Posted in Movie, Review

[Film] The Photograph

I’m…speechless.

Jujur, aku bener-bener ga tahu harus ngereview gimana. Karena sampe filmnya selesai diputar, aku masih ga ngeh ini film tuh sebenernya tentang apaan. Boleh dikata film ini film berat? Atau akunya aja yg terlalu sering menonton film remaja kita yg lebih banyak ga ada isinya. Yg terlalu mudah ditebak alur dan endingnya. Yg ga memerlukan otak kita untuk berpikir. Yg hanya menuntut kita untuk duduk manis di depan layar dan nonton tanpa banyak cincong. Yg (tak bisa dipungkiri) kadang berhasil membuat kita terhibur.

Yg pasti, film ini temponya lambat banget. Dan suram banget. Mungkin lebih lambat dan suram dari 9 Naga. Saking lambatnya film ini berjalan dan ketidakmengertianku akan inti ceritanya, aku pun hampir jatuh tertidur dan terpaksa menyelesaikan sisa film untuk hari berikutnya.

Jadiii…resensiku kali ini mungkin ga gitu dalem ngebahas apa yg kulihat dan kurasakan sebagai penonton film yg mengharapkan hiburan dan (kalau bisa) pengalaman berarti yg bisa diambil hikmahnya. Well, film ini berhasil membuatku menangis saat Sita mengambil foto Pak Johan.

The photograph, sejauh apa yg kutangkap dan kupahami, bercerita tentang Sita yg bekerja di karaoke di ‘kota’ demi menghidupi anaknya dan neneknya yg sakit-sakitan. Demi menghindari kejaran Suroso, germonya, Sita pindah dan tinggal di loteng kotor minim penerangan di mana Pak Johan tinggal menyendiri. Sosok Pak Johan sendiri amat misterius. Tua renta, tak banyak bicara, tapi punya janji/misi yg harus dipenuhi sebelum ia meninggal.

Ia kerap kali memandangi tiga buah foto yg telah usang. Yg satu bergambar rel kereta api yg selalu dikunjunginya setiap pagi, tempat di mana ia membakar dupa untuk istri dan anaknya yg meninggal tertabrak kereta api. Yg satu bergambar pelabuhan (kalau aku tak salah), tempat yg selalu ingin dikunjunginya. Foto terakhir tak tampak jelas di mataku, so i cannot say much about it.

Perkosaan yg dialami Sita membuatnya berhenti bekerja di nightclub, dan ketidakmampuannya membayar uang sewa ditebusnya dengan membersihkan rumah Pak Johan. Sejauh ini yg diketahui Sita hanyalah kesendirian Pak Johan dan segala macam pertanyaan Sita tentangnya yg tak kunjung terjawab. Kemudian ia mengetahui dan membantu Pak Johan mencari penerus untuk menjadi fotografer. Di sini film menjadi lebih hidup dan alur berjalan cepat, yg sayangnya jatuh ke dalam lubang adegan klise saat mencari pengganti.

Diadakannya audisi untuk pengganti Pak Johan mendatangkan peminat yg aneh-aneh. Akhirnya keluarlah satu demi satu syarat yg harus dipenuhi. Harus lelaki yg muda, yg rela tak dibayar kecuali diberi makan 3x sehari. Datanglah seorang banci yg mengaku ‘properti’-nya masih lengkap walaupun dalemnya perempuan, yg bersedia di‘periksa’. Adegan ini bisa dikatakan adegan paling menarik. Dia amat cantik, amat gemulai, dan amat mirip banci; yg dengan sukses membuatku pangling dan tak menduga kalau pemerannya adalah…….siapa hayo???

Kemudian datanglah seorang buta warna, yg diperankan dengan lucu oleh Indra Bekti. Nonton dia serasa ga nonton film, melainkan nonton Indra Bekti yg asli. Lalu datanglah mantan tentara yg ga terima dirinya akan menjadi orang sipil. Yg ternyata dikeluarkan dari tentara karena memiliki kelainan pada matanya, yg membuatnya menembak komandannya tanpa sengaja, dan (mungkin hal itu) yg membuat semua foto pernikahan yg diambilnya ga fokus.

Kelancangan Sita menyentuh dan membuka kotak berdebu yg telah bertahun-tahun disimpan Pak Johan di bawah meja dupa pada akhirnya satu demi satu menguak rahasia kelam yg disimpan Pak Johan. Rahasia serta misi yg coba diwujudkan oleh Sita. [Ending spoilers ahead] Sayangnya, sampai pada nafas penghabisannya, Pak Johan tak juga menemukan penerusnya. Anehnya, Pak Johan yg awalnya tak bersedia kameranya disentuh Sita dan tak mengizinkan Sita mengambil fotonya (hanya penerusnya yg boleh mengambil fotonya) akhirnya meminta Sita untuk mengambil fotonya. Apa itu berarti Sita lah penerus Pak Johan?

Satu aja kritikanku: kok Sita melayat pake baju merah sih? Mana boleh? Dan kok nebar abunya ga ‘hormat’ banget sih? Kayak nebar pasir aja… (Lho? Ini jadi dua kritikan ya? ;p)

_
Rating: 3/5
Director: Nan Achnas
Production: Sintesa Group, 2007
Cast: Lim Kay Tong, Shanty, Lukman Sardi
Genre: ??

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s