Posted in Movie, Review

[Film] Best Friend?

“Aku bosan sama hidup aku”
“Hidup yg seperti apa? Seperti Molly?”
“Hidup yg ga sempurna…”

Helloowww, young girl, hidup siapa sih yang sempurna??

Tania (Nikita Willy) yg masih duduk di SMP adalah tipe siswi teladan. Berpakaian rapi dan sopan, selalu mengerjakan PR sebelum waktunya, penurut, cantik, juga langganan juara kelas. Dia punya dua teman yg cukup dekat, selalu diconteki PR oleh cewek populer di sekolahnya, dan punya keluarga yg harmonis dan kakak-kakak yg baik pula. Namun, secara keseluruhan hidupnya datar-datar aja dan terasa kurang sempurna. Ga ada gairah dalam hidupnya. Dengan kata lain, dia kuper, cukup antisosial, and invisible from the rest. Rasa sukanya pada Aditya (Stefan William) pun hanya bisa dipendamnya dalam hati…

Kedatangan murid baru yg nyentrik, bengal, dan urakan bernama Molly (Risty Tagor)—omg, namanya ‘imut’ sekali!!—merubah cara pandang Tania terhadap hidup, dan mengubah hidup Tania secara keseluruhan. Awalnya, ke-nyentrik-kan Molly dianggap keren oleh Windy (Arumi Bachin) and the gank, geng cewek populer di SMP Stratia, dan berusaha mendekati Molly untuk bergabung dengan gengnya. Sayangnya, Molly menanggapi cuek ajakan Windy dan lebih memilih ‘melindungi’ Tania dari ‘ketertindasan’ yg dilakukan Windy dkk. Ia pun lebih tertarik berteman dengan Tania dibanding yg lainnya.

Duduk sebangku membuat Tania dan Windy semakin akrab. Tania yg merasa hidupnya segitu-segitu aja tertarik dengan kehidupan Molly yg serba wah baginya, yg tak pernah dimasukinya. Ia pun terbawa ke kehidupan Molly serta cara hidup Molly. Tania mulai dari merokok; lalu memakai pakaian rombeng, serba terbuka, serta urakan; clubbing; minum-minuman keras; menjadi cewek berani, agresif, anarkis, dan pembangkang; berlaku ekstrim seperti memotong habis rambutnya; sampai mencium Aditya.

Orangtua Tania yg berhasil mendidik Karin (Donita) dan Yoga (Eza Gionino) pun kebingungan menghadapi tingkah aneh Tania. Dan sebelum semuanya menjadi terlalu jauh, mereka berusaha menghentikan semua itu, termasuk hubungan persahabatan Tania-Molly…

 

Well, aku rasa inti film ini adalah tentang pencarian jati diri, dan bagaimana jiwa remaja yg sedang labil karena usaha mencari tahu siapa dirinya sebenarnya—tergambarkan dari beberapa adegan di mana Tania sendiri mengakui ia tak mengerti apa yg terjadi padanya—membuat mereka rapuh dan mudah dipengaruhi. Baik oleh pengaruh baik maupun buruk. Dan pengaruh buruk akan menggiring mereka ke jurang yg lebih dalam lagi.

Di satu sisi, aku setuju pilihan film ini mengangkat kehidupan anak SMP sebagai latar belakangnya karena masa SMP kan masa di mana para remaja sedang getol-getolnya mencari jadi diri, namun beberapa adegan justru aneh dan terlalu tua untuk dilakukan oleh anak SMP. Misalnya clubbing. Mungkin pengamanan di Jakarta ga seketat itu sehingga semua umur bisa masuk ke dalam club dan minum minum-minuman keras, tapi ya jangan ampe seekstrim itu juga kali penggambaran keliaran mereka. Ini anak SMP loh!! Kalo merokok sih (bisa jadi) masih wajar, tapi clubbing?? Seambruk itukah keamanan di Jakarta??

Kemudian cara berpakaian Molly juga urakan banget. Seragam ga terkancing sempurna, dasi longgar, lengan baju dilipat, rok mini, sepatu lebih dari semata kaki, berkuteks HITAM, serta pake make-up tebal di bagian mata yg berwarna HITAM… emangnya sekolahnya ga punya disiplin atau otoritas mengatur bagaimana siswa/inya berpakaian?? Ga sekalian aja Mollynya digambarin punya banyak tindikan atau bertato sekalian!!

 

Walaupun adegan Tania dan Yoga adalah salah satu adegan yg paling menyentuh sepanjang film, serta membuatku terkesan dengan kedewasaan dan kebijaksanaan Yoga dalam memilih kata-kata dalam menasihati Tania yg sedang labil, itu juga merupakan salah satu adegan paling aneh dan munafik yg ada. Gimana engga, Yoga juga bukan orang suci yg sesuai dengan apa yg dikira papa, mama, dan Karin. Ia senang melihat video porno, bahkan dengan eksplisit mencari gambar Miyabi (for those who don’t know who Miyabi is, i’m afraid i can’t tell u) yg sepertinya mudah dirayu dan digoda oleh Molly, yg juga menolak ikut campur dalam masalah pelik Tania, yg kemudian out of the blue datang dan melontarkan semua kata-kata bijaksana ini pada Tania:

“Semua orang jadi dirinya karena latar belakang dan alasan2 tertentu.
Ga banyak orang yg ngerti alasan Molly
Ga banyak juga yg ngerti alasan kamu, bahkan kamu sendiri
Tapi buat mas, itu gpp, itu sah2 aja
Karena kamu masih punya banyak waktu buat mencari, dan kamu juga masih punya banyak waktu buat mikirin hal seperti itu
Tp, makin tua, kita makin ga punya banyak waktu buat mikirin hal seperti itu”


Juga—yg kutangkap—bagaimana semua sikap pembangkang Molly hanya merupakan sikap protesnya karena harus tinggal sama mamanya yg berselingkuh dibanding sama papanya yg kebapakan dan perhatian banget (??)… dan akhirnya memutuskan membuang rokoknya. Tanda apa? Tanda tobat? Tanda rasa bersalah karena telah memberikan pengaruh buruk pada Tania? Atau tanda sadar bahwa apa yg dilakukannya selama ini salah, kekanak-kanakan, berlebihan, kelewat batas, dan juga sulit dimaafkan??

Lalu, bagaimana yg kebiasaan clubbing, minum, pakai pakaian urakan, dan segala hal buruk yg dulu merupakan kebiasaannya?? Dibuang atau engga??

Satu lagi, siapa sih ga bisa liat dan bisa argue kalau Molly itu ENGGA memberikan pengaruh buruk pada Tania??? Dan…OMG!! Tania bahkan masih bisa bilang kalau itu semua murni salahnya!! Ia yg mau berubah, karena kalau ia ga mau, sampai mampus pun dia ga bakal berubah?!?! Dan bahkan masih bisa bilang kalau Molly—of all people around her, for goodness’ sake—mengajarkannya untuk lebih dewasa…?!?!?!

Oh~la~la~~

I guess those people are nuts down to the very cell of their bodies..!!!
I do agree that if Tania refused to follow Molly’s bad behavior, she wouldn’t have changed so dramatically in the first place, but it doesn’t mean Molly didn’t influence her in a bad way. That’s totally wrong!! What an unacceptable excuse!!

Lagipula, toh bukan Tania yg awalnya meminta untuk coba merokok. Molly lah yg menyarankannya mencoba dengan iming-iming merayakan kali pertama Aditya datang ke rumah Tania. Dan bukan Tania yg ingin merubah penampilannya. Molly lah yg pertama kali bilang kalau pakaian-pakaian itu bukannya ga cocok sama Tania, tapi Tania hanya tak terbiasa. Tania bahkan digambarkan merasa risi memakai pakaian seperti itu—awalnya—dan bahkan menolak untuk pergi clubbing. Molly lah yg mengajarinya berperilaku yg aneh-aneh, menyuruh Tania melakukan segala hal yg ingin dilakukannya, menutup pintu kamar Tania, menggoda Yoga, dan memotong rambut Tania…

Molly yg heran kenapa Tania ingin menjadi seperti Windy tapi ga aneh melihat Tania berubah persis dirinya. Dan, for goodness’ sake, Tania jelas-jelas minta SARAN Molly apa LAGI yg harus dilakukanNYA untuk mengubah cara pandang orang lain terhadapnya!!!

Well, i think it’s all said. I’ve written enough. U can have your own opinion, but these are mine…

_
Rating: 4/5
Director: Fajar Bustomi
Production: MD Pictures, 2008
Cast: Nikita Willy, Risty Tagor, Stefan William
Genre: Teens, Drama

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s