Posted in Movie, Review

[Film] Liar

Beberapa review yg kubaca mengenai film ini tak memberikan kesan yg baik. Dalam artian, film ini tak selayak itu mendapatkan perhatian publik. Bahkan ada yg dengan terang-terang menulis, “Ini salah satu film jelek Rudi”. Nah loh…

Melihat reviewnya aja aku mau ga mau jadi sedikit kecewa karena sebenarnya aku banyak menyukai film besutannya. Membaca reviewnya, aku teringat akan film Cintapuccino yg std dan mengecewakan banget untuk ukuran seorang Rudi yg berhasil memikatku lewat AADC, 9 Naga, juga In the Name of Love.

Memang sih, ga mungkin kan seseorang itu berhasil melulu. Ibaratnya pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat akan terjatuh juga. Begitu pula dengan sutradara. Ada kalanya mereka menyutradarai beberapa film yg tak memenuhi standar. Standarku sih, ya sedikit banyak subjektif, hehehe…

Sialnya, aku tetep aja penasaran dan mengklik video “Liar 1” di youtube. Dan kembali tenggelam di dalamnya. Mungkin ini khas film-film buatan Rudi, ataukah hanya perasaanku saja kalau film Rudi hampir selalu bertempo lambat? 9 Naga, In the Name of Love, dan sekarang Liar. Film ini tak selembat dan se-mellow ItNoL sih, tp tetep aja lambat, kecuali untuk adegan berantem dan kebut2annya.

Nah, ketemu satu lagi nih di film-film Rudi: ada adegan kekerasannya. Baik di AADC, Mengejar Matahari, 9 Naga, ItNoL maupun di film Liar. Maaf ya kalo yg disebut judul yg itu-itu aja… Rudi emang banyak bikin film sih, tapi yg kuingat dan yg bisa kusambungkan ya mereka-mereka di atas ;p… Bukannya gimana, tapi aku ngeri, kesel, dan benci aja ngeliat anak-anak muda zaman sekarang kok kerjaan main kekerasan, adu jotos, berantem, dan bunuh-bunuhan melulu. Keroyokan pula, lagi! Kalo jantan kan ya satu lawan satu, gituh!

Ya udah, aku masuk ke filmnya aja deh, daripada ngalor ngidul—udah 5 paragraf!! Haha. Liar menangkap kehidupan dua anak muda kakak beradik, Indra (Irgi) dan Bayu (Raffi). Indra yg pembalap jalanan memutuskan berhenti dan menjadi ‘orang baik-baik’ setelah kematian ayahnya, terlebih karena ungkapan kekecewaan ayahnya pada dirinya sebelumnya. Ia pun beralih profesi menjadi petugas delivery pizza yg mempertemukannya dengan Monik (Intan).

Bayu yg dikeluarkan dari sekolah akibat berkelahi (buset, ibu kepseknya galak tapi realistis sekali!!!) memutuskan menjalani profesi yg dijalani Indra dahulu. Bergulat dalam dunia balap mengantarkannya pada konflik dengan Grup Macan yg notabenenya grup hitam yg dulu mengeroyok dan mencuri motor Indra. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk menjadi pembalap professional. Ia pun bertemu dengan Pepi (Asmirandah), yg kemudian menjadi mentornya.

Rupanya Grup Macan dendam pada Bayu karena merebut barang milik mereka dan keroyok mengeroyok, balas membalas dendam pun menghiasi sebagian durasi film. Akhirnya kepala geng macan mengancam Indra untuk menyuruh Bayu menghadapnya atau ia akan menghabisi seluruh keluarganya. Merasa bertanggungjawab atas kelakuan liar Bayu, dan atas rasa kasih dan tak mau kehilangan Bayu, Indra memutuskan mengambil keputusan yg akan mengubah hidupnya dan orang di sekitarnya.

Keputusan apakah itu??? Nonton dulu dong baru tahu jawabannya,,hehehe…

Yg jelas, memang benar kalau sosok Pepi dan Monik hanyalah tempelan karena tak berpengaruh banyak pada jalan cerita. Alur ceritanya, walau bertempo lambat, cukup mudah untuk diikuti dan cukup memikat untuk ditonton sampai habis. Film ini tak terkesan memiliki klimaks, walau menurutku adegan bergulat Indra dan Bayu di bawah guyuran hujan bisa dibilang sebagai titik puncak kisah kelam dua anak muda ini.

Seperti kebanyakan film besutan Rudi, kemampuan para pemainnya bisa diacungi dua jempol. Satu pertanyaanku: apa ini film pertama Irgi? Karena aktingnya bagus sekalihhh!!! Dan untungnya, film berbau kekerasan ini masih mengandung pesan moral. Mungkin komentar capungbesi di kolom youtube bisa menggambarkan secara jelas apa isi film ini:

“ini film tuh kritik sosial..
tentang realita anakmuda yg liar..
indra dan bayu adalah salah satu dari sekian banyak anak muda yang merasa punya nyawa 9..
Endingnya, diserahin sama ANAK MUDA INDONESIA

Pesan film ini ada di bag.10:
“Hidup hanya sekali bay!
Gunain hidup lu sebaik mungkin!”

5 stars buat rudy sudjarwo..
hidup film indo yg berisi!”

Hidup memang cuma sekali, dan memang seharusnya dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan melakukan hal-hal yg positif saja. Sayangnya, banyak ada muda yg menuruti emosi, ego, serta keinginan sok pamer kekuatan otot. Hidup itu ibaratnya balapan: HARUS PAKE OTAK, bukan cuma pake nyali. Hidup toh amat berharga, yg harus dijaga dan dihormati. Sayangnya, banyak orang yg menganggap hidup itu tak berharga melihat betapa mudahnya mereka ‘menghunuskan pisau’ untuk menghilangkan nyawa seseorang.

Overall, i have a kinda love-hate relationship with this movie. I hate the parts when they start fighting and killing one another, but i’m touched by the moral of the story and Indra’s character.

This movie is not THAT bad. Yes, this movie doesn’t focus on what it is supposed to focus on: the race. Yes, the sound often drowns the words, and yes, there are lots of close-up scenes. But, so what?? I like this movie apart from its crime and violence. Thus, i give this movie 4 stars out of 5 stars.

I’m pretty generous, eh?

_
Rating: 4/5
Director: Rudi Soedjarwo
Production: Astral Pictures, 2008
Cast: Irgi A. Fahrezi, Raffi Ahmad, Intan Nuraini, Asmirandah, Gunawan, Zainal A. Domba
Genre: Drama

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s