Posted in Movie, Review

[Film] Gara-Gara Bola

Awalnya aku memandang sebelah mata atas film ini. Bukannya gimana, habis perasaan sinopsisnya biasa banget. Tapi ternyata aku nonton film ini, pendapatku di kalimat sebelumnya dengan amat sangat menyesal harus kuubah.

Eits. Jangan salah sangka dulu. Film ini bukan film yg bener-bener wah dan berkualitas banget—bahkan beberapa adegannya amat kusayangkan karena seharusnya tidak dibuat seperti itu—tapi secara keseluruhan, rasanya ini film pertama yg benar-benar mampu membuatku setuju kalau ini adalah film k-o-m-e-d-i. Yg ga dibuat lucu karena lelucon slapstik yg menurutku udah basi banget aka tasteless.

Film ini sih sebenernya simple aja. Gara-gara bola. Film ini ga menampilkan kesebelasan A melawan kesebelasan B. Ini bukan film tentang bola dalam arti sebenarnya. Tapi ini merupakan film akibat dari menonton bola itu sendiri.

Sebentar-sebentar. Jadi nonton bola itu ga baik?

Ya tergantung diliat dari sisi mana dulu. Kalo suka bola atau nonton bola karena alasan-alasan yg dikemukakan Heru (Herjunot Ali) sih sah-sah aja. Contohnya? Senang bola karena gecokan-gecokannya, gol-gol indahnya, atau ketegangannya. Tapiii…kalau suka bola karena alasan yg dimiliki Ahmad (Winky Wiryawan) itu yg berabe dan kalo bisa dihindari—minimal dikurangi frekuensinya deh!

So, Gara-gara Bola bercerita tentang dua anak muda yg bersahabat erat sejak SMP, Heru dan Ahmad, yg memiliki dua alasan yg bertolak belakang tentang mengapa mereka menyukai olahraga sepak bola. Heru karena pure alasan ‘pebola sejati’ sedangkan Ahmad suka nonton bola KALAU ada taruhannya. Dengan kata lain, Ahmad selalu mencoba peruntungan di dunia taruhan bola yg bundar—atau bulat?

Adegan pembuka tentang penjelasan tentang jenis-jenis taruhan sepak bola saja (voor dan lek-lekan) udah bikin aku langsung stay tuned ke film ini, got stuck, and could go nowhere else. Seperti orang bilang, kesan pertama begitu mempesona. Film ini pun terus memikatku hingga detik terakhir film ini diputar.

Balik ke Heru dan Ahmad: walaupun mereka menyukai sepak bola karena alasan yg berbeda, mereka berdua sepakat untuk memasang taruhan atas Jerman saat tim panser berhadapan dengan spaghetti (lol) di putaran semifinal Piala Dunia 2006.

Saat pertandingan memasuki babak perpanjangan, Ahmad dengan antusias menambah jumlah taruhan mereka sampai ke angka 20 juta padahal mereka sepakat kalau angka taruhan mereka tak akan menembus 5 juta rupiah. Seperti yg para penikmat sepak bola Piala Dunia ketahui, Jerman dibantai Italia 0-2 dan duo Ahmad-Heru dikejar hutang yg harus mereka lunasi sampai malam final Piala Dunia.

Ahmad yg hanya punya usaha printing kecil-kecilan dan Heru yg putus kuliah dan hanya bekerja sebagai cashier di kedai bakmi milik ayahnya pun memutar otak untuk melunasi hutang mereka. Kesialan mereka seolah datang bertubi-tubi tatkala mereka dengan sukses diusir dari kontrakan milik seorang waria (Amink) lantaran menunggak uang kos selama dua bulan; Heru dipecat dari restaurant berhubung simpanan (Aida Nurmala) rangkap artis dangdut plus manager restaurant milik sang ayah (Tarzan) menyetujui pemecatan dirinya asal ia diizinkan memecat Heru. Menurutnya, ia punya alasan yg “100% professional” untuk memecat Heru.

Heru who apparently lives a carefree and free life, including having a girlfriend (Laura Basuki) who is spoiled and sexually active, actually comes from a “broken home” family. His parents is not divorced, yet, but his frustrated mother and disloyal father in one way or another turn him off too. Maybe that is why he decides not to live in the house. Moreover, it is him who sort of founded Bakmi Yona in the first place. Thus, his father permission to fire him to cover up his next affair excessively upsets him.

Daripada harus mengemis uang dari ayahnya lagi, Heru pun akhirnya memutuskan untuk merampok Bakmi Yona demi melunasi hutang sepak bola mereka. At the same time, Mieke is not that easy to give up her position without anything beneficial to her. She also set up a secret plan in order to pay off her debt to Yongki, her partner as well as creditor. Masalah semakin ruwet layaknya benang kusut karena Yongki juga punya rencana busuk untuk menculik Laura demi meluluskan niatnya memenangkan tender yg juga di-bid oleh ayah Laura. Sedangkan ayah Laura? Ternyata ia adalah kepala taruhan bola yg dihutangi oleh Ahmad dan Heru! Nah loo…

Usaha-usaha yg mereka lakukan demi keberhasilan niat masing-masing inilah yg benar-benar menggelikan tapi tak jatuh ke adegan-adegan so yesterday yg sudah berulang kali muncul di judul-judul lainnya. Pokoknya bodoh, dibalut unsur keberuntungan dan kebetulan tapi lucu banget deh!!

Peran Winky di sini laen dari perannya sebelumnya. Unik, rada nyebelin, tapi juga cukup bikin ngakak. Simak saja saat ia menelepon kenalan-kenalannya untuk dipinjami uang. Sepertinya ia sudah sering ngutang karena teleponnya selalu diputus saat ia baru setengah jalan. Junot…lebih mendingan dibanding penampilannya di film-film sebelumnya. Sedangkan wajah baru Laura Basuki cukup oke walaupun aku tak yakin aktingnya pantas dianugerahi gelar Aktris Pendatang Baru Terbaik & Terfavorit di ajang Indonesian Movie Awards 2009. Mungkin dibanding dua nominator lainnya ia yg paling baik…

Alurnya sendiri simple tapi ga mudah ditebak. Mudah diikuti tapi ga ngebosenin. Ga memerlukan kita untuk berpikir tapi ga dangkal atau membingungkan. Kocak, lucu, dan fresh tapi ga menjijikkan. Sayangnya film ini ga bisa ditujukan untuk semua umur berhubung ada muatan seksual serta kata-kata kasar di dalamnya—salah satu hal yg membuatku kecewa akan film ini. Emang ga bisa ya ga bikin film komedi yg bermuatan sensual? Untuk kata-kata kasar sih, untuk ukuran cowok seumuran mereka sih rasanya wajar bahkan realistis banget.

And…even though the movie ends with a positive note thanks to the duo’s incredible luck, the movie is totally entertaining and fun to watch. Dan ini bukan film ringan tapi menghibur sekelas Lost in Love atau Saus Kacang loh ya yg boleh lah ditonton kalau lagi suntuk atau bosan dengan film-film bergenre horor yg makin lama makin marak aja nongol di layar lebar. Film ini memang cocok ditonton kalau lagi suntuk dan saat kita pengin nonton film dengan tema yg lain selain horor, tapi film ini mengandung pesona yg lebih dari itu. Film ini mengangkat fenomena taruhan bola yg marak di Indonesia dan dampak negatifnya. Intinya, film ini ada pesan moralnya. Menghibur, tapi secara ga langsung mendidik. Karena apa? Karena orang-orang sejenis Ahmad ga sedikit jumlahnya.

_
Rating: 4/5
Director: Agasyah Karim and Khalid Kashogi
Production: Happy Ending Pictures, 2008
Cast: Herjunot Ali, Winky Wiryawan, Laura Basuki, Aida Nurmala, Amink
Genre: Comedy

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s