Posted in Movie, Review

[Film] Coklat Stroberi

Ketika dua cewek jomblo dan dua cowok gay tinggal seatap…
…terbentuklah sebuah film karya Upi berjudul Coklat Stroberi.

Another film by Upi (although was not directed by her), another movie (by Upi) that i like, and another movie (by Upi) which received at least 3 out of 5 stars from me after 30 Hari Mencari Cinta, Realita Cinta & Rock ‘n Roll, and Radit dan Jani. And another movie depicting gay issues.

Bedanya, di 30 Hari dan Realita Cinta, karakter gay atau transgender tak tergambarkan dengan utuh dan penuh alias tak mendapat perhatian yg memadai karena bukan di-plot sebagai tokoh utama. Lain halnya dengan tokoh gay di film Coklat Stroberi. Arti dari Coklat Stroberi, judul film ini, sendiri bisa diketahui kalau kamu nonton film ini.*

Sama seperti film-film lainnya, film Coklat Stroberi juga ‘memajang’ pelbagai iklan para sponsor sepanjang durasi film dengan amat-sangat-jelas mencoloknya, yg sialnya seringkali memang pas dan sesuai dengan adegan yg sedang berlangsung, bukan sekadar tempelan doank.

Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy) adalah dua mahasiswi yg menyewa satu rumah kost bersama. Citra bekerja sambilan di sebuah distro sedang Key berusaha menjadi bintang sinetron. Sudah beberapa bulan mereka menunggak pembayaran uang kost sekaligus tagihan listrik yg membuat sang ibu kost memutuskan untuk memasukkan dua orang lagi ke dalam rumah kost mereka. Win-win solution. Ibu kost membantu temannya mencarikan rumah kost untuk anaknya dan teman anaknya sedang biaya rumah kost Key-Citra akan lebih ringan karena dibagi empat.

The two new people turned out to be two handsome guys named Nesta (Nino Fernandez) and Aldi (Marrio Merdithia). Nesta berkarakter layaknya cowok ‘normal’ yg senang tebar pesona sedang Aldi lebih kemayu, misterius serta tertutup. Keakraban antara Nesta dan Aldi yg berlebihan menimbulkan kecurigaan di benak Key dan Citra, terutama Citra. Key yg mudah tertarik pada lawan jenis jatuh cinta pada Nesta, dan Citra yg tak ingin menjadi perawan tua sampai 60 tahun berusaha menarik perhatian Aldi.

Melihat kedekatan Key dan Nesta, Aldi bersikap tak suka. Ia menjadi jutek dan mudah tersinggung. Kecurigaan Citra menjadi kenyataan. Terkuaklah rahasia di antara mereka: Nesta dan Aldi sudah pacaran selama dua tahun.

Lagi-lagi, pembuktian ‘kebenaran’ diselesaikan dengan terlihatnya adegan ciuman antara dua insan. Perselingkuhan Miranda di film Love serta Vega di From Bandung with Love terbongkar karena sang suami/pacar memergoki mereka berciuman dengan pria lain. Realita Cinta, The Butterfly, dan Heart memasang adegan ciuman untuk membuat tokoh sentral lainnya patah hati. Arisan dan Coklat Stroberi menguak hubungan gay tokohnya karena adegan ciuman yg terlihat pihak lain. Penyelesaian yg klise, repetitif, mudah tertebak, dan membosankan. Apa ga ada cara lain selain adegan ciuman yg disaksikan orang lain?

Film ini juga menimbulkan beberapa tanda tanya bagiku: kenapa Key yg awalnya digambarkan getol mengikuti casting tiba-tiba berubah haluan untuk mencari kerja apa saja asalkan bener? Kenapa uang bulanan kost seolah hanya ditanggung Key? Citra hanya digambarkan menuntut Key membayar uang bulanan tanpa usaha membantu, tapi rewel saat Nesta dan Aldi tinggal bersama mereka.

Niat Citra mendekati Aldi juga ambigu. Untuk menarik perhatian Aldi atau membuktikan orientasi seksual Aldi? Abis, Citra kan digambarkan curiga abis sama sikap Aldi-Nesta, tapi kok masih getol aja ngedeketin Aldi? Akhirnya Citra yg digambarkan tetap menjomblo tak punya kekuatan di dalam cerita ini. Karakternya kurang berpengaruh pada jalan cerita. Terakhir, Nesta itu sebenernya apa sih? Gay yg menjadi normal, biseksual, atau menjadi pasangan gay Aldi hanya karena terbawa lingkungan?

Akting para pemainnya lumayan ok walau akting Marsha Timothy dan Nino Fernandez ga sebagus akting mereka di film Otomatis Romantis dan Claudia/Jasmine. Nadia Saphira terbilang pas memerankan tokoh Key. Yg paling kinclong adalah akting Marrio sebagai Aldi. Tampang juteknya, akting kemayunya, serta segala sikap ‘so gay’ dan celotehan kesalnya yg bisa bikin ngikik benar-benar membuat film ini menjadi hidup banget. Dapet banget dia jadi Aldi. Sampe-sampe aku kepikiran apa itu karakter aslinya—kemayu rada2 bencis gitu—atau….apa dia bener2 gay?? LOLS yg engga-engga. Habis, akting cemburu serta perhatiannya ke Nesta bener-bener mengekspresikan kalo dia tuh CINTA banget sama Nesta. Natural sekalihh!!

Sayangnya, menurutku, chemistry antara Key dan Nesta ga dapet sama sekali. Hambar abies. Ngeliatnya jadi rada suntuk. Chemistry antara Nesta sama Aldi juga ga kuat-kuat banget sih walau Marrio berakting total menjelma menjadi sosok Aldi yg benar-benar mengharapkan dan percaya pada Nesta.

Overall, alur cerita berjalan mulus. Penggambaran karakter gay—tema yg cukup jarang diangkat ke permukaan—cukup unik dan menyentuh. Membuat kita melihat keberadaan tokoh gay dari sisi lain yg lebih positif. Sejauh ini kan sosok gay itu dikucilkan, diisolasi, dianggap tabu, dan ditolak masyarakat. Tapi melalui film ini, aku merasa aku bisa melihat kaum gay dari sudut pandang yg berbeda. At least that’s what i thought after watching this movie.

Coklat. Stroberi. Yg manakah kamu?

_
Rating: 3/5
Director: Ardy Octaviand
Production: Ifi (Investasi Film Indonesia), 2007
Cast: Nadia Saphira, Nino Fernandez, Marrio Merdhitia, Marsha Timothy
Genre: Drama Komedi

*) Spoiler alert: Coklat menggambarkan kemachoan/maskulin, sedangkan Stroberi menggambarkan sisi ‘feminin’, yg dalam konteks film ini merujuk pada sosok lelaki

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s