Posted in Citizenry

Ketika sikap wakil rakyat tak dapat lagi ditolerir…

Wakil rakyat… SEHARUSNYA merakyat

Apa menjadi wakil rakyat berarti kita harus tinggal di gubuk?
Apa harus kerja di tempat yang… becek-becek juga?”*

Berkacalah dahulu sebelum menyebut diri sendiri anggota dewan yg terhormat
Berkacalah dahulu sebelum menjelek-jelekkan rakyat yg katanya diwakilinya
Berkacalah dahulu sebelum berpaling dari rakyat yg katanya memilihnya untuk berada di sana
Berkacalah dahulu sebelum bilang semua itu dilakukan demi kesejahteraan rakyat
Berkacalah dahulu sebelum berkilah bahwa semua ini adalah demi kebaikan bangsa dan negara
Berkacalah dahulu sebelum tanpa malu menyebut ini urusan orang elit dan pintar — maksudnya cuma politisi yg punya otak?

Apa gunanya ada wakil rakyat kalau tak ada yg mendengar teriakan rakyat?
Tak ada gunanya punya wakil rakyat yg tak mengindahkan keinginan rakyat
Tak ada fungsinya punya wakil rakyat yg tak menyalurkan aspirasi rakyat
Tak ada artinya punya wakil rakyat yg tak berpihak pada rakyat
Tak ada logikanya punya wakil rakyat yg tak memperjuangkan kepentingan rakyat
Tak ada manfaatnya punya wakil rakyat yg tak mau berefleksi pada rakyatnya
Tak ada etikanya punya wakil rakyat yg menutup mata dan telinga akan penderitaan rakyatnya
Tak ada untungnya punya wakil rakyat yg tak ingin hidup sesederhana rakyatnya

Karena tak pernah tinggal di gubuk dan kerja di tempat yg beceklah
Karena tidak pernah merasakan hidup susah dan sulitlah
Karena tidak mengalami hidup di bawah dan berhematlah
Karena keserakahan dan kemarukkan tiada taranyalah

Dengan tidak tahu malunya seorang anggota dewan bisa berucap demikian
Dengan tidak tahu malunya seorang anggota dewan bisa mengatasnamakan rakyat atas kepentingan pribadi dan golongan
Dengan tidak pekanya para anggota dewan terus berjalan-jalan ke luar negeri tanpa hasil atas nama studi banding
Dengan tidak pekanya para anggota dewan memperkaya diri sendiri dan golongannya
Dengan tidak tahu dirinya para anggota dewan terus meminta fasilitas mewah yg membuang-buang uang Negara – rumah baru, mobil baru, gadget baru, dan sekarang gedung baru
Dengan tidak tahu dirinya para anggota dewan mendukung segala sesuatu yg tak sepantasnya didukung
Dengan tidak ada etikanya para anggota dewan bisa tidur dengan pulasnya saat rapat/sidang
Dengan tidak ada etikanya seorang anggota dewan bisa-bisanya menonton video mesum saat sidang paripurna berlangsung

Wakil rakyat… kok tidak merakyat…??

“Bangun gedung DPR kok minta persetujuan rakyat? (Usulan) yg ga jelas cara(merealisasikan)nya.
Ga realistis. Mendengarkan pendapat segelintir orang di media yg tak mengerti keinginan kita.”**

Wahai Bapak Ketua DPR—(?)***
Bagaimana mungkin anda menuntut keinginan anda dimengerti kalau kalian tak pernah mau mengerti keinginan rakyat?
Kalau kalian menyepelekan dan menganggap remeh aspirasi rakyat yg seharusnya menjadi tolok ukur kebijakan yg kalian ambil?
Kalau kalian tidak pernah serius mewakili suara rakyat dalam hal apapun?
Lupakah anda bahwa pada hakikatnya kalian duduk di sana karena, untuk, dan demi siapa?
Lupakah anda bahwa awak media juga merupakan pendapat masyarakat yg patut dipertimbangkan?
Aspirasi rakyat manakah yg anda wakili dengan membangun gedung mewah baru yg tak tepat guna dan waktunya itu?
Aspirasi realistis manakah yg anda dengar dan wakili sehingga mampu mengucapkan kalimat melecehkan seperti itu?

Sesungguhnya,
Jikalau kamu berkediaman di gubuk yg beralaskan tikar dan berdindingkan papan
Jikalau kamu mengais rezeki di tempat yg lumpur dan becek dengan genangan air di mana-mana
Namun tetap bisa bekerja dengan baik, dengan hati, menghasilkan kebijakan yg baik
Menyejahterakan rakyat dan membuat taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik
Mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi dan golongan – seperti yg didoktrinkan sejak SD
Tidak berlaku kotor, tidak terpuji, tidak etis, tidak berlogika, tercela, ataupun mengambil jalan pintas
Tidak korupsi, kolusi, dan nepotisme; tidak mengelabuhi, menipu, dan bermuka dua
Menunaikan segala kewajiban sebelum menuntut hak – bukankah kita harus kerja dulu baru mendapat gaji?
Maka akan kuhargai kamu, kupuji dan kubanggakan kamu, kuhormati dan kutinggikan kamu

Dan sesungguhnya,
Jikalau kamu benar-benar bekerja demi rakyat, bukan hanya mengatasnamakan rakyat
Jikalau kamu berdesak-desakan di kendaraan umum, bermacet-macetan di jalanan umum, dan berpanas-panasan di trotoar
Namun tetap bisa tampil baik dan tersenyum lebar seperti yg sering terlihat di layar kaca
Membuat kebijakan tentang tata kota dan negara yg baik dan benar
Memberikan usulan yg terbukti mampu dan ampuh untuk diterapkan dan dijalankan
Tanpa membuat keadaan makin rumit, namun dapat membuat kehidupan lebih baik
Meningkatkan kinerja, membenahi perilaku, dan berkontribusi positif yg bisa dirasakan langsung oleh rakyat
Bersikap tegas dan adil, menegakkan kebenaran dan membela yg lemah – even though I know you’re not superheroes
Then I’d salute you.

_
*) Gila, gue geram, enek, dan emosi banget loh ngedengernya. Mana dia pake nada marah-marah lagi! Mending dia bersikap gitu saat mengusulkan pembongkaran kasus korupsi di tubuh Negara atau saat mendukung hak angket pajak (yg akhirnya ditolak dengan lebayyyy)… Emang dia ga punya hati (nurani), etika, kepekaan, moral??? Ckckck… (aduuhh… nambah dosa lagiii gue maki-maki orang… sabar, sabar, sabar…*ngurut dada*)


**) How can we not care for what you guys are doing on behalf of us? That’s our country’s money you’ve been splurging on—which indirectly means the people’s money. The astronomical amount you guys are spending on vacations and new grand building (amongst other pointless things) that could’ve been otherwise used to pay for releasing our men from Somali pirates or spent on reconstructing, restoring, or renovating thousands of schools, building thousands of houses so that working-class families could afford a home, strengthening infrastructure (make roads, highways, flyovers, bridges; improve public services like affordable clinics and hospitals, passenger-friendly & well-maintained public transportation, convenient shelters and pedestrians; civilize suburbs; light & water more remote areas), or contributing to sustainability (plant more trees, conserve the environment, save energy)… see how endless this list could be? The things that everybody could enjoy and benefit from instead of pleasing…what, hundreds? of you (‘ve no idea of what to call you anymore) politicians. *buang nafas frustrasi*

***) I don’t exactly take notice of what his rank is as I know that he headed legislative meetings. I was—and am still—infuriated by his and his fellow’s snobbish remarks I quoted here thus I didn’t bother to conduct accuracy check on his title, because whatever title he—they—currently holds, he—they—clearly isn’t worthy of it. However, this also shows my clear-cut ignorance of the matter I am bitching about. So, I know not of the *) damned big(mouth) legislative guy—they didn’t mention his name when his despicable footage was on—  he’s NUDIRMAN MUNIR, member of Komisi III DPR from Golkar while it is Ketua DPR, the loathsome MARZUKI ALI, who made the second outrageous comment. It was already revolting enough to learn that he is a Democratic Party’s cadre. Lastly, the notorious man who was caught watching x-rated video is the cussed ARIFINTO, a representative of the ‘white’ party PKS (Partai Keadilan Sejahtera). If only i could do something direful to resuscitate their nonexistent conscience, i’d definitely do it.


Kalau saja aku bisa tidak peduli dengan segala sepak terjang mereka… Kalau saja media ga segencar itu memberitakan kebobrokan mereka… I mean, it’s none of my business actually, isn’t it? It’s not that there is something that we commoners can do to stop their selfishness or alter the way they work and behave, right? Yah, selain pasrah melihat keadaan yg ga makin membaik atau hanya bisa memaki lewat dunia maya—kalau di dunia nyata kan bisa berabe (bangga memasuki periode reformasi dan mengaku menjunjung tinggi demokrasi, masyarakat Indo kebanyakan masih belum bisa dengan lapang dada menerima kritik/opini berlawanan dari pihak lain), mending didenger juga—mengeluarkan unek-unek yg rasanya juga ga ngaruh ke mereka yg dihujani sumpah serapah.

There is only one thing I could say for now: I never regret being an Indonesian (no matter what they say), but I’m ashamed for not so proud of what Indonesia has become.

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s