Posted in Movie, Review

[Film] Cintapuccino

cintapuccino

Film yg diangkat dari novel mana sih yg kualitasnya melebihi kualitas novelnya? Udah banyak bener kali contohnya. Dari produk dalam negeri macam Eiffel…I’m in Love, Dealova, sampai ke Ayat-ayat Cinta, sampai produk luar negeri macam Harry Potter, Eragon, sampai The Da Vinci Code, versi novelnya JELAS lebih memuaskan.

Yah, mau gimana lagi? Dalam sebuah novel, seorang penulis jelas bebas sebebas-bebasnya mendeskripsikan sang tokoh, perasaan sang tokoh, tempat, maupun peristiwa. Lha, mana bisa semua deskripsi itu dimasukkan ke dalam film? Atuh jadinya bukan film, tapi monolog? Dan JELAS, setiap lembar dan adegan di dalam buku tak bisa divisualisasikan ke layar lebar. Bisa-bisa durasi filmnya belasan jam.

Intinya, bagi yg udah baca buku yg kemudian (akan) difilmkan, dan yg udah jatuh cinta mati sama bukunya, cara paling ampuh untuk menghindari rasa kecewa ialah…ya dengan ga nonton filmnya! Keuntungan pertama: irit biaya karcis. Keuntungan kedua: irit waktu nonton—mending nonton film lain. Dan keuntungan ketiga: menjaga hati dan emosi, dalam artian biar ga keki trus memaki-maki yg bikin film setelah (atau selama) menonton filmnya.

Gampang kan??

Sama seperti Ayat-ayat Cinta, aku belum baca versi novel Cintapuccino sebelum ini. So, aku kembali ga bisa membandingkan keduanya. Dan menurutku, filmnya lumayan kok. Lumayan mendayu-dayu dan bikin bete+bosan. Lumayan bisa mengingat masa-masa SMA bagi para cewek yg memiliki Nimo-Nimo mereka sendiri—termasuk aku, sepertinya ;p. Lumayan bisa bikin keki akan (lagi) ke-plin-plan-an tokoh utamanya. Dan lumayan kesel karena akhir-akhir ini kok film-film yg beredar banyak menyorot sosok cewek dari sisi negatif yg sama: ga setia, plin-plan, dan kasarnya nih, tukang selingkuh.

Untuk ketiga kalinya, aku menonton film yg tokoh utama ceweknya gamang di antara dua pilihan: cowok yg sudah lama bersama atau cowok yg ‘lebih’ dari cowok yg sekarang (PIL). Anehnya, cerita cinta masa SMA yg terpendam hingga dewasa ini mengingatkanku pada film Cinta Pertama. Banyak kemiripannya, menurutku.

Contohnya, si tokoh cewek masih memendam cinta pertama pada saat akan menikah dengan tunangan mereka. Kedua, tokoh cewek juga masih memendam rasa penasaran pada si PIL—“he loves me, he loves me not?” Si cowok sumber konflik di kedua film ini ternyata juga menyukai sang cewek. Cowok yg ga jelas kenapa ga nembak si cewek pas masih satu sekolah aja. Dan tokoh cowok tunangan si cewek adalah sosok cowok berhati besar dan dewasa yg membiarkan dan merelakan hati si cewek terpaut pada cowok pujaannya. Pendeknya: mengalah.

Bedanya, tokoh cewek di Cintapuccino tak bernasib senaas cewek di Cinta Pertama. Ia sehat wal’afiat, bisa mendengar si cowok pujaan menyatakan cinta secara langsung, bisa bimbang, dan punya kesempatan untuk memilih. Bedanya lagi, si cowok pujaan di Cintapuccino masih lajang dan mengharapkan cinta si cewek. Perbedaan yg terakhir terletak pada ketidakadaannya penjelasan di Cintapuccino mengapa si cowok sampai memendam cintanya selama belasan tahun—dan baru nyari si cewek dan menyatakan cinta di saat yg paling ga tepat itu.

Oke. Masuk deh ke bahasan filmnya. Belum-belum udah panjang gini komentarnya, haha.

Rahmi (Sissy Prescillia) menemukan sosok lelaki dan calon suami yg amat ideal pada sosok Raka (Aditya Herpavi). Ia sabar, dewasa, pengertian, ganteng, serta mapan. Harusnya Rahmi menjadi wanita yg sedang berbahagia sembari menghitung mundur waktu pernikahan mereka yg akan segera dilangsungkan dalam hitungan bulan. Nyatanya, ia ragu apakah ia telah memilih sosok yg tepat. Bukan karena Raka kurang sempurna atau Rahmi merasa ada yg kurang pada dirinya, melainkan karena kehadiran Nimo (Miller) yg ‘tiba-tiba’ datang mengganggu ketentraman hati dan hidupnya.

Nimo adalah cowok obsesi Rahmi sejak SMA. Cowok yg merupakan cinta matinya. Cowok yg tak pernah tahu isi hatinya. Kehadiran Nimo yg tiba-tiba dan pernyataan cintanya pada Rahmi meruntuhkan semua fondasi cinta yg telah dibangun Rahmi bersama Raka dan mengacaukan logika berpikir Rahmi. Pernyataan cinta Nimo telah ditunggunya selama belasan tahun, namun ketika pernyataan itu datang, Rahmi sedang berada dalam posisi yg sulit. Sulit baginya untuk berpikir rasional dan memilih. Masih bolehkah ia memilih?

Ketika Raka mengetahui hal ini, ia dengan berbesar hati memberi kesempatan pada Rahmi untuk memikirkan ulang rencana pernikahan mereka. Pada siapakah akhirnya pilihan Rahmi dijatuhkan? Pada sosok calon suami yg ideal atau pada obsesi masa SMAnya?

Secara objektif, pemilihan Miller sebagai Nimo bisa dibilang sesuai dengan karakter Nimo yg dalam film digambarkan lama berada di Brunei. So, aksen non-Indonesianya yg cukup asing di telinga kita-kita bisa dipahami dan dimaklumi. Aktingnya juga ga ancur-ancur banget (ulang: ga ancur-ancur banget) walau jadinya tokoh Nimo di tangan Miller adalah tipe cowok lemah pengemis cinta Rahmi. Sosoknya mengiba banget sehingga terkesan banci. Sosok yg ga berkharisma atau charming yg sanggup bikin sosok Rahmi klepek-klepek sampai belasan tahun. Secara keseluruhan, Nimo terkesan tak punya kelebihan yg bisa membuat Rahmi jatuh hati setengah hidup kepadanya—RALAT!! Yg bisa bikin Rahmi terOBSESI kepadanya. Selain aksennya yg bikin Rahmi gemes sama dia, atau tampangnya yg (mungkin) bisa bikin sebagian cewek melelehh…

NOT ME, for sure!!

Selain di adegan masa SMA Rahmi saat ia berlari di bawah hujan dan di sampingnya berlari pula Nimo yg terlihat keren, memilih Nimo dibanding Raka jelas tak berdasarkan akal sehat. Berdasarkan hati, jelas, secara bagi sebagian orang, first love never dies. Hmmm…terserah Rahmi sih…tapi…ya gitu deh…ke-plin-plan-annya jelas berbuah makian dan kutukan (penonton) tuh!!

Bener sih, Nimo itu “hanya” cerita TOLOL sama SMA yg pasti pernah cewek-cewek alamin: ngegebet cowok tapi ga berani ngomong sama doi. Dan KEBETULAN, Rahmi beruntung banget karena si kisah TOLOL menjadi kenyataan—ternyata dia nyariin Rahmi selama ini, dan dia CINTA sama Rahmi. Duh, ga kebayang deh apa rasanya kalau cowok yg kita suka sekian lama AKHIRNYA nyatain perasaannya ke kita. Pastinya ngebahagiain banget—yg pasti ga pada saat kita udh mau nikah sama cowok lain.

Membuat pilihan memang sulit, tapi kok rasanya tokoh Rahmi itu egois dan bermulut besar banget ya? Dia membela kegamangannya dan ‘menyalahkan’ Alin yg menurutnya ga menimbang perasaannya. Apa dia menimbang perasaan Raka dan keluarganya? Dia juga bilang “kebetulan Nimo datang pada saat kita akan menikah, itu aja!” dan menuntut Raka untuk “berpikir yg jelas-jelasnya aja” sedangkan dirinya sendiri tak bisa berpikir dengan jelas. Apa selama ini yg ia jalani bersama Raka bukan cinta? Kok bisa dengan gampangnya bimbang dan berubah pikiran sih?

Well, of course, everybody is selfish. It’s undeniable. So, is she forgiven for being such a selfish girl and making such an irrational decision based solely on her long-lasted obsession?

Kritikan lain untuk film ini adalah adegan ngepul bareng Rahmi dan Uwa. Serta kesamaan antara kebiasaan merokok mereka. Mulai merokok sejak SMP, berhenti merokok ketemu calon suami, lalu kembali merokok karena ia kesal sekali tak bisa menikah dengan orang yg paling ia cintai. Kesannya rokok itu sebagai pelarian dan menimpakan alasan merokok HANYA karena gagal bersanding dengan pasangan idaman.

Menurut pendapatku, ungkapan Uwa ”Zaman sekarang, cinta tak perlu perjuangan ya? Calon istri kok ditinggal begitu saja hanya gara-gara cemburu” itu merujuk pada Raka, tapi kok malah membuat Rahmi memutuskan memilih Nimo sih? Ga salah mengartikan ya?

Akhirnya, aku kecewa pada pilihan Rudi Soedjarwo untuk pemeran Nimo. Padahal rasanya aktor/aktris yg bermain di film Rudi kebanyakan oke punya. Bahkan, beberapa filmnya rela kutonton HANYA karena itu film besutan Rudi. Beberapa di antaranya bahkan menjadi film favoritku, seperti AADC dan 9 Naga.

Kalau memang ia bermaksud membuat tokoh Nimo beraksen asing, ga ada apa sosok yg lebih berkharisma dan membuat cewek kesengsem berat sama dia? Apa aktor Indonesia ga ada yg cukup charming yg bisa dijadikan sosok cowok obsesi Rahmi? Gimana ya, kadang dialognya bikin merinding, seperti pada saat dia bilang, ”Elo, Mi!”, aku mengernyit, ”Lomie??” …huahahaha… Ga romantis banget! Kurang greget!! Dengan dipilihnya sosok Miller sebagai si cowok idaman, aku kok jadi mempertanyakan selera Rahmi. Apa itu cowok obsesi ELO, Mi? Jelas aja si Raka kecewa bangetzz!!

Kalau soal camera hand-held khas Rudi, aku sih ga merasa terganggu. Lebih terganggu di film Mendadak Dangdut yg sukses bikin aku pusing dan memejamkan mata. Maaf ya Oom Rudi, filmnya kukasih 2 bintang >.<

_
Rating: 2/5
Director: Rudi Soedjarwo
Production: SinemArt Pictures, 2007
Cast: Sissy Prescillia, Miller, Aditya Herpavi Rahman, Nadia Saphira, Nani Wijaya, Nani Somanegara, Ida Kusumah
Genre: Drama

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s