Posted in Movie, Review

[Film] Quickie Express

“Di mana ada kemaluan, di situ ada jalan…”
Ada ga sih tagline film yg lebih eksplisit dari ini??

Sialnya, aku bener-bener ga ngeh film tentang apa Quickie Express ini. (Ga seperti biasa) aku ga baca resensinya dulu. Well, baca sih, walau cuma setengah-setengah. Lucu, lucu, dan lucu adalah beberapa opini yg kubaca tentang film ini, so…i trusted them and was looking forward to watching this movie on…what else? Yap! Youtube.

Sial yg kedua, setelah kemakan sama opini lucu orang, aku juga tergiur akan nama besar Tora dan Lukman Sardi, serta tak ketinggalan Amink yg rasa-rasanya menjanjikan kematangan akting serta kekonyolan yg udah mendarah daging di tubuh mereka. Sial yg ketiga, ini kembali bukan tipe film yg kusuka. Aku bukan pecinta berat (atau tipe orang yg cuma seneng dan bakalan nonton) film romantis atau drama romantis atau komedi romantis juga sih—walau aku jelas ANTI sama yg namanya film horor! Cuma bikin aku ga bisa tidur nyenyak atau berani tidur sendirian tanpa penerangan selama beberapa hari aja! Apa untungnya?? Iihhh~~!!!—tapi ya…aku juga bukan penyuka film tentang seks juga sih.

Tenang. Ini bukan blue film kok.

Dan untungnya, aku udah cukup umur untuk menyaksikan film 18+ ini. Rada unik juga sih film ini mengangkat tema male escort, kan biasanya kemolekan tubuh kaum hawa yg diekspos. Jujur aja, setelah membaca buku Jakarta Undercover-nya Moammar Emka, film ini ga se‘menjijikkan’ itu kok. Buku Emka JAUH bisa bikin merinding punya dan bikin kita pengen berhenti baca. Well, film ini pada bagian tertentu juga bikin aku enek dan jijik juga sih ngeliatnya.

Dan sial yg keempat, kesukaanku pada akting Tora tampaknya tak membantu membuat film ini jadi salah satu film yg kusuka. Bahkan, boleh dibilang aktingnya Tora di sini bikin ilfil dan tak menutup kemungkinan bakal bikin aku stop nonton film komedi yg dibintanginya. Abis, ga ada bedanya sama dia yg di ekstravaganza atau dia dalam kepribadiannya sih. Entah itu emang tuntutan perannya seperti itu, entah memang dia dibebaskan membawa sosok ke-Tora-annya ke peran Jojo, yg jelas, aku ga suka aja ngeliat akting yg kelihatan nyeleneh dan ga serius itu.

Or should i not expect too much (or too high) from this movie?

Ok. Back to the plot. Jojo, pemuda 27 tahun, selalu sial dalam mencari penghasilan. Ada aja ulahnya yg membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Saat ia bekerja sebagai tukang tambal ban, ia ditawari seorang ‘pemburu’ pekerjaan yg bakal mengubah hidupnya dalam sekejap. Ia lalu dibawa ke kedai Quickie Express, dan pekerjaan untuknya adalah sebagai ‘pengantar pizza’ aka male escort aka gigolo. Pekerjaan yg membuatnya berteman dengan Marley (Amink) dan Piktor (Lukman Sardi), two unlikeliest human beings to be gigolos. Pekerjaan yg membuatnya mudah mendapatkan apa yg selama ini hanya mengisi mimpi-mimpinya. Pekerjaan yg membuatnya mampu memasuki tempat-tempat elite, yg kemudian menghantarkannya berkenalan dengan Lila (Sandra Dewi), calon dokter yg berpandangan amat konservatif: sebelum nikah, ga ada seks!

Pada hari ulang tahunnya, Lila mengajak Jojo makan malam di rumahnya sekaligus berkenalan dengan anggota keluarganya yg lain. Jamuan makan malam yg menghantarkan film ini untuk mencapai klimaksnya. Acara makan malam yg menyajikan akting serius (dan terbaik) Tora sepanjang film ini.

Menurutku, film ini menyajikan plot dan ending yg tak terduga. Fakta tentang Jan Pieter (Rudi Wowor) yg kepala preman cukup surprising. At least, keputusan untuk membuat Ira Maya Sopha menjadi tante girang yg paling banyak muncul menimbulkan pertanyaan di benakku. Juga tentang cerita yg makin fokus hanya ke Jojo meninggalkan Marley dan Piktor seakan figuran saja. Mungkin Jojo memang tokoh sentral di sini, tapi bukan berarti melupakan tokoh utama lainnya juga donk? Toh Marley dan Piktor bukan back-up dancersnya Jojo, kan?

Overall, untuk sebuah film bergenre drama-komedi, pemilihan pemain sudah amat baik. Penampilan Matteo yg kriting dan hitam legam cukup membuatku tak mengenali kalau ternyata Tio Pakusadewolah orangnya. Hanya saja, aku kurang sreg dengan Sandra Dewi sebagai Lila. Kok rasanya smiling always anytime anywhere gitu sih?

Dan, kembali berkat Jakarta Undercover-nya Moammar Emka, aku tahu kalau film ini realistis—mungkin ga termasuk keluarga aneh Jan Pieter—dan ending yg dipilih juga amatlah realistis. Dibalut humor segar-terkadang-menjijikkan-dan slapstik, Quickie Express benar-benar hiburan fresh yg bisa bikin pening di kepala terlupakan sejenak. Hiburan bagi mereka yg supposed to be strictly 18 years and above. Those below 18, don’t bother. This movie won’t suit your taste.

Atau justru pangsa anak muda yg datang ke bioskop adalah mereka yg sebenernya belum cukup umur untuk menyaksikan film bertema beginian?

_
Rating: 3/5
Director: Dimas Djayadiningrat
Production: Kalyana Shira Production, 2007
Cast: Tora Sudiro, Lukman Sardi, Amink, Ira Maya Sopha, Sandra Dewi, Rudi Wowor, Tio Pakusadewo
Genre: Komedi Dewasa

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s