeved about it.

Writing is also a way of improving my writing skills. Apalagi kalau nulis dalam bahasa asing yg sedang dipelajari, menulis akan mengasah kefasihan kita dalam penggunaan dan penguasaan bahasa asing tersebut. Bukannya sombong, tapi kalau lagi belajar bahasa tertentu, suka kebawa aja nulis dalam bahasa itu *nyengir* (Urusan nulis dalam bahasa Inggris ato Indo, aku lebih ngikutin mood aja. Lagi mood nulis pake bahasa apa; lebih gampang ngutarain pendapat pake bahasa apa. Lebih ke situ sih.) Sama kayak kalo kita lagi mempelajari hal tertentu, kadang tanpa sadar omongan kita nyerempet-nyerempet ke hal itu kan? Misalnya, lagi belajar tentang ‘green: go green, CSR, 3Rs, etc’ dalam pembicaraan dengan temen-temen suka make jargon-jargon atau istilah-istilah itu.

Writing when i’m overwhelmed – it’s a kinda refuge to sort my feelings out. Diari bagiku adalah tempat pelarianku ketika aku ga bisa berbagi dengan mereka yg hidup. Ketika aku memerlukan timeout untukku sendiri; when there’s no one to lend their shoulders or when talking to somebody is just not a viable option—or it doesn’t help. “Menulis membuka pintu hati untuk mengeksplorasi kedalaman pemikiran dan perasan diri.” SETUJU BANGET! Oftentimes experiencing mixed feelings – campur aduk antara semua jenis perasaan dan ga tau gimana ngejelasinnya. Namun ketika menulis, perasaan itu tentu aja harus bisa dideskripsikan dengan cukup jelas.

Karenanya aku akan meraba-raba dan menggali lebih dalam lagi supaya apa yg aku rasakan, pikirkan, dan alami bisa tergambarkan dengan jelas dan masuk akal. Pemikiranku bisa dituangkan dengan menyeluruh tanpa pretensi. Aku mencoba jujur dan terbuka dengan diriku sendiri, entah itu yg baik yg baik maupun yg buruk – walaupun jujur tulisanku lebih beraroma negatif – karena dengan begitu, my mind is somehow purified from dirty, negative thoughts. Through writing, I get to know myself better and see myself in new light. I become more self-conscious in a sense. I reintroduce myself to me and reconcile with the old/new me – depending on the situation.

I have a restless mind – otakku memikirkan begitu banyak hal sampai-sampai aku ga sadar sedang memikirkannya. Aku ga ngitung dan ga tau apa iya aku mikirin 10.000 hal sehari, tapi aku jelas berpikir akan banyak hal, terutama saat sedang sendiri. Kalau sedang melakukan sesuatu, pikiran kita akan terfokus pada hal tsb – no time for anything else. Tapi saat sedang lowong, itulah saat pikiran akan berseliweran ke mana-mana. Saat orang bengong, saat itu bisa dipastikan ia tidak sedang berpikiran kosong – (bisa jadi) ia memikirkan sesuatu hal yg tak berhubungan dengan apa yg sedang dibicarakan, makanya ga konsen dan menyimak.

Writing is, lastly, a way of storing my precious thoughts into a safe haven. The ‘burden’ is lifted off my mind, yet i can go back to that anytime in the future. It also serves a reminder should i ever forget of a certain thing in times to come. Saat suatu hal tak bisa lepas dari pikiranku, saat itulah aku tahu aku harus menuliskannya. Karena kalau tidak, aku ga akan bisa fokus pada hal lain yg (mungkin) seharusnya kulakukan dan pikirkan.

Aku sendiri merasakan sensasi tersendiri saat membaca kembali apa yg telah pernah kutuliskan sebelumnya. (Banyak hal dan kejadian yg seolah terlupakan.) Bisa ketawa sendiri, mesem-mesem mengingat suatu kejadian, ataupun nangis lagi. Poin terakhir jelas yg paling malesin untuk diinget kembali, tapi itu juga mengingatkanku akan banyak hal yg telah kulalui sampai bisa seperti ini sekarang. Baik buruk itu lumrah. Yg terpenting belajar dari kesalahan. One thing for sure: i can’t give up on writing. It brings in so much pleasure! =)

_
*) Melakukan hal apa nih? Kalau nulis, jawabannya: YA! (Walaupun untuk baca pun jawabannya tetap sama sih, hehehe…)

**) Hmmm…mungkin bukan budaya menulis kali ya, melainkan budaya berbagi. Saking getolnya berbagi, now it seems that people share just too much information already. Kalau di facebook aja udah gila-gilaan status update-nya, twitter sepenuh apa ya? (Karena twitter kan tempat bercicit, alias share the littlest things we’d like to.) Toh nge-post status ga mengharuskan si empunya akun memiliki sistematika menulis yg baik. Lain halnya dengang blogging, yg notabene-nya memang berbagi opini, pikiran, dan cerita melalui tulisan.

***) Another reason i don’t really fancy Rene’s columns is because he always ends his article with a sentence in another foreign language but English, which left untranslated. I usually simply dismiss it since i don’t bother to look up the internet for the meaning. Nevertheless, i don’t get it. If it’s in English, we can safely assume that people are generally English-literate – it’s the international language anyway – thus able to fathom the gist of simple English sentences without much translation. But if it’s written in another language like Latin in the above example, isn’t it better to translate it? It clearly doesn’t hurt to put the meaning in bracket (especially) since he wrote that “if it’s true, the following sentence in Latin seems befitting (to the topic)” but we I don’t understand what the heck it is. How can I agree or disagree with his opinion, then? 

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s