Posted in Movie, Review

[Film] The Tarix Jabrix

Heran deh kenapa rasanya banyak banget resensi film yg memuji film ini. Bukannya film ini jelek, tapi biasa banget juga ga luar biasa bagus. Malah penyelesaian segala konflik yg ada bisa dibilang ‘merendahkan martabat manusia’ saking gampang, simpel, dan dodolnya. Nonton film ini bener-bener ga bisa membuat aku expect apa-apa, cuz every expectation i have is crashed down to earth so hard i don’t dare to raise any other hope.

Dalam kata lain, akhirnya aku bisa bilang INILAH contoh film yg bener-bener ga memerlukan kita membawa otak kita untuk menyaksikannya. Cukup pake mata dan telinga. Dan mulut untuk terkadang tersenyum simpul, tertawa kecil, atau mencaci dialognya dalam hati.

Cacing. Siswa SMA yg berniat bergabung dengan geng motor Road Devil. Layaknya ujian masuk SD, SMP, SMA, atau universitas, untuk dapat diterima ke dalam geng, para calonnya harus lulus 3 macam ujian dan harus mematuhi 3 peraturan yg intinya melanggar aturan yg udah ada. Tak bisa melawan hati nuraninya untuk mematuhi yg benar, Cacing tak lulus satu tes pun. Hal ini membuatnya ingin membentuk geng motor sendiri yg tak melanggar peraturan yg berlaku.

Mengajak teman sepermainannya, Cacing cs membentuk geng motor The Tarix Jabrix yg bermottokan “safety first”. Aturan yg berlaku pun amat standar: menjunjung tinggi harga diri, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, dan menghormati orang tua—contohnya: mereka memberi jalan buat seorang nenek yg hendak menyeberang jalan.

Jadilah geng motor The Tarix Jabrix yg berisikan anak-anak SMA culun, nekat, dan bermodal seadanya. Ga punya moge? Motor butut pun jadi. Ga punya SIM? Ya bikin SIM. Ga punya banyak pengikut? Berlima pun jadi! Alhasil, dalam masa perjuangannya, The Tarix Jabrix beranggotakan Cacing, Mulder (anak orkay yg ga mengizinkannya naik motor), Dadang (yg bapaknya ga mirip sama sekali sama dirinya dan menderita penyakit bangun-tidur-lupa-kejadian-sebelum-tidur), serta si kembar tak identik Ciko dan Coki yg rada autis dan hiperaktif.

Geng motor amat sopan dan santun ini berhadapan dengan geng lain saat tak sengaja Cacing menyemprotkan motor oli ke wajah pengikut The Smokers, geng motor nomor wahid di Bandung. The Smokers juga dikenal suka bikin onar walaupun mereka mengklaim mereka bersih dari narkoba. Masalah meruncing karena Cacing naksir Calista, adik Max, pentolan The Smokers. Karena alasan sepele itu, The Smokers menyerang The Tarix Jabrix. Pergelutan yg baru berlangsung beberapa detik dibubarkan oleh datangnya polisi. Dadang yg bersembunyi di gang kecil memergoki salah satu anggota The Smokers membuang bungkusan mencurigakan berisi bubuk putih yg belakangan diketahui adalah heroin.

Tanpa alasan yg jelas juga, The Tarix Jabrix ikut campur urusan anggota The Smokers pemakai dan bertekad membongkar rahasia ini. Nambah lagi satu ‘kesalahan’ Cacing: nuduh The Smokers adalah junkies. Nekat, mereka mendatangi markas The Smokers yg berakhir dengan tertangkapnya Ciko. Mereka pun menyusun strategi untuk menyelamatkan Ciko, membongkar pemakaian narkoba di dalam lingkaran The Smokers, dan memenangkan hati Calista. Berhasilkan misi mereka?? Nonton donk! Tapiii…harusnya bisa ketebak donk?? Hehe.

Kelar dengan ringkasannya, sekarang saatnya…kritikan!! Bukan berarti film ini jelek loh, tapi ya pengen aja mengeluarkan unek-unek tentang film ini, biar ga ngeganjel di hati ;p Pertama: akting. Oke. Untuk ukuran non-aktor, The Changcuters pantas diacungi dua jempol karena akting mereka lebih natural dan enak dilihat daripada aktor/aktris kebanyakan.

Kedua: Cacing. Super jayus, norak, dan banyak lagaknya. Mau niru Jim Carrey? Oke aja sih asal pada tempatnya aja. Awalnya lumayan lucu ngeliat tingkahnya yg nge‘sok’ dan ‘belagu’ banget, lama-lama…BT juga ngeliatnya. “Ga usah banyak lagak deh!” adalah ungkapan keselku ngeliat aksi konyol Cacing.

Ketiga: Cacing. Lagi? Ya. Tapi kali ini bukan soal karakternya, tp ucapannya. Mungkin buat ngelucu, tapi bagiku kata-kata yg diucapkan Cacing cuma memperlihatkan ke‘bodoh’annya padahal dia itu kan anak SMA.
Contoh:

“Caca Sutarya, anak tunggal dari tiga bersaudara.”
“Menolong yg lemah dan membela kebetulan”

Nangkep yg kumaksud?
Gapapa sih kalau mau memplesetkan suatu kata kayak “selamat walafiat”, tapi ya mbok yg lebih cerdas sedikit napa.

Keempat: SMA. Apa ga ketuaan tuh tampang-tampang begitu masih dipasang sebagai anak SMA?

Kelima: Mayang. Menurutku, tokoh Mayang ga punya kontribusi apa-apa ke jalan cerita selain membantu memodif motor antik Dadang di akhir cerita. So, tokoh Mayang cukup ga penting dan bisa dihilangkan tanpa mengurangi keutuhan cerita.

Keenam: ga konsisten. Awalnya Calista bilang kalo dia ga ngerasa sebagai pacarnya Valdin, tapi belakangan dia bilang Max yg menyuruhnya pacaran sama Valdin. Jadi sebenernya Calista itu pacaran (karena terpaksa) sama Valdin atau engga sih?

Ketujuh: Saipul Jamil. Lucu sih memang, tapi masa Hanung dibilang Saipul Jamil? Oke, mungkin ada yg ga tau siapa itu Hanung Bramantyo dan siapa itu Saipul Jamil, so, it doesn’t matter who the character in the film was. Tapi jangan jadi pembodohan masyarakat donk…Hanung dibilang Saipul Jamil…ckckck… (btw, kalo yg nonton ga tau siapa itu si “Saipul Jamil”, rasa-rasanya adegan ini ga bakalan jadi lucu deh…so, sepertinya yg nonton diharapkan tahu kan??)

Kedelapan: kegampangan. Seperti yg kubilang diawal, film ini menyuguhkan konflik dengan penyelesaian yg nyeleneh atau gampang abis. Bisa dibilang ‘bodoh’ juga sih. Contoh: dikejar-kejar para waria ternyata hanya mau disuruh menyanyi; Dadang kehilangan cacatannya dan lupa cara memodif motor, tiba-tiba out of nowhere Mayang comes to the rescue; mudahnya langsung dianggap ‘brothers’ sama The Smokers; menangnya balapan antara Cacing dan Valdin karena Valdin menghindari kucing atau apalah itu.

Kesembilan: banyaknya adegan ga masuk akal atau ga penting. Contoh: Dadang kehilangan catetannya, ya mbok nyatet di tempat lain. Emang ga modal beli buku sama pulpen? Selain tokoh Mayang, obrolan makan pagi Calista-Max juga bisa didelete tanpa mengurangi jalan cerita kecuali mengurangi durasi film =p

Setelah sembilan ketidaksreganku sama film ini, boleh donk aku muji film ini? Pertama, walau rasanya ga realistis, seneng aja ternyata masih ada geng motor yg amat santun kayak The Tarix Jabrix, dan masih ada persahabatan seerat persahabatan di antara personel The Tarix Jabrix.

Kedua, seneng juga atas pemilihan pemeran utama untuk film ini. AKHIRNYA ada juga film yg memasang tokoh utamanya ga ‘perfect’ alias cantik/ganteng banget, kaya, etc etc. Bukannya The Changcuters ga ganteng loh (no offense!) but you get what i mean, rite?

Ketiga, seneng karena judul film ini merefleksikan jalan ceritanya. Ga seperti beberapa film yg judul sama isinya ga ada kesinambungannya. Misalnya, From Bandung with Love yg ceritanya lebih banyak seputar Dolphin atau BBB yg judul film sama jalan cerita ga ada hubungannya sama sekali. The Tarix Jabrix memang tentang geng motor bernama The Tarix Jabrix dan tentang segala macam kejadian/masalah yg menyangkut geng motor: awal pembentukkan, visi misi, aturan geng, usaha untuk eksis, sampai bentrok sama geng lain yg lumrah adanya.

Keempat, seneng karena beberapa adegan SUKSES membuatku tersenyum simpul atau tertawa kecil. Contohnya, hadirnya Candil Serieus atau saat Cacing menyanyi untuk Betty dkk:

Biar kata nenek sihir
Bagiku kau Britney Spears

Biar kata mirip buaya
Bagiku Luna Maya
[I Love You Bibeh – The Changcuters]

Atau saat Max mengejek menggunakan kata ‘anying’
Atau saat bokapnya Mulder komplain nyokapnya Mulder terlalu manjain Mulder: “Mama ngemanjain terus; mandi mandi suruh mandi. Papa tidak pernah disuruh mandi!”—sumpah! Kocak abies!!

Masih banyak adegan yg ketebak, klise, dan malesin dan kalimat-kalimat jayus dan garink yg bikin overall film ini ga cukup lucu untuk masuk kategori ‘komedi’. Mungkin susah kali ya bikin film komedi yg ga nyerempet-nyerempet?

Akhirnya, setelah nonton film ini, mungkin yg kita ingat adalah celetukan konyol tapi cukup kocak “Waiting is a boring thing. Bikin kesel, bikin sinting. Ga penting!”, “akhirnya dadang juga!”, “Yoi-yoy”, “Ya iyalah, masa ya iya dong”, “waslap”, atau “todong long”… =p

_
Rating: 3.5/5
Director: Iqbal Rais
Production: Starvision Plus, 2008
Cast: The Changcuters, Carissa Putri, Francine Roosenda Yachinta, Ario Bayu, Andrew
Genre: Comedy

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s