Posted in Book, Movie, Review

Lost In Love: buku vs film

Maybe this is the first time i commented on both a book and a movie with the same title concurrently. And i did it for no particular reason. I knew there was the movie, and only later did i find out that there was the book, too! Honestly, i dunno which came out first, the book or the movie, cuz nowadays, there are TONS of books written based on the movie, and vice versa. However, in the movie it was written “based on the novel Lost in Love” so i believe the book did precede the movie.

So, aforementioned, i reviewed both of them back-to-back for no specific reason. Well, it is because i happened to read the book right BEFORE i watched the movie. And after i read the book, this movie was the first movie i watched before Si Jago Merah. Since i haven’t written down my opinion about the book, so…here i am! Fasten ur seatbelt, and here we go…

Lost. In. Love. Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah itu ‘tersesat dalam cinta’ kah? Tapi…di sini kan ceritanya Tita tersesat di Paris?? *acting blur*

Haha. Ok. Bagi yg ga tahu, fyi, Lost in Love itu merupakan sekuel dari novel dan film laris Eiffel…I’m in Love yg juga merupakan buah tangan Rahmania Arunita. Ceritanya pun bersambungan. Dilihat dari latar belakang waktunya, Lost hanya berjarak beberapa hari dari akhir Eiffel walaupun produksi film ini dan Eiffel berjarak beberapa tahun. Di film ini, Rahmania Arunita ‘naik jabatan’ selaku produser/sutradara dari film yg hampir 100% adegannya dilakukan di kota Paris, Perancis.

Yup. Cerita ini dimulai setelah Adit akhirnya melamar Tita di menara Eiffel. Mereka telah resmi bertunangan. But, wait, it’s not a happily ever after story yet, cuz Tita is lost in Paris because she is lost in love. All because she is a spoilt, childish, and (i have to say) kinda annoying girl.

And the movie more or less portrays what was written in the book. Kalau di bukunya dimulai dengan Tita menulis di diary yg katanya pemberian Adit, di film dipaparkan bagaimana Tita berhasil mendapatkan buku diary itu setelah setengah merayu Adit. Tita yg seperti sedang berada di langit ketujuh setelah bertunangan dengan Adit pun mulai berkhayal menikah dengan Adit dan menyandang gelar “Nyonya…” sampai ia sadar ia tak tahu apa-apa tentang Adit. Bahkan tahu nama belakangnya Adit pun tidak! Oh-no.

Di film, kebingungan Tita yg tidak mengetahui nama lengkap Adit tak digambarkan karena omongan Tita terpotong masuknya Alan ke kamarnya. Alan tidak lagi diperankan oleh Tommy Kurniawan, melainkan oleh Adrian Subono…

Yep. Seluruh cast di film ini berbeda dengan cast Eiffel. Bahkan rumah Adit pun berbeda!! Yah gapapa sih berbeda biar ada perubahan, tapi masak rumahnya Adit pun ganti? Dalam hitungan hari (dirunut dari ending Eiffel), kamar Adit jadi serba putih, rapi, dan megah gitu. Komputer Adit pun berubah menjadi laptop. Kesannya jadi ga nyambung gitu… Sayangnya, aku ga inget apa mobil Adit dan supirnya juga berubah…

Melanjutkan bagian sebelumnya yg terputus… Alan (Adrian Subono) masuk ke kamar Tita (Pevita Pearce) dan menanyakan ke mana Adit dan Tita pergi SEMALAM—so…ternyata setting waktu Eiffel dan Lost hanya berjarak SATU HARI!! Dan saat Tita bilang ke Alan kalau Adit telah melamar dirinya, reaksi Alan ga terlalu kaget tuh…kayaknya biasa banget…

Dan banyak banget adegan yg ga jelas dan sedetil di bukunya. Dan akting para pemainnya…ga jelek sih…ga kaku-kaku banget…cuma kurang menjiwai aja…

Contohnya, di film kita ga tahu kalau kamar besar yg dimasuki Tita di awal film adalah kamar Adit kalau Adit dan Oom Reza (Barry Prima) ga muncul. Kemudian, saat Tita menghilangkan seluruh hasil tugas kuliah Adit, tak tampak tampang kaget, panik, atau merasa bersalah gitu. Dan adegan Tita menggigit ujung bantal rasanya maksa banget… padahal di buku terkesan alami banget sampai-sampai pas Tita ke-gap sama Oom Reza ada di kamar Adit tuh…gimana banget gitu… tapiii di film ga terasa sama sekali… Hal yg sama juga terasa saat adegan Tita mengoleskan separuh botol selai cokelat ke rotinya sampai Alan menegurnya… *penonton kecewa*

Perjalanan Tita tersesat di Perancis dimulai di acara pembukaan restoran milik ortu Tita (Chrisye Subono & George Rudy). Alih-alih mengenalkan Tita kepada teman-temannya seperti yg Adit (Richard Kevin) lakukan pada Alan, Adit dengan tega membentak dan mengusir Tita. Wuih…di situ tampang Adit sangar dan ganas abieesss!! Dengan kecewa Tita mendekati Bunda, yg dengan teganya pula nyuekin Tita. Alhasil Tita kesal bukan kepalang. Ia pun memutuskan pergi dari situ setelah mengambil uang 50 euro dari dompet Bunda dan juga sebuah buku kecil—yg tak penonton tahu bahwa itu adalah buku kamus Perancis-Indonesia karena bukunya ga disorot. Berhubung aku udah baca bukunya, ya aku tahu lah kalo itu kamus,,hehehe… Ia memutuskan berpetualang di kota Paris untuk membuktikan bahwa ia bukan anak kecil lagi. Ia bisa sendiri tanpa bantuan orang lain, terutama Adit.

Kemudian, Tita yg tak bisa berbahasa Perancis berhenti di sebuah kedai kopi yg pelayannya tak bisa berbahasa Inggris. Jadilah Tita berbahasa setengah planet setengah zaman batu dengan pelayan itu sampai di pelayan mengerti kalau Tita pengen pesen hot chocolate. Anehnya, setelah Tita mendapatkan 5 cangkir chocolat chaud instead of one, bukannya bingung, Tita malah mikirin apa seorang cowo yg terus melihatnya akan mendatanginya atau tidak! *Gubrak!!!*

Cowo yg kemudian mengaku bernama Alex (Arifin Putra) dan berasal dari Thailand itu memberitahu Tita alasan mengapa ia sejak tadi memperhatikan Tita: “Votre fermeture est ouverte.” Tita yg ga ngeh bahasa Perancis (and neither do i) jelas ga ngerti apa yg dimaksud Alex. Alex yg sudah kehabisan cara memberitahu Tita pun melihat kamus bahasa yg dibawa Tita dan meminjamnya untuk memperjelas maksudnya. Tita yg kemudian paham bahwa yg dimaksud Alex adalah ritseltingnya (how to spell zipper in Indo? *fail*) terbuka dengan kaget dan malu bangkit berdiri, yg menyebabkan kelima cangkir susu cokelat pesanannya tumpah mengenai kaus putih Alex. Tita pun langsung mengambil langkah seribu. Alex dan pelayan kafe yg menyadari Tita kabur serta merta berlari mengejarnya seraya menjerit-jerit, “Attendez!”

Ooohhh…i LOVE (all of) the running scenes…!!! LOL.
The scenes are hilarious, and the background music’s supporting the scene way too well…

Tita yg panik dikejar Alex dan pelayan kafe naik bus yg kebetulan sedang berhenti dan turun di tempat asing 15 menit kemudian. Dengan kata lain, Tita kesasar!! Tita pun berusaha mencari orang yg bisa berbahasa Inggris untuk menanyakan arah ke kafe, tapi hasilnya nihil. Sayangnya, di film kesulitan Tita menemukan orang yg bisa berbahasa Inggris tak terlalu ditonjolkan. Hanya ada satu orang yg disapanya sebelum John yg juga kesasar mendekatinya. Ya, seharusnya ada beberapa orang lagi yg ditanyainya sebelum akhirnya Tita pasrah dan duduk berselonjor di bus stop itu… (that’s my opinion)

John yg juga kesasar kemudian memberikan Tita nasihat untuk berjalan balik mengikuti jalur bus yg tadi ditempuhnya. Tita kemudian sampai ke perempatan jalan, yg dengan serius dipilihnya dengang metode, “bang-bang tut, akal gulang galing, siapa yg kentut ditembak raja maling” (!!!)

*gubrak~~ GUBRAK~~~ GUBRAKK~~~~*

Di saat bersamaan, Adit baru menyadari bahwa Tita tidak lagi berada di dalam restoran kecil itu. Ia pun menghampiri Bunda dan bertanya di manakah Tita. Satu lagi adegan yg ‘aneh’…

“Sori Tante, liat Tita ga ya?” tanya Adit
“Engga. Emangnya, kemana dia?” jawab Bunda dengan polosnya, tak terlihat panik.
“Saya juga lagi nyari sih. Apa pergi sama Alan mungkin?”
“Engga. Alan sih pergi sama anak-anak kedutaan. Emangnya, Tita pisah ke mana?” kata Bunda, masih tak terlihat panik anak mendengar kemungkinan anak gadisnya hilang.
“Tadi kalau ga salah sih saya liat dia ngobrol sama teman saya di depan. Saya cek dulu ya, Tante,” jawab Adit dengan datar tanpa ekspresi panik
“Oh, iya ya,” jawab Bunda, masih dengan tampang cool dan tak acuh…

Adduuuhhh…tanteee…anak tante tuh ilang!! Pergi sendirian!! Ga ada di kafe!! Masa reaksinya begitu amat sih, Tan???? Duhhh…gemes deh gue…!!!

Adit kemudian berusaha mencari Tita. Ga ditunjukkan kalau Alan dan teman-temannya juga sedang mencari Tita, padahal di buku digambarkan Adit dan Alan bekerja sama bahu membahu berpencar untuk mencari Tita…

Tita yg kelaparan kemudian sampai di toko buah, yg dipandangnya dengan mupeng. Kemudian, salah seorang pembeli keluar dari toko dengan anjing yg tiba-tiba lepas dan berlari ke arah Tita…
*another hilarious running scene with amusing background song “Run Tita Run”*

Then…ANOTHER weird scene…

While she’s running for her life since the dog wildly ran after her, tiba-tiba terlihat Alex sedang duduk tenang di pinggir kolam seolah sedang menunggu seseorang. And when he caught sight of Tita running and screaming at the same time, he promptly stood up and waved at her… That’s so weird, isn’t it??? I know, in the book it is described that Alex is looking for her to return her dictionary, but it doesn’t have to be THAT obvious, rite??

Well, so Alex returned Tita’s belongings to her and offered her help to get back to the cafe, for which Tita kept on rejecting. Padahal dia butuh bantuan untuk balik, tapi ada-ada aja alasannya untuk menolak bantuan Alex. Yg bilang Alex bakal bawa dia ke strange & scary places lah, yg mau jalan kaki aja daripada naek bus lah, ini lah, itu lah…sampai akhirnya Alex hilang kesabaran dan meninggalkan Tita sendirian di tepi jalan.

Tapi akhirnya Tita mendatangi Alex di apartemennya—yg alamatnya ditulis Alex di buku hariannya (yg ini beda sama yg dibuku)… dan kemudian masih menuntut macam-macam dari Alex (yg ini cuplikan dari buku tapi ga diulas dengan detil di film)… Cape deh…

Tita, Tita, Tita. Rasanya di Eiffel…I’m in Love lo ga semanja, sekekanak-kanakan, dan se-annoying ini deh!!

Akhirnya, Tita dan Alex pun berjalan ke kafe itu. Saat melewati pasar, mereka berhenti sebentar untuk membeli makanan. Saat Alex sedang menunggu pesanannya, Tita kembali keluyuran sendirian di pasar itu, dan tak sengaja berpapasan dengan Alan dan temannya. Panik, Tita pun kabur *another running scene* dan menyeret Alex masuk ke dalam taksi dan menuju kafe.

And the movie goes…

Pokoknya akhirnya Tita berhasil kembali bertemu dengan keluarganya—dan Adit—dan kemudian ada sedikit konflik karena ternyata Alex berbohong mengenai identitas dirinya…yg sayangnya ga dijelaskan kenapa ia berbuat begitu… Fortunately (or should i say unfortunately?) i already read the book, so i know the reason behind his lies…

In the end, in one way or another, Alex helped Tita to find her way back to her love…

Intinya adalah, film ini film yg ringan banget—bahkan lebih ringan dari kapas. Ga ada konflik, ga ada klimaks, ga ada hal yg sebenarnya patut ditonjolkan, kecuali keberanian Rahmania Arunita merogoh kocek untuk membiayai produksi film di Paris yg pastinya berbudget tinggi. Atau bahwa kedua aktor utamanya mampu bercakap-cakap dalam bahasa Perancis dengan fasih—i don’t speak French, so i can’t accurately tell whether they are fluent or not; but what i heard is what i wrote. I noticed they were able to communicate and utter their lines without stumbling around. Apa memang Rahmania sengaja mencari mereka yg bisa berbahasa Perancis? Apa Arifin dan Richard Kevin benar-benar fasih berbahasa Perancis (karena setahuku RK kan berdarah Jerman)? Ataukah mereka les bahasa Perancis dahulu sebelum take?? I don’t have the answer. But if you do, u can tell me 😉

Yang jelas, film ini cocok banget ditonton saat kita lagi penat dan suntuk. Saat kita memerlukan hiburan yg tak mengharuskan kita untuk berpikir. Saat kita memerlukan sebuah alasan untuk tersenyum atau tertawa sejenak. Atau saat kita sedang ingin melihat dan mendengar cowo-cowo cakep (berdarah indo) berbahasa half-French, half-English, and half-Indonesian… ;p

Atau bagi mereka yg benar-benar ingin melihat Adit dan Tita bersanding di pelaminan…
Btw, Richard Kevin as Adit in suit looks EXACTLY THE SAME as Richard Kevin in suit in the ‘Godai Aku Lagi’ music video…!!

Wah…rasanya ini review terpanjangku deh…
Bagaimanapun juga, aku ga menilai jelek film ini… partly because they acted properly for this movie even though that doesn’t mean that the quality was good enough to bring the emotion to life. Lagipula, dengan nonton kan aku jadi bisa denger tuh orang berbahasa Perancis, yg ga bakal bisa kubayangkan saat membaca bukunya. And no matter how stiff and lack-of-emotion Richard Kevin is, i still like him…LOLS…

Furthermore, i was blown away by the fact that both RK and AP can speak French fluently!! Well…and i guess Alex speaks good English there (di buku digambarkan baik Tita dan Alex tak begitu fasih berbahasa Inggris, jadi percakapan di antara mereka yg setengah-indo setengah-inggris ala Tita dan setengah-inggris setengah-perancis ala Alex diucapkan dalam broken English. Iya sih mereka ga gitu fasih, tapi ya mbok grammarnya dibenerin… Inggris kan bahasa internasional yg sudah umum, makanya aku lebih memilih baca buku versi Bahasa Inggrisnya dibanding terjemahannya yg rada kaku dan aneh. Aku sih ngerti-ngerti aja broken English yg mereka gunakan, tapi jadi rada terganggu aja bacanya. Berhubung aku ga tau bahasa Perancis, aku ga tahu apa percakapan dalam bahasa Perancis di buku itu bener apa engga… Sayang aja gituh, padahal novelnya [seharusnya] bisa dijadikan salah satu wacana untuk mengasah percakapan dalam bahasa Inggris [atau Perancis] bagi mereka yg kurang fasih menggunakannya).

Satu lagi yg kusuka dari film ini adalah karena latar belakang musiknya pas banget dengan adegan yg dilatarinya… biasanya kan adegan sama lagunya suka ga pas, atau ga nyambung, atau ga smooth gitu… tapi yg ini bagus dan pas banget… apalagi pas adegan lari-lari…hahaha…

Hal lainnya: rasanya RK sedikit terlalu tua deh buat Pevita Pearce yg digambarkan berusia 17 tahun… ;p Emgnya beda usia Adit dan Tita tuh berapa taun ya?? Adit kan masih kuliah…jadi seharusnya ga terlalu jauh donk?? Haha. Btw, mereka berdua kan sama2 blaster, so mukanya rada mirip2 gtu,,wkwkwk… *pardon my random remarks throughout this recap* m(_ _)m

Ppssstttt…!!!
*spoiler alert*
*spoiler alert*

From the movie, though, we FINALLY know (if any of the readers is curious to know) that Adit’s surname is… P-r-a-t-a-m-a ! ! So…jadilah Tita menyandang gelar “Nyonya Pratama”… hahaha…

Lastly, although Lost in Love doesn’t have a strong or fascinating plot, it isn’t that bad. At least it is entertaining as a movie 🙂

_
Rating: 2.5/5
BOOKS
By Rahmania Arunita
Penerbit: Akoer, 2008
Genre: Teens

MOVIE
A Rahmania Arunita Film
in collaboration with Batara Mitra Communication Octovate Group
Director: Rahmania Arunita
Production: Itrema Creative Development, Studio Samuan, 2008
Cast: Pevita Pearce, Richard Kevin, Arifin Putra
Genre: Drama Komedi

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s