Posted in Book, Review

[Buku] Gokil!; Sebuah Kompilasi Kedodolan

Hal yg mau kutuliskan di sini adalah mengenai buku kompilasi kedodolan yg berawal di blog dan berakhir di penerbit (atau di tangan pembaca?) karya Miund—nama aslinya sih Asmara sth sth…tapi nama panggilannya Miund—yg berjudul Gokil!

I don’t particularly like this book walaupun cover belakangnya bisa bikin aku ngakak dengan cukup parah. Well, maybe i hung my hope too high atau aku ga punya cukup sense of humour untuk menangkap sisi kelucuan dari apa yg ditulis si Miund ini. Masalahnya, banyak bagian yg ga dapet sama sekali di mana letak kelucuannya selain sebodohan dia sendiri, atau berbagai peristiwa ga penting yg diikutsertakannya di dalam buku ini. Di satu sisi dia membahas mengapa lagu liriknya sedemikian rupanya, atau mengutarakan komentar—‘teori’ menurutnya—ga jelas tentang berbagai hal, termasuk tentang si Unyil.

Dan dari sekian banyak kompilasi blog ga pentingnya itu, aku cukup terganggu dengan caranya menuliskan “hahaha” yg jadi aneh dan absurd banget. Selain itu, dia juga beberapa kali menampilkan betapa ga konsistennya seorang Miund. Di posting terdahulu ia dengan jelas ‘mengutuk’ oknum-oknum yg berkenalan di dunia maya dan meng-add sana sini ga jelas (add dulu baru kenalan, bukannya menemukan teman lama—atau baru atau apalah—baru meng-add mereka).

Dalam hal ini aku juga sedikit sebel sih. Siapa sih lo add-add gue? Gue ga kenal lo, lo juga PASTI ga kenal gue. Dan kalo saling ga kenal gini apa coba fungsinya gue approve lo jadi temen gue? Yg ada bikin daftar temen gw panjang tapi ga berisi. Gue pasti ga akan nyapa lo duluan, dan lu juga kemungkinan besar ga akan melakukan hal yg sama. And IF u really get to know me afterwards, r u sure u wanna know me ANY further?

Ups..kok jadi ngomongin ginian sih? Balik ke Miund dan buku Gokil!-nya yg menurutku ga gokil-gokil amat. Sooo…si Miund ini memaki-maki oknum-oknum tersebut, namun apaaa??? Dia kenalan dengan pacarnya lewat dunia maya: “Today i met this “freak” i’ve known for quite a while through the net […] After a year of silly typos and smileys, it was really nice meeting you at last, Yodee!”

Helooowww….mbak….permisi…itu ludahnya dijilat sendiri aja, enak kaga tuh rasanya??

Ke-tidak-konsisten-an kedua yg kuingat dari buku ini berhubungan dengan masalah generalisasi. Sebelum dengan berapi-api menuliskan, “Sudah saatnya kita stop generalisasi” berdalih bahwa ga semua lelaki brengsek, suka selingkuh, suka poligami, dan berpenis kecil, Teh Miund dengan gamblang dan bahagianya menggeneralisasi MEREKA dengan KITA.

“MEREKA” yg berusia belasan tahun sampai usia 22 digambarkan demen menghambur-hamburkan uang yg bukan hasil keringat mereka sendiri dan baca buku edisi terjemahan, suka lagu yg diputar di Prambors dan berbahasa gaol getohh… sedangkan “KITA” intinya sudah independen, beli sesuatu berkat usaha sendiri (BELI SENDIRI tuh selalu ditulis dengan huruf kapital dan diberi penekanan berkali-kali) disamping baca buku edisi asli dan berbahasa mostly (excellent) english…

[Here goes my incessant blabbering…]

Ehem ehem!! Ini dari sisi mana coba yg ga menggeneralisasi?? Gue bacanya geli sendiri. Muak bukan karena aku masuk range yg disebut “MEREKA” oleh tante-tante “KITA” itu, tapi karena sepertinya Miund ga ngaca akan pengalaman dia pas muda. Emang dia ga pernah berumur di bawah 22 dan belanja pake duit ortu? Plis deh. Dari dia bayi sampai (possibly) lulus kuliah emang dia bayar semuanya sendiri? Emang dulu pas dia remaja ga dengerin Prambors, beli apa aja yg dijual dengan kurang ajar di Parkir Timur, atau baca teenlit?? Uuupsss…mungkin zaman mereka belom ada teenlit kali ya? Tapi Prambors harusnya ada donk?? Masa ga dengerin lagu sih? Di Indo kan ga seperti di negara lain yg anak sekolahannya biasa kerja part-time. Dan kalo emang iya si Miund dkk ini udah KERJA sejak ABG dan berpendapatan sendiri, apa semua kebutuhan hidupnya bisa dipenuhi sendiri dari DULU??

Lagipula, bukan emang waktunya mereka jalan bareng temen-temennya, nambah kenalan, melewati masa remaja dengan bahagia, dan melakukan apa yg memang SEHARUSNYA mereka lakukan di usia mereka? Baca teenlit, seventeen, cosmogirl, atau denger Prambors kan emang mengincar segmen usia segitu. Apa ga kaget kalo anak remaja baca cosmopolitan atau playboy? Like what she wrote: “Belum legal minum alkohol, tapi sudah tau rasanya Tequila dan Grasshopper.” Mmm…emang sejak kapan sih hukum di Indonesia itu diterapkan dengan tegas kalau boleh tau?

Susah kan? Ngikutin zaman baca Chicklit edisi bahasa Indonesia dicela, mulai nyoba-nyoba hal-hal yg ‘belum waktunya’ diejek pula. I guess she forgot one thing: not everybody is able to afford a glamorous lifestyle. And unfortunately yes, i need to prepare 100 thousand in my pocket if i want to hang out with my friends. Excuse me, how much amount of money do u think we need to finance our eating, drinking, and watching movie in a mall in Jakarta these days??

And about reading translated edition of a book, she might be oblivious that not everybody is fortunate enough to be able to learn—let alone to master and talk excellently in—English. And even if it’s true that it is better to read the original version (supaya 45% kadar kelucuannya ga ilang), not everybody is able to spend thousands of money just to buy books or magazines. Sebagian besar judul buku yg kubaca, misalnya, berhasil kulahap bukan karena merogoh kocek dalam-dalam tapi karena punya teman baik yg bersedia meminjamkan koleksi buku-bukunya kepadaku..

Daaannn…emang salah kalau mereka coba baca The Alchemist, TEMPO, atau Supernova-nya Dee? And so what kalo kita ngomong pake bahasa gaul? Toh yg suka bikin buku kamus gaul dan sejenisnya itu bukan “KITA-KITA” yg berumur 22 tahun ke bawah kan?? Apa berarti kita ngaku-ngaku sok cool? Sok tua? Sok tau?? Fyi, gue baca The Da Vinci Code pas gue SMA tuh!! And so what kalau kita baca edisi terjemahannya?? Emang bikin malu? Emang gengsi?? ENGGA!! Yg penting kita NGERTI apa isinya, daripada temen situ ga ngerti, mbueeee…

Kalo emang ga suka liat kita baca buku terjemahan, tolong donk saran ke penerbit buat berhenti nejermahin buku-buku luar dan sedian buku aslinya aja dengan harga TERJANGKAU. Kita kan belinya pake duit ortu…biar ga dibilangin buang-buang duit ortu padahal kita emang dasarnya hobi baca dan menambah wawasan. Btw, aku baca buku Harry Potter edisi aslinya tuh, dan walau GA BAYAR SENDIRI, aku ngerti apa isinya, and i enjoyed it. And many other indonesian KIDS do.

And you know what…u’re born before us don’t make u better than us. Yes, you’re definitely more experienced than us, but SO WHAT?? We can catch up with you guys because we’re willing to learn. Emangnya semua orang terlahir bisa ngomong mostly (excellent) English?? Moga-moga aja pas kita-kita seumuran kalian, tante, kita ga menjelek-jelekkan orang se’munafik’ kalian… amin…

[End of incessant blabbering]

Well, yes, i like to scold people too (in my diary tentunya), dan beberapa pemikiran Miund mirip dengan opiniku (eg: tentang duit yg dibuang-buang percuma untuk hal ga penting, atau wakil rakyat yg ngoceh minta naik gaji padahal udah punya segalanya)… Tapi aku ga sok pintar sepertinya (mungkin karena aku belum berpengalaman seperti dia kali ya…) dan aku ga punya cukup nyali untuk memublikasikan apa yg kutuliskan di sini… itu aja sih perbedaannya… sepertinya,,hgehehe…

(Sepertinya bahasa Indonesiaku udah amburadul ga karuan deh,,,maafkan diriku yg terlalu bersemangat ini… ;p)

_
Rating: 3/5
By Miund
Genre: Blog yg dibukukan, memoar

p.s. (June 2011’s comment)
WHAT-? I rated it with three stars after bashing the inconsistency and pretentiousness this book contains? I really need to relook into this though I won’t revise the rating for now.

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s