Posted in Movie, Review

[Film] Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

I have been wanting too see this movie, but i wasn’t in Indo when it was released. Since it’s a Deddy Mizwar movie, there’s a certain sense of quality guaranteed in his movies. His movies have never disappointed me, so I look forward to his next project. He came up with another unusual theme for Alangkah Lucunya (Negeri Ini) – about working for a gang of thieves and teaching them about life. Hmmm…

I like this movie. Not a lot, cuz the second half of this movie fell to another Deddy Mizwar’s typicality – being too religious and such. I’m not against such theme and approach, but it feels more like being preached than being entertained. But the reason i favor this movie maybe because i can relate to Muluk way too much…

Adalah Muluk, lulusan sarjana menejemen yg sudah dua tahun menganggur. Dia punya prinsip ga mau kerja di bagian yg ga ada hubungannya dengan menejemen. Misalnya buka toko, padahal sudah ada tawaran bantuan untuk modal usaha dan tempat lowong. Alasannya? “Gue ini sarjana menejemen.”

Saat orang-orang memandang sinis Muluk yg masih juga nganggur, Babe Muluk (i forgot all the names except Muluk. *facepalm* My bad m(_ _)m) dengan bijak membalas, “Dia bukannya nganggur; Muluk lagi berusaha.”

(Wow, what a nice way to say things around see things from different perpective, Pak Haji! =p Nevertheless, that words calmed my heart a lot, as if he was consoling me and telling me words of encouragement to keep on trying and never give up. Honestly i am amazed at how Deddy Mizwar’s movie writers write their scripts. So sharp!)

Bapak pacarnya Muluk pun dengan sinis menjawab, “Pendidikan itu ga penting.” Buktinya dua anak lelakinya yg bukan lulusan perguruan tinggi sudah mampu sukses di usahanya masing2 dan akan segera berangkat haji. “Pendidikan itu penting kalau punya koneksi!” lanjutnya.

Intinya Muluk tetep ga menyerah. Daripada buka toko, dia lebih memilih beternak cacing. Namun di saat keinginannya belum juga terlaksana, ia melihat seorang anak lelaki yg mencopet. Hatinya tersinggung. Ia yg dua tahun berusaha mencari uang belum juga berhasil, eh anak ini malah dengan gampangnya merebut hasil jerih payah orang lain. Namun entah kenapa Muluk tiba2 datang ke markas anak kecil itu. Ia menawarkan sebuah proposal kerja sama. Ia akan mengatur keuangan dan strategi agar usaha mereka berkembang dan ga mati di situ. Imbalannya? 10% hasil nyopet yg mereka semua peroleh.

Muluk ga berhenti di situ. Ia mengajak temannya yg sarjana pendidikan untuk mengajari anak2 jalanan itu ilmu pengetahuan umum seperti baca tulis, dan teman perempuannya untuk mengajari mereka ilmu agama. Anak2 itu jelas ga sudi hidup mereka yg bebas tiba2 diatur Muluk, orang baru yg tiba2 saja masuk ke kehidupan mereka. Namun Muluk pantang menyerah dan dengan berbagai akal mengambil hati mereka satu per satu.

Berhasilkah Muluk?? Yah… harus nonton sendiri sih,,tapi masa ga tau sih hasilnya?

Seperti yg kubilang di awal, setengah awal film ini benar2 menghibur dan pintar tanpa berdakwah. Sayangnya, setengah kebelakang film ini jatuh menjenuhkan. Karena ya itu, kentara sekali niat ngajarin kita2 ini. Dan terus2an nyinggung para koruptor di negeri ini. Juga soal uang haram hasil nyopet yg selama ini menghidupi mereka.

Iya sih kalau dilihat dari sisi itu memang salah, tapi kan Muluk ga cuma menikmati hasil nyopet dengan tangan terbuka. Ia ‘mengembangkan para sumber daya manusia’ di markas itu dengan tujuan mulia. Ia dan sahabat2nya membekali mereka dengan ilmu, dan mengajari mereka ilmu agama. Dan pada akhirnya Muluk ingin mereka semua berhenti mencopet dan mencari uang dengan cara yg lebih halal – yg tetap saja salah di mata hukum – yaitu mengasong. Mengubah pencopet jadi pengasong ga semudah membalikkan telapak tangan kan? Semua itu butuh proses. Dan Muluk rela berkubang dengan mereka melewati proses itu sampai ada dari mereka yg berkeinginan untuk mengasong.

Ya anehnya, si gerbong copet dengan mudahnya menerima Muluk, bahkan bilang kalau ia rela penghasilannya berkurang karena mereka mengasong. Ia juga ingin para bocah itu berhenti mencopet… Hmmm… yg ini masih belum bisa kucerna. [Ending spoiler ahead] Hal lain yg mengganjal adalah endingnya. Ending terbuka, tapi ga jelas maksudnya ke mana. Ga jelas gimana nasib Muluk dan teman2nya. Gimana nasib para pengasong juga pencopet lainnya. Yg mencopet dikejar massa, yg mengasong dikejar aparat, yg ngajarin mereka ditangkap aparat. The story ended here. With Muluk emotionally gave those kids a thumb up…

Intinya, sepertinya film ini mengupas Pasal 34 yg berbunyi “Anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Sayangnya kali ini film ini ga begitu berkesan di hati karena ya bagian akhir yg terlalu melodramatis… sayang banget sih. Walau gitu, ini bisa dibilang salah satu film bermutu di tahun ini. Jarang ada film begini. Dan setelah Merah Putih dengan sukses mengecewakanku sedalam-dalamnya, apresiasi besar kuhadiahkan untuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini)  yg memang lucu dilihat dari sisi manapun. Negara kaya tapi miskin.* Ditunggu film selanjutnya, Oom Deddy!! ^^

_
Rating: 4/5
Director: Deddy Mizwar
Production: Citra Sinema, 2010
Cast: Reza Rahadian, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Sakurta Ginting, Tio Pakusadewo, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo
Genre: Drama satire, Kritik sosial


*) Kalau ada yg ga setuju dg kalimat “kaya tapi miskin” di atas. Aku merujuk ke artikel ini.

Kenyataan ini memang miris banget. Sejak SD kita selalu diajari betapa kayanya Indonesia dg berbagai ragam budaya dan sumber daya alamnya. Betapa dulu Belanda dg gigih ingin menjajah Indonesia demi menguasai rempah2 yg melimpah ruah dikandung di bumi Indonesia. Tapi dg segala kekayaan yg ada ga bisa dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana oleh mereka para wakil rakyat. Mereka hanya mementingkan perut sendiri, korupsi tanpa kenal malu dan lelah. Mengkhianati kepercayaan yg rakyat berikan…

Aku sih ga malu jadi org Indonesia – mudah2an ga akan pernah.
Karena aku bermimpi Indonesia bisa bangkit dari keterpurukkan dan menunjukkan pada dunia apa yg bisa rakyat Indonesia lakukan dan capai… Bukan yg bisa dipandang sebelah mata dan hanya terdengar karena bencana alam atau aksi terorisme semata…

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s