Posted in Movie, Review

[Film] MBA (Married By Accident)

Film tentang pendidikan seks yg hampir separuh adegannya menyerempet-nyerempet, menjurus, tak sononoh, dan vulgar. I mean, i thought this movie targeted young viewers, or teenagers with their parents, so i personally think those scenes depicting briskly how IT is done and the conversations around IT were way too open and too inappropriate for their age—in addition to gross.

Ok. Let me explain what i just wrote.

Raskal (Marcell Darwin), 17 tahun, berpacaran dengan Ole (Nikita Willy) yg masih berusia 15 tahun. Selama 6 bulan masa pacaran mereka, mereka menjalani hubungan itu dengan lurus-lurus saja. Hanya pegangan tangan, pelukan, atau cium kening. Bahkan di adegan awal digambarkan Ole menolak dicium oleh Raskal. Intinya, mereka menjalani hubungan dengan santai, ceria, dan tanpa beban. Semua terasa berjalan dengan lancar sampai mereka mulai terusik omongan setan dari orang sekitar yg terus mempertanyakan kenapa mereka belum juga “ngapa-ngapain”.

Raskal dipengaruhi oleh dua teman lelakinya yg berlaku seperti sudah paham betul and expert soal ML. Mereka berpendapat sudah ga zamannya lagi melakukan ML hanya setelah menikah. Sedangkan Ole dipanas-panasi kakak perempuannya, Stella, yg gila seks dan doyan gonta-ganti pasangan. Menurutnya, cuma lelaki muna dan gay yg lagi berobat jalan aja yg nolak seks sama pacarnya. Dan kalau Ole ga ‘ngasih’, ga akan ada bulan ketujuh

(Catatan: hampir semua adegan yg menampilkan Stella dan kedua teman Raskal, termasuk kalimat-kalimat yg dilontarkan ketiganya, amat ga senonoh dan ga pantas untuk ditampilkan dan ditonton oleh remaja di bawah umur. Misalnya adegan test drive, pohon karet, dua sosis satu donat, dan video dan perilaku porno Stella dll di samping berbagai percakapan mereka yg tak bakal kutuliskan di sini)

Merasa omongan Stella ada benarnya, Ole mulai memancing Raskal mengenai hal itu, dan sialnya respon Raskal sama persis dengan apa yg telah dikatakan Stella. Dengan suasana yg mendukung, dan dengan ungkapan cinta sebelumnya, they decided to do it, which they regretted soon afterwards—i like the looks on their faces after it happened. Hanya rasanya aneh aja, Ole yg tadinya keukeuh Raskal serius padanya dan tak tertarik padanya hanya demi ‘itu’ bisa berubah 180 derajat hanya karena sedikit hasutan setan Stella…

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak…
Seperti tag line film ini: “sekali tendang, langsung gol”

Ole pun berbadan dua. Merasa belum siap, Ole pun memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Namun, ia mengurungkan niatnya begitu mendengar sendiri proses aborsi yg aneh-aneh, mengerikan, dan tak manusiawi. Adegan ini adalah adegan favoritku, bukan hanya karena dokternya nyeleneh dan suka ngelucu tapi tajam dan to-the-point (berusaha menggagalkan niat aborsi pasiennya), tapi juga karena menurutku hanya di adegan inilah pesan moral yg ingin disampaikan film ini termuat.

Ya, kemudian mereka berdua pun memutuskan untuk membesarkan dan merawat anak mereka bersama-sama. Namun perut Ole yg membesar tak bisa membohongi siapa pun kalau dirinya tengah berbadan dua…

Dan di sinilah letak berbagai keanehan dalam adegan-adegannya. Pertama, mengetahui kalau Ole hamil, ia dan Raskal tak tampak panik atau reaksi lainnya. Tampak santai banget, apalagi sejak Ole memutuskan untuk tidak aborsi. They seemed to live a carefree life as if they were a happily married couple expecting a newborn baby they had been waiting for. Contohnya, mereka dengan berbinar-binar mendatangi toko khusus perlengkapan bayi, membeli segala bahan makanan serta susu untuk ibu hamil, check-up rutin ke rumah sakit, ikut senam hamil, sampai menuruti segala keinginan ngidam Ole pagi-pagi buta. Kok rasanya bukannya takut dan parno Ole hamil, mereka malah tampak menikmati dan bahagia banget dengan “hasil” perbuatan mereka yg tak pada tempat dan kapasitasnya itu…

Kedua, kedua orang tua Ole digambarkan cuek dan ga pedulian banget dengan kondisi kedua anak perempuannya—note how i don’t write “anak gadisnya”—yg sedang memasuki masa puber. Si ayah (Ikang Fawzi) sibuk dengan kegiatan karaokenya dan si ibu (Marini Zumarnis) sibuk dengan segala usaha fitness dan alat-alat yg bisa membuatnya terlihat lebih seksi dan menggoda. Saking sibuknya, mereka bahkan tak menyadari kalau Stella berani berbuat tak senonoh di dalam rumah mereka sendiri. I never see such ignorant parents… what kind of parents are they??

Sedangkan papa Raskal digambarkan masih tak bisa melupakan almarhumah mama Raskal sehingga sedikit menelantarkan Raskal dan tak begitu perhatian padanya. Dan belakangan Raskal dan Ole seolah menyalahkan ketidakpedulian orangtuanya sebagai penyebab mereka melakukan “itu” sebelum resmi menikah.. Totally doesn’t make sense dan terasa dibuat-buat banget.

Ketiga, bahkan setelah mengetahui kehamilan Ole, reaksi kedua orang tua Ole juga biasa-biasa saja—selain pingsannya mama Ole dan kekhawatiran papa Ole akan kampanyenya (kalau tak salah). Orang tua dari kedua belah pihak yg sudah setuju memisahkan Raskal dan Ole kemudian dengan mudahnya ‘berbaikan’ setelah Julian lahir. Bahkan papa Ole segera menelepon kolega-kolega untuk memberitahu hal itu dan untuk mengadakan pesta besar-besaran…

HELLOOOWWW…!!! Julian itu anak di luar nikah loh. Dan Ole juga belum menikah sama Raskal!! Bukannya di adegan sebelumnya dia khawatir banget reputasinya bakal tercoreng karena kehamilan Ole?? Kok malah berubah 180 derajat??? Aneh aneh aneh…

Dan keempat, rasanya perilaku flirting Bu Susi (Sarah Sechan) pada papa Raskal ga senonoh dan ga pada tempatnya banget deh. Bu Susi kan petugas di rumah sakit itu, harusnya dia bisa bersikap professional dong, bukannya asal ada cowo ganteng langsung diembat begitu…

Haaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh……………..
Huuuuuuuuuuuuufffffffffffffffffffff……………..

Intinya, menurutku film ini gagal menampilkan bahayanya seks pranikah. Karena apa? Karena Raskal toh mau bertanggung jawab dan perhatian banget sama Ole dan tetap sayang banget sama Ole walaupun Ole hamil—bertentangan dengan segala macam cerita (klise) yg bilang kalau cowo bakal ninggalin ceweknya begitu ceweknya hamil. Dan toh seks pranikah bisa tetap dilakukan dengan aman tanpa ada embel-embel kehamilan di belakangnya ‘hanya’ dengan menggunakan kondom—sepertu yg digambarkan di salah satu adegannya. Selain itu, tampaknya mereka SEMUA bahagia banget dengan kehadiran Julian di tengah-tengah mereka.

Satu yg pasti, ga jelas apakah Ole akhirnya akan tetap sekolah untuk menjadi dokter hewan atau engga. Yg jelas, Raskal tetap pada rencananya meneruskan pendidikan desain di Jerman, dan berjanji akan menikahi Ole setelah ia lulus dan bekerja NANTI—kapan tuh akan terlaksananya??? Emang ada ya anak muda 17 dan 15 tahun yg seserius itu?? Aneh aja gitu ngeliatnya. Menurutku, hal-hal di atas sudah cukup untuk meruntuhkan niat film ini untuk memberi pesan moral akan pentingnya pendidikan seks sejak dini (atau pentingnya absenteeism sebelum nikah???)

SOOO…judul film ini ga mencerminkan isi ceritanya. Karena toh mereka juga ga married walaupun accidentnya udah terjadi…

_
Rating: 2/5
Director: Winaldha E. Melalatoa
Production: MVP Pictures, 2008
Cast: Nikita Willy, Marcell Darwin
Genre: Drama Komedi

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s