Posted in Travelogy

Tertipu wisata belanja tas Tajur

Mungkin banyak yg akan mengoblok-goblokkan aku setelah membaca ini, tapi aku akan tetap maju dan mengeluarkan unek-unekku ini. Selama aku ga mendengar/melihat langsung sindiran orang terhadapku, aku ga peduli. Jadi, jangan menyindirku atas apapun di post ini, janji?

Melihat promosi pusat perbelanjaan Tajur di Bogor di program “Wisata Belanja dan Kuliner” di ElshintaTV beberapa waktu (bulan?) yg lalu dan cukup terpukau dibuatnya. Aku ga pernah mendengar lokasi ‘wisata’ tersebut dan membuat mental note untuk mengunjungi tempat itu saat bertandang ke Kota Hujan, yg cukup sering aku (dan keluargaku) lakukan. Beberapa tempat yg pernah ditampilkan di acara itu tidak mengecewakan, maka aku berpikir, “kenapa tidak?” Lagipula yg ditawarkan adalah produksi lokal dengan harga terjangkau—di samping itu, tempatnya GUEDE!! Rasanya bakalan puyeng tuh milih barangnya.

Lompat ke acara di Trans7 yg kulupa judulnya (“Warna”?) beberapa minggu lalu yg membahas tentang tas KW. Katro mungkin, tapi aku ga gitu familiar dengan istilah itu berhubung *pembelaan diri!* aku ga gila dan ngerti tentang fesyen tas. Tunggu, tunggu: aku tahu beberapa merk tas mahal luar negeri dan bagaimana maraknya peniruan model-model tas tersebut dibuat dan berseliweran di pasaran; aku hanya ga gitu familiar dengan istilah KW (yg intinya tas tiruan). Paling tidak setelah acara itu aku jadi tahu istilah KW 1, 2, 3, dan KW super dan perbedaan mendasarnya =p

Tas asli yg harganya berpuluh-puluh (bahkan ratusan) jut-jut tak banyak yg mampu membelinya. Namun soal tas second atau lebih parahnya KW harganya jelas jauh lebih terjangkau. Tas KW range-nya ratusan ribu rupiah. Berhubung aku menganut kepercayaan “kalau ga mampu beli yg asli, ga usahlah sok-sok-an beli yg KW”, aku pun dengan bersemangatnya mendukung ucapan narator di akhir acara yg berkelakar kurang lebih begini:

“Daripada beli tas tiruan (alias palsu), mending beli tas (buatan dan merk) lokal aja. Modelnya juga tak kalah bagus, dan dengan begitu kita juga mendorong/membantu/menghidupkan industri dalam negeri.”

Yep! Cintailah produk-produk dalam negeri, daripada beli tas buatan China yg jatuh-jatuhnya palsu juga. No brand is the best brand! Ga bikin ngiri, ga bikin orang gelap mata.

Maka makin inginlah menyambangi Tajur untuk melihat sebagus apa kualitas tas buatan dalam negeri—karena rasanya aku jarang denger tas merk lokal. Kalau soal sepatu, misalnya, sih lebih familiar walaupun harganya juga ga gitu merakyat =/

Dan kebetulan hari ini aku dan sekeluarga ke Bogor, terealisasikanlah niat menggebu-gebu itu. Ada dua pilihan: mengunjungi pabriknya yg jauh lebih besar dan lengkap (tapi lebih jauh) atau tokonya yg lebih dekat namun juga lumayan besar. Palu dijatuhkan: kita ke tokonya (SKI?) aja. Melewati rentetan toko di sepanjang jalan dan mampir ke salah duanya; hasilnya: hatiku mencelos.

Aku (lagi-lagi) tertipu. Kali ini lewat kata-kata dan gambar manis di layar TV.

Gimana engga, baru menginjakkan kaki di depan toko nenekku sudah menunjuk deretan tas-tas di etalase terdepan seraya berkata, “Liat nih tas, sama engga sama popoh punya?” sambil menunjukkan tas yg dibelinya di Perancis beberapa waktu lalu. Dilihat sekilas memang mirip, tapi model tas di etalase lebih besar dan terlihat ‘murahan’ minus gambar Menara Eiffel. Mengedarkan pandangan ke toko, terlihat jejeran tas-tas bermerk mulai dari LV, Guess, D&G, sampai Chloe (merk-merk yg kuketahui =p). Seketika, excitement menguap begitu saja.

Aku pun menyuarakan ketidaksukaan-campur-kekecewaanku. Kalo tas KW begini mah aku ga minat. Emang semuanya tas beginian? Tau gini ga usah dateng sekalian. Aku bahkan nyesel pernah tertarik datang ke sini. Eits! Jangan salah, ternyata ada juga tas ‘lokal’ di ruangan sebelahnya—di tempat awal barang-barangnya diimpor dari China—yg artinya tas lokpal (lokal tapi palsu). Harganya jg lebih murah karena itu kualitas KW 2. Karena aku ga sedikitpun menunjukkan ketertarikan pada barang-barang di situ, kami pun segera angkat kaki—yg sialnya masih kena bayar parkir pula!

Katanya toko Tajur yg kami cari dari awal itu bukan yg ini, tapi lebih ke depan lagi. Aku udah bilang aku ga mau ke toko lain lagi kalau barangnya tetep aja sama. Tapi toh kita berenti juga di toko yg (sepertinya) dimaksud, yg jauh lebih besar dari toko A dengan papan reklame bertuliskan TAJUR segede gaban. Toko B ga jauh beda dari toko A selain toko B juga menjual sepatu dan baju. Di sini hampir di setiap barangnya ber-tag ganda, Tajur dan merk tertentu lainnya.

Miris rasanya melihat apa yg terpampang di hadapanku. Deretan tas-tas tiruan model luar negeri yg dengan tanpa malu dibandoli tag lokal. Jujur aku ga tahu banyak soal merk tas yg terkenal dan mahal di luaran, namun dari bentuk dan model tas saja aku sudah bisa melihat dan menduga ketidakorisinilannya. Ternyata yg dimaksud tas lokal adalah tas (tiruan) model luar negeri yg diproduksi di dalam negeri. Namun demikian pun masih dijajakan tas impor dari China, Hong Kong, dan Korea.

Apa yg bisa dibanggakan dari ini? Surga belanja tas tiruan… demi *sensor*!! Ya ampunn…bahkan ini masuk TV dan dipromosikan ke kalangan tak terbatas!!! Aku tertipu mentah-mentah. Aku seharusnya bisa lebih jeli melihat dan menilai apakah memang iya yg dikatakan itu mengandung unsur kebenaran. Jangan sampai hanya melihat tampilan luarnya saja yg kece dan kinclong (dalam hal ini toko yg super besar dengan koleksi yg super banyak). Salahku berpikir kalau Bandung terkenal akan factory outlet-nya, mungkin Bogor terkenal akan hasil tasnya. Tau gini mah ngapain jauh-jauh ke Bogor buat beli tas KW, di Jakarta juga banyak! Benar-benar kecewa dengan industri tas Tajur ini. Gimana ya,,masa sih kita membiasakan, membiarkan, dan mengembangkan usaha meniru dan menjiplak? Moso ya tas aja ga bisa membuat desain sendiri. Kalau begini apa yg mau dan bisa Indonesia jual ke luar? Pantas saja semua ngeri dengan perdagangan bebas beberapa tahun lagi. Gimana mau dan bisa bersaing??

Memang inilah realitas hidup. Yg kurang kreatif, ya tinggal mencontoh. Yg kurang mampu tapi mau tetap menjaga gengsi, belilah tas KW. Meskipun kualitas ga memadai dan terlihat banget kepalsuannya, sebodo teuing lah, yg penting kan pake tas ‘merk’ LV, Gucci, Guess, dan sodara-sodaranya. Pantes aja para musisi yg udah capek tereak-tereak “beli CD asli” dan mensosialisasikan gerakan anti-pembajakan lebih memilih menjual dan meraup untung lewat RBT. Pantes aja band-band cueeekk aja dibilang lagu/gayanya ngejiplak. Pantes aja PH-PH juga sama entengnya meniru tema/ide/plot drama luar—dan berhasil mengungguli yg ditirunya karena berhasil membuat ratusan episode yg membengkakkan pundi-pundi uang para pemainnya namun membuat penonton jatuh bosan. Karena ternyata negara kita ga beda jauh sama negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat, China: jago niru!

Mungkin aku salah mengartikan pesan narator tersebut. Mungkin maksudnya bukan membeli produk buatan lokal DENGAN merk lokal (yg kini kuragukan eksistensinya), melainkan belilah produk tiruan YANG diproduksi di dalam negeri. Yg penting MADE IN INDONESIA, masa bodoh hal lainnya ga orisinil, toh demand-nya ada (baca: tinggi)…

Kalau orang sendiri aja ga pede dan bangga dengan apa yg mampu diciptakan manusia-manusia kreatif dan pintar di negeri ini, gimana mau berharap orang luar mampu mengapresiasi hasil karya kita?

Mungkin adalah salah memiliki keinginan untuk lebih mencintai produk-produk dalam negeri.

Mungkin adalah salah sejak awal mempunyai niat yg baik.

_
Catatan kaki: ternyata susah ‘mengarang’ dalam 100% Bahasa Indonesia. Teteep aja nyelip satu-dua kata berbahasa asing di sana sini.

(Mungkin membaca setiap lembar keluhanku tentang pelbagai hal, kamu—atau siapapun—akan berpikir kalau aku ini manusia tidak tahu bersyukur yg hobinya kompleinnn melulu. Ga salah sih, karena pada banyak sisi memang iya. Tapi sejujurnya, capek loh ngeluh itu. Ini aja aku udah rada ga niat nulisin tentang hal ini.)

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

12 thoughts on “Tertipu wisata belanja tas Tajur

    1. Betul, banyak kok orang kreatif penghasil sesuatu yg ga kalah inovatifnya. Terutama UKM. Cuma miris aja ngeliat industri skala besar justru kurang ‘membangun’.

      Anyway, tas kanvasnya handmade sendiri? Modelnya bagus2 🙂

      Like

  1. Mngkin yg bener2 asli dibuat dan bermerk indonesia asli cuma di Semarang, tas webe dan satu lagi apa tu… Yg di Jogja. Tapi..harganya juga jut2. Karena sasaran pasarnya diutamakan keluar negeri. Hmm tggu dulu deh….jadi keinget satu daerah sentra tas non branded di daerah jawa timur. Apa ya namanya….errR…Tanggu…Tanggulangin! Iya…tas tanggulangin. Gakda salahnya lho cari tau ttg tempat ini. Siapa tau bisa ngobatin kekecewaan pada Tajur….

    Like

    1. Iya, sudah pernah denger soal tas webe dan dowa, tapi harga tas yg asli memang lumayan mahal. Belum pernah tau soal tas tanggulangin, dari hasil google singkat barusan sih koleksinya ga jauh beda sama yg di Tajur, tapi boleh dijadiin referensi dan dikunjungi pas lagi berada di daerah sana 🙂

      Like

  2. Hi, sis baru nemu blog mu. mirip dengan kekecewaanku juga 🙂
    Dulu (pas jaman putih – biru / abu2) suka ke Tajur beli tas, memang dulu sih tasnya bagus, buatan Lokal beneran. Design nya pun beda, ga sama ky tas diluaran. Mereknya SK*BOG, Sampai saat ini aku masih ada Tas2nya 🙂 Tapi terakhir aku kesana kualitas tas nya malah turun drastis, menurut aku sih, malah jual barang2 KW 😦 Sedih juga miris liatnya 😦
    Sekarang aku masih suka beli tas lokal tapi yang di mall, seperti Pal*min*. Kualitas OK, bukan Tiruan, dan yg pasti ga malu kl ditenteng jalan ke LN! Hehehe.. Kalo harga ya relatif sih, ada kualitas barang ya ada harga 😉 Kl tas Gowa aku blm tau sih, next dicari hehehe 🙂 atau bs jg beli yg ga pake merk, pas jln2 ke daerah2 Indonesia lainnya, asli bikinan tangan warga setempat. Macam tas2 dr badui, papua gitu, lucuuu, unik, dan pas dibawa ke LN tuh jadi gimana gitu.. eye catching dan Original hehehe..
    Thank you sis maap panjang banget komennya 🙂

    Like

    1. Oh, berarti dulu Tajur sempet jualan tas lokal beneran ya, udah keburu kecewa duluan karena pas ke sana 5 tahun yg lalu yg ada tas KW semua =(

      Gapapa kok, kan bisa berbagi/nambah pengalaman dan informasi. Aku baru tau kalo tas Pal*min* (perlu ya disensor gini? haha) merk lokal, padahal pernah punya beberapa buah. Kualitas bahannya hit-or-miss sih, tapi aku juga lebih condong ke yg ‘ga bermerek’ daripada yg KW.

      Makasih udah mampir dan komen! 🙂

      Like

  3. Kira2 2 tahun yg lalu sy dikasih katalog sepatu, tas baju dll.. katanya itu produksi Bandung.. Cibaduyut gtu. Terus terang sy cm dgr dr org2 katanya sepatu Cibaduyut itu bagus & awet. Sy sndiri blom prnh kesana.Sy coba2 aja blnja.. (online).. ternyata tdk mengecewakan (menurut saya).. krn sy g mengerti ttg bhn.. jd sy g tau itu kulit asli atau bukan.. tpi yg pasti itu brg awet bgt smp skrg. Baik tas maupun sepatunya..
    Hrg kisaran 100rb-500rban sj.
    Dan byk dijual online.. mereknya seinget sy ada CATENZO, Garsel, dll bisa coba digoogling. Model2 tasny biasa & design beda dgn tas2 KW, tpi menurut sy aweeet bgt 😁.mungkin inilah salah satu contoh produksi Dalam negri.

    Like

  4. Ihh jd keingetan tas thn 2003 yg sy beli 100rb d tajur. Bahan kanvas,banyak saku ga banyak aksesoris nya jd ga rame. Sampe skrg msh d pake2. Cuman agak belel aja. Sy br coba Googling mau k tajur LG tp males jauh bgt. Ehhh baca postingan mba’e jd males klo trnyt skrg tasnya kW 2 an.
    Saya malah pgn tas lokal ga bermerk kW gitu …..kelihatan supal supal nya😄😄😄😄

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s