Posted in Movie, Review

[Film] Kamulah Satu-satunya

Bukan karena film ini tentang grup band Dewa maka aku nonton film ini.
Bukan karena film ini disutradarai Hanung maka aku nonton film ini.
Dan bukan karena ini film komedi maka aku nonton film ini.

Setelah menonton 30 Hari Mencari Cinta, Mirror, Heart, Belahan Jiwa, dan Get Married, aku penasaran peran seperti apa yg diperankan Nirina kali ini. Film ini memang masih bergenre komedi, tapi bukan berarti Nirina kebagian peran kocak seperti Mae di Get Married donk?

Well, mungkin tidak sekocak tokoh Mae, tapi Nirina kembali jatuh ke peran-peran yg telah diperankannya sebelumnya. Cewek tomboy yg tough. Eits! Bukan berarti cewek tomboy yg tough ga punya sisi sensitif dan bisa menitikkan air mata loh! Alhasil, menonton film Kamulah Satu-satunya, kita kembali menyaksikan Nirina dengan perannya sebagai cewek tomboy bersuara cempreng seperti yg telah kita saksikan di film-film sebelumnya.

Kamulah Satu-satunya memasang wajah band Dewa 19 sebagai sosok band yg digandrungi anak muda, tak terkecuali Indah. Kemahsyuran nama Dewa 19 nampaknya terdengar pula sampai ke Bayah, kota kecil di Pelabuhan Ratu. Sebagai penggemar fanatik Dewa 19—dikenal dengan nama Baladewa—Indah pun berkeinginan kuat untuk dapat menemui band idolanya itu dengan cara apapun. Keinginannya melambung saat ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Dewa 19 dan tur ke 5 kota dengan cara mengirimkan kupon yg hanya bisa didapatkan di setiap keping album terbaru Dewa 19.

Kemungkinan untuk menang sih memang kecil banget, makanya ga heran saat Indah tak memenangkan tiket ke Jakarta untuk bertemu Dewa 19. Dibantu teman baiknya, Bowo, Indah menghalalkan segala cara demi meraih impiannya. Keberatan sang Abah akan kepergiannya ke Jakarta tak digubrisnya sedikit pun. Yg ada dibenaknya hanyalah Dewa, Dewa, dan Dewa. Bribing, running away, lying…intinya, she was (only) getting herself and her significant others into trouble.

Datang ke Jakarta nampaknya tak semudah bertahan hidup barang sehari di Jakarta. Tak lama menghirup udara penuh polusi Jakarta, Indah dihadapkan pada kenyataan kota metropolitan: pencopetan, penodongan, maling teriak maling, tak akan ada yg membantu saat kita kesusahan, demonstrasi, penggerebekan oleh oknum yg tak berwajib sampai main hakim sendiri dilaluinya dalam jangka waktu kurang dari 24 jam. Ancaman berada di depan mulut harimau hanya membuatnya mundur satu langkah sebelum memutuskan kembali berjalan 10.000 langkah demi bertemu sang idola.

Merasa berdoa saja tak cukup, Abah Daim memutuskan mengejar cucu satu-satunya itu ke Jakarta bersama Bowo. Apakah alasan sebenarnya Abah melarang Indah pergi ke Jakarta? Berhasilkah Abah dan Bowo bertemu dengan Indah? Dan membuahkan hasilkah usaha ‘keras’ Indah untuk bertemu dengan Dewa 19? Ummm…ini harus disaksikan sendiri donk!! Haha… spoiler alert…spoiler alert!!

Review: akting Nirina di film ini bisa dibilang aktingnya yg paling ga kusuka dari semua peran-perannya yg lain. Bukan berarti aktingnya ga bagus—dibanding aktris kebanyakan sih aktingnya di sini masih masuk kategori ‘akting yg baik’, tapi di sini sosok Nirina keluar banget. Nirina kurang berhasil menjadi Indah. Yg kelihatan adalah sosok Nirina seperti yg biasa kita saksikan di layar kaca (baik saat ngemsi ataupun acara lainnya) dalam sosok bernama Indah. Gaya bicaranya dibuat-buat dan beberapa kali aktingnya benar-benar ga alami dan “Nirina banget!”

Justru sosok Bowo yg mencuri perhatianku di samping sosok Abah yg protektif. Pembawaan karakter Bowo amat alami dan katro seolah bener-bener pembawaan orang dari desa terpencil. Karakter Indah sendiri, menurutku, terlalu mudah percaya sama orang lain yg belum dikenal. Makanya ia sering kena tipu. Sikapnya juga terlalu preman. Dia kan baru datang ke kota baru yg belum dikenalnya, rasanya sikapnya itu hanya akan mendatangkan bencana baginya.

Penggambaran suasana carut-marut, semrawut, sumpek, dan ‘busuk’nya kota Jakarta benar-benar tergambar secara realistis di sini—salah satu poin yg kusuka dari film ini. Fakta yg bikin malu sama kota sendiri tapi juga ngangenin. Bagaikan dua bilah mata pisau. I miss u but i hate u, mengutip judul lagu Slank. Mungkin hal ini bisa menjadi eye-opener bagi mereka yg tergiur datang ke Jakarta to make a (better) living. Jakarta bukan kota yg perfek. Banyak kejahatan yg terjadi—banyak orang yg berniat ga baik walau tak sedikit yg berhati mulia.

Dan apa yg dialami Indah dalam satu hari—segala keapesannya di Jakarta—mungkin ga akan menimpa kita di Jakarta dalam tempo waktu yg berdekatan, tapi untuk sekadar siap-siap, siap mental dan siap modal, ga ada salahnya, kan?

Apa yg dialami Indah juga mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi mereka para penggemar fanatik band-band tanah air. Jangan terlalu fanatik! Sah-sah aja sih suka sama penyanyi tertentu, dan sah-sah aja sih punya keinginan bertemu muka dengan mereka, tapi ya jangan ampe terobsesi. Jangan sampe semua hal ga penting kecuali (bertemu dengan) band idola. Jangan sampe semua yg dimiliki dikorbankan hanya demi bertemu dengan band idola.

“Kamu hanya mengejar mimpi!” raung si Abah. Emangnya salah bermimpi? Dan apa salah mengejar mimpi? Kalau manusia ga punya mimpi dan ga punya keberanian untuk mengejarnya, apa tujuan hidup manusia dong kalo gitu? Aku sih ga setuju sama pendapat Abah yg menyalahkan pengejaran mimpi Indah sebagai biang keroknya.

Kefanatikan Indah lah yg harus dipertanyakan. Maka dari itu, rasanya film ini lebih pas kalau berjudul “Fanatik”, judul awal film ini. Abisnya, judul “Kamulah Satu-satunya” kok rasanya kurang menggambarkan keseluruhan film ini ya? Apa sih yg dimaksud dengan “Kamu” yg cuma “Satu-satunya”? Gemerlapnya kota Jakarta kah? Band Dewa kah? Obsesi Indah akan Dewa kah? Atau Indah kah?

Di samping hal, film ini juga masih berisikan beberapa adegan ga penting. Aku tahu kok kalau film ini disponsori oleh salah satu merk rokok secara di poster filmnya aja tuh merk rokoknya mencolok banget gedenya. Tapi, bukan berarti di dalam film tuh merk harus ditonjolkan tanpa hubungan ke jalan cerita donk?? Kenyataan Bowo yg memendam rasa suka pada Indah juga rasanya hanya tempelan yg lebih baik dihilangkan. Persahabatan murni Indah-Bowo rasanya akan lebih indah dan menyentuh.

Cuma ada satu aja pertanyaan yg masuk ke benakku setelah menonton film ini: Apa sih tujuan Hanung bikin film ini? Menunjukkan kebobrokan Jakarta? Mempertanyakan sisi Jakarta yg mana yg menarik ribuan orang dari luar Jakarta untuk datang dan mengadu nasib di Jakarta? Mempertanyakan ke-tidak-masuk-akal-an sikap fanatik para penggemar? Atau ketiganya? Atau….???? Can anybody tell me?

_
Rating: 3.5/5
Director: Hanung Bramantyo
Production: Oreima Films, 2007
Cast: Nirina Zubir, Didi Petet, Junior Liem
Genre: Drama, Sosial budaya

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s