Posted in Movie, Review

[Film] Si Jago Merah

Satu lagi film yg awalnya memuat adegan-adegan lucu yg berhasil memancing tawa penonton, namun seperti beberapa film komedi yg telah kubahas sebelumnya, film ini berubah menjadi serius dan dramatis menginjak pertengahan film…

Si Jago Merah mengintip kehidupan 4 orang mahasiswa di Universitas Merdeka:
Rojak Panggabean (Judika): fakultas teknik mesin, asal Medan, aktifis yg senang berdemo.
Gito Prawoto (Desta): fakultas hukum, asal Sidoarjo, senang dugem
Dede Rifai (Ringgo): fakultas ekonomi, anak pejabat daerah, playboy kampus
Kuncoro Prasetyo (Ytonk): fakultas teknik kimia, anak juragan jamu dari Semarang

Mereka semua mahasiswa semester 6, yg sudah menunggak uang kuliah selama 4 semester berturut-turut walaupun berasal dari keluarga yg berkecukupan. Alhasil mereka dipanggil menemui Ibu Susi (Sarah Sechan) yg menagih uang kuliah mereka. Sayang, nasib berkata lain. Keluarga mereka semua mendapat musibah pada waktu yg bersamaan sehingga tak memungkinkan mereka melunasi uang kuliah sebesar 5 juta rupiah. Mereka pun memutar otak untuk dapat mengumpulkan uang 5 juta tersebut.

Kesamaan nasib membawa mereka berempat menjadi sahabat karib. Mereka berempat memutuskan untuk ngekos bareng untuk mengirit pengeluaran, dan berinisiatif bekerja part-time untuk menambah uang jajan. Sayang, kerjaan mereka tak selancar yg mereka duga. Suatu hari, mereka melihat mobil pemadam kebakaran lewat di depan rumah mereka. Mereka pun memutuskan untuk menjadi anggota pemadam kebakaran menilik berbagai keuntungan yg akan mereka dapatkan: mereka akan mendapat jatah makan 3x sehari, jadwal kerja yg tidak menyita waktu kuliah, dan kemungkinan digilai para cewek.

Lalu dimulailah petualangan mereka berusaha diterima menjadi anggota pemadam kebakaran. Ilmu teknik mesin Rojak membantu mereka diterima dan kesempatan mengendarai “Si Jago Merah”, mobil pemadam kebakaran yg legendaris. Selain hal itu, film ini tak berkaitan apa-apa dengan jurusan yg mereka ambil, ataupun kehidupan perkuliahan mereka. Seakan semua itu hanyalah tempelan belaka. Hanya alasan di ataslah yg mendorong mereka masuk ke jajaran pekerja “first responder”.

Satu-satunya karakter yg masih konsisten adalah kerasnya watak Rojak, serta emosinya yg gampang tersulut, mungkin hasil menjadi aktivis pendemo selama ini. Sisanya tak begitu tergali. Karakter playboy Dede tak begitu nampak kecuali ia beberapa kali melirik gadis yg lewat. Karakter Gito yg senang dugem malah berbalik seperti anak alim. Ia amat sabar dan kelihatan seperti mahasiswa baik-baik. Sedang Kuncoro dan claustrophobia-nya hanya ditampilkan sekitar 2x di sepanjang film.

Film ini mengalir lancar dan lucu sampai pertengahan film. Sayang, beberapa adegan lucu yg ditampilkan corny, garing, dan basi banget. Contohnya adegan mereka terpesona melihat pelatih cantik yg sedang berjalan ke arah mereka, yg kemudian tersandung—atau terjatuh (seperti di The Tarix Jabrix), atau menabrak orang lain (seperti di Claudia/Jasmine). Atau adegan setelah Kuncoro berkata gombal ke Mba Sally (Magdalena) yg kemudian berjalan ke arah yg salah, sampai kemudian diingatkan oleh Mba Sally, “Pintu keluarnya kan di situ.”—mirip adegan di Claudia/Jasmine. Kurang kreatif nih…

Setelah melalui pelatihan yg keras dan berat serta lulus latihan simulasi, mereka pun memulai petualangan membawa Si Jago Merah bernomor 525 untuk memadamkan api sungguhan. Sayang, 3x panggilan yg masuk ke markas bukan keadaan darurat, malah demi alasan lain yg bikin geleng-geleng kepala. Apa bener ya orang-orang bisa se-ga-punya-otaknya seajaib itu menelepon petugas pemadam kebakaran untuk hal yg aneh-aneh??

Yg pertama, mereka dipanggil ke rumah Airin (Tika Putri) yg meminta tolong mereka mengambil cincin tunangannya yg jatuh ke dalam kloset. Yg kedua, nenek-nenek meminta bantuan mereka menurunkan si “pus-pus” yg naik ke pohon tapi tak bisa turun. Si pus-pus ternyata bukan kucing, melainkan ular. Hahaha…mereka yg tak takut api ternyata takut ular!! Hahaha… Dan panggilan ketiga malah menyuruh mereka membuat hujan buatan untuk syuting video klip The Changchuters. *geleng-geleng kepala*

Selain hal-hal aneh di atas, mereka juga sering menyalahgunakan ‘kekuasaan’ mereka selaku pemadam kebakaran. Mereka sering menyalakan sirine di jalanan padahal tidak ada situasi yg mendesak (baca: kebakaran) hanya demi kepentingan mereka (misalnya mengantar Airin menemui pacarnya, atau ngebut ke kampus di jam macet). Mereka juga membuat hujan buatan demi menciptakan suasana romantis antara Airin dan Gito… Udah gitu, masak mereka ganti baju di atas Si Jago Merah yg sedang melaju di jalan?? Bener-bener deh… Ga masuk di akal dan logika!!

Tiga kali mendapat laporan palsu membuat mereka menghiraukan panggilan keempat yg masuk. Mereka lebih memilih memberi Airin dan Gito waktu untuk pacaran daripada memenuhi panggilan tugas. Sayangnya, saat itu kebakaran besar sedang terjadi, dan komandan mereka menjadi salah satu korbannya. Karena kelalaian mereka, mereka pun dipindahtugaskan menjadi petugas jaga yg kerjaannya mirip-mirip dengan pembantu: bikin kopi, masak untuk senior, serta bersih-bersih WC.

Merasa direndahkan martabatnya, Rojak pun berang. Ia menyalahkan Gito yg lebih mementingkan Airin daripada keadaan mereka yg ‘tertindas’. Lagipula, mereka lalai menerima panggilan demi kelancaran hubungan Gito-Airin. Gito yg tidak terima disalahkan turut emosi, dan mereka pun bertengkar yg berakhir dengan keluarnya mereka satu per satu dan renggangnya hubungan persahabatan mereka.

Kemudian terjadi kebakaran besar di museum kota. Dan panggilan jiwa untuk menolong orang lain mengalahkan segalanya, bahkan ketakutan Kuncoro pada ruangan sempit…

Apakah mereka berhasil memadamkan api untuk yg pertama kalinya?
Apakah mereka berhasil menyelamatkan nyawa orang lain?
Apakah persahabatan mereka akan kembali utuh??

Jawabannya bisa dilihat sendiri…

Awalnya aku rada gregetan karena tak jua menunjukkan adegan kebakaran. Cuma sekali dimunculkan dan itu pun di akhir cerita, seolah dibuat sebagai klimaksnya. Bener sih, orang-orang ga berharap mereka menjalankan tugasnya, karena itu berarti ada musibah kebakaran, tapi sepanjang film ga ngeliat upaya kerja mereka yg sesungguhnya bikin keki juga. Penonton malah disuguhkan hubungan antara Gito-Airin, Kuncoro-Sally yg ga jelas pangkal dan akhirnya (Sally katanya simpanan pejabat, tapi kok malah seperti memilih Kuncoro??), serta hubungan Dede-Nola (Poppy Sovia) yg lebih ga jelas lagi. Pacaran tapi kayak rentenir dan pengutang.

Udah gitu, adegan kebakaran di akhir film juga sedikit janggal. Tak gitu tergambarkan kepanikan para pemadamnya walaupun api amat besar dan banyak yg terkurung di dalamnya. Pelatih Indra Birowo bahkan masih bisa dengan tenang meminta Gito menolong mereka yg terjebak di dalam gedung. Kejanggalan lain saat mereka semua terlihat tak lagi menjalankan tugas, dan tak ada yg membantu Kuncoro menolong seorang nenek yg masih berada di dalam gedung. Apa mereka kelelahan? Habis energi? Terakhir, sayang banget mereka ga berhasil memadamkan api di Museum Kota…despite their motto: Pantang Pulang Sebelum Padam…

Pada akhirnya, walaupun rada kurang suka dengan karakter yg kurang tergali dan konsisten, serta beberapa tokoh dan adegan yg aneh, janggal, dan ga penting, aku suka film ini karena menampilkan keempat tokoh utamanya dalam porsi yg kurang lebih seimbang. Memang sih porsi lebih besar diberikan kepada hubungan Gito-Airin, tapi aku ga merasa ada tokoh sentral di film ini. Akting mereka juga bagus dan alami walau harus diakui kredit lebih harus diberikan kepada Judika yg mampu membuat peran Rojak stand out from the rest dan mencuri perhatian—dan patut mendapat perhatian lebih. I like him the most.

Dan walaupun penyelesaian masalah terkesan dientengkan dan amat mudah dan sepele, aku juga suka film ini karena menampilkan tema cerita yg lain daripada yg lain. Yg unik, menarik, dan (bisa dibilang) berbobot…

_
Rating: 3.5/5
Director: Iqbal Rais
Production: Starvision Plus, 2008
Cast: Ringgo Agus Rahman, Desta & Ytonk “Club 80’s”, Judika, Tika Putri, Poppy Sovia
Genre: Drama Komedi

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s