Posted in Movie, Review

[Film] From Bandung with Love

When the grass is (always) greener on the other side…
…this is what would happen.

Payah nih, genre yg disediain ga ada yg pas buat film ini. Karena … genre film ini bukanlah film romantis, bukan action, bukan thriller, bukan komedi, dan bukan pula film agamis. Genre film ini adalah… perselingkuhan.

Well well well. Tema film yg klasik, tapi ga asyik. Rada males juga sih nonton film tentang perselingkuhan. Memang sih, nonton film drama romantis atau komedi romantis juga udah biasa banget, dan kadang bisa malesin juga kalau filmnya ampe nangis-nangisan melulu. Dan keduanya juga kadang-kadang ga ada pesan moralnya juga, tapi at least (menurutku nih ya) film romantis masih bisa dinikmati karena film romantis kan bisa bikin yg nontonnya seneng—dan berkhayal ceritanya bisa menjadi nyata, dan kitalah orang yg beruntung itu, misalnya.

Sedangkan film tentang perselingkuhan, apa sih yg bisa dinikmati dari itu? Pesannya juga PASTI udah jelas: jangan selingkuh. Toh selingkuh itu hanya akan merugikan banyak pihak, excluding the doer sepertinya, dan tak akan berakhir bahagia. Ya atau ya?

Well, aku sih pada dasarnya ga bisa nge-judge perselingkuhan baik dari sisi pro maupun kontranya, berhubung aku ga punya pengalaman tentang itu ;p Tapiii…ya itu. Nonton film ginian paling-paling cuma bakal bikin kita keki aja. Ga lebih dan ga kurang. Apalagi bagi mereka yg pernah ngalamin berselingkuh atau diselingkuhin. Film ini mungkin bakalan bisa ngingetin mereka akan pengalaman mereka itu. Bagi yg pernah selingkuh, mungkin bakalan mesem-mesem ngeliatnya. Tapi bagi yg diselingkuhin… hmmm…no comment deh!

So, bagi yg pengen liat film yg bisa bikin kita keki (abies) sama tokoh utamanya—biasanya kan kita suka, prihatin, atau simpati banget tuh sama tokoh utamanya—atau film yg bisa bikin kita bener-bener emosi nontonnya, film ini kayaknya pas banget tuh buat menuhin kriteria di atas.

From Bandung with Love. Adalah sebuah acara radio 99ers yg khusus membahas masalah cinta. Penyiarnya, Vega (Marsha Timothy), selalu melakukan riset sebelum jadwal siaran. Untuk topik berikutnya, Vega memutuskan untuk mengangkat tema tentang kesetiaan, yg berkaitan erat dengan yg namanya perselingkuhan, berhubung teman dekatnya, Wulan (Andrea Dian), baru saja dikhianati pacarnya, Leo, dan salah satu penelepon di siaran sebelumnya menjadi orang ketiga dalam hubungan mantan pacarnya. Dan…ditilik dari judulnya, film ini sih (seharusnya) berkisah seputar kerjaan di radio, yg sayangnya hanya dilakoni Vega dalam dua scene saja. Awal dan akhir.

Mungkin Vega memang hanya kerja sambilan di radio, dan mungkin dia hanya punya satu acara, ya FBwL itu. Tapi, rasa-rasanya film ini akan lebih stick to the theme (or to the title?) if Vega worked only for the radio. Atau kalau ceritanya berputar di sekitar dunia keradioan. Karena, selain masih kuliah dan kerja di radio, Vega juga punya kerjaan lain, yakni sebagai copywriter di Dolphin (atau Dolvin atau Dolfin—ga tau gimana spellingnya ;p), yg notabene-nya ga ada hubungannya sama FBwL.

Untuk topiknya siaran 6 hari ke depannya itu, Vega memutuskan untuk ‘meneliti’ Ryan (Kieran Sidhu), creative director di Dolphin yg kabarnya adalah playboy sejati. So, FBwL seolah hanyalah tempelan, karena ga banyak pengaruhnya ke jalan ceritanya, selain kalau niat Vega mendekati Ryan ya demi kesuksesan siaran From Bandung with Love minggu berikutnya. Berdasarkan pengamatannya, Vega berpendapat kalau cowok lebih banyak yg ga setia daripada cewek; tukang selingkuh; gatel.

Entah Richard Kevin aktingnya kurang mantep, atau memang tuntutan skenario mengharuskan dia berakting sekaku itu; Dion itu sosok yg kaku, ga romantis, juga ga bisa gombal. Dia ga terbiasa membukakan pintu mobil saat Vega akan masuk atau keluar dari mobil, dia ga terbiasa menyuapi Vega jika Vega ingin mencicipi makanannya, dan Dion juga ga terbiasa mengeluarkan kata-kata manis yg menjurus ke arah gombal.

Contohnya:

“Gue udah ada yg nganter [pulang].”
“Tapi kalo yg nganter lo ke depan [pintu], gue rasa belum ada dong?”

GUBRAK ga sih?!?!

Dan semua hal itu bisa didapatkan Vega dari sosok Ryan. Dan seperti kata Vega, “APAPUN bisa terjadi dalam waktu 6 hari.” Ryan sepertinya menunjukkan ketertarikannya pada Vega, dan ia tahu bagaimana memperlakukan cewek sehingga si cewek merasa spesial. Mengutip lirik lagu Avril, Vega mungkin merasa kalau Dion “never made me feel like i was special—cuz i was special.”

Dan Vega, yg beranggapan cowok yg selingkuh itu brengsek, akhirnya jatuh ke perangkap yg dibuatnya sendiri. “Sekarang yg gue tahu, kesetiaan tidak bisa direncanakan, sama seperti cinta, sama seperti hidup,” adalah kesimpulan yg didapatnya setelah pada ahirnya dia sadar kalau dialah yg tidak setia; dia telah menjadi salah satu cewek, yg menurutnya persentasenya kecil, yg berselingkuh. “Kalau ga mau digituin sama orang, ya jangan gituin orang,” pesan yg diberikannya untuk penelepon di radio, diucapkannya dengan mudah tanpa tahu betapa sulit ia melakukan apa yg dianjurkannya sendiri.

Mungkin benar kata-kata “cowok emang banyak yg gatel, tapi banyak kok cewek yg rela ngegarukin dia.” Vega telah menjadi cewek itu. Well, mungkin bukan Ryan yg gatel, secara dia ga tahu kalau Vega udah punya pacar, tapi Vega lah yg gatel. Yg haus dan rakus akan apa yg ga bisa dikasih Dion untuknya. Yg ga suka kalau Dion mulai bawel dan curigaan. Yg tak juga sadar sebelum semuanya terlambat padahal mamanya telah menasihatinya: “Semua kecurigaan itu teh pasti ada alasannya. Bahkan untuk sesuatu yg belum terjadi.”

 

Well well well… Ryan memang charming, memiliki tatapan maut, dan sikap cool mesra yg bisa membuat cewek single maupun taken luluh dan meleleh di hadapannya. Tak bisa dipungkiri kalau that kind of ‘naughty’ boy is really tempting. Pada saat Vega memutuskan berterus terang kepada Ryan dan mengakhiri apa yg telah terjadi sebelum semuanya berjalan lebih jauh lagi, semuanya telah terlambat.

Vega mengaku tak bisa meninggalkan Dion karena dia masih cinta. Tapi cinta apa yg bisa membuat dia berpaling ke pria lain? Apa itu cinta kalau dia membohongi keduanya berulang kali? Dan apa itu cinta kalau akhirnya dia malah sibuk (dan bingung) harus memilih yg mana?

Cinta memang egois, dan cinta memang datangnya tak terduga. Tapi, kalau ia tertarik pada Ryan, bukankah lebih baik segera memutuskan hubungan dengan si kaku Dion sebelum dia menyakiti Dion, sebelum akhirnya ia tak mendapatkan keduanya? Tapi Dion terlanjur tahu.

“Gue ke rumah cewek gue… dan beneran ada badai… buat gue. […] Entah berapa kali gue udah diboongin. […] Mungkin cowok itu kasih apa yg ga bisa gue kasih.”

Tapii… apa sih yg ga bisa dikasih Dion yg bisa dikasih Ryan?? Sikap mesra, romantis, dan kata-kata pujian gombal? Well, semua cewek mungkin pengen punya pasangan yg mesra, romantis, dan berbibir gombal dan mudah mengucapkan pujian yg manis di telinga, yg bahkan bisa membuat pacar orang lain luluh hatinya. Atau yg memungkinkan dia punya talenta besar untuk bermulut manis pada orang lain yg akan menjadi selingkuhannya.

Apa Ryan bisa memberikan ketulusan dan keutuhan cintanya hanya untuk Vega? Dion mungkin kaku dan ga romantis, tapi dia itu perhatian dan sabar banget! Dia tuh….duh…super duper baiiiikkk…!! Ada ga sih cowok sebaik Dion dalam kehidupan nyata?? Film ya memang hanyalah film. Ada film yg diilhami dari kisah nyata, dan ada pula yg diambil dari khayalan semata. Tapi, kalau ada cowok sebaik Dion atau se‘perfect’ Jerry di Claudia/Jasmine, i would like to meet them.

frmbdgwluv-5 frmbdgwluv-6

Film ini berjalan cukup mulus, tapi masalah akting masih mengganjal. Selain akting Richard Kevin yg kaku, akting Kieran Sidhu juga cenderung datar. Masa saat dia PDKT, memutuskan mengakhiri kedekatan mereka, dan meminta kiss of goodbye, dia memasang tampang cool dan tatapan maut yg sama persis?

Akting Marsha Timothy juga tak secemerlang di Otomatis Romantis. Atau memang tantangannya hanyalah sebatas itu? Walaupun dia cukup oke sih berlaku judes di depan Dion dan bersikap flirty, salting, dan malu-malu kucing—sikap yg bikin enek buat seseorang yg udah punya pasangan—di hadapan Ryan. Dan akting Andrea Dian ga bisa dibilang mantap.

Cuma satu aja: two thumbs up buat ide cerita (Henry Adianto?) dan penulis skenario film ini (Titien Wattimena?) karena berhasil membuat cerita dan suasana yg bikin kita kesel banget sama Vega dan kebodohannya karena menyia-nyiakan lelaki sebaik Dion. Sayangnya, film ini menyediakan solusi yg terlampau mudah. Ketahuan selingkuh? Ya putus.

Akhirnya, aku jadi meraba-raba kira-kira pesan moralnya apa yg ingin disampaikan melalui film ini. Jadi orang jangan terlampau jujur kah? Kalau selingkuh jangan sampai ketahuan kah? Punya pacar harus yg romantis dan gombal kah? Kalau putus, sebulan kemudian lukanya telah sembuh kah? Apa dong???

“Dan demikianlah semuanya harus terjadi, karena memang harus terjadi. Hidup ini terus berlanjut. Kita semua pun pernah merasakan dikhianati dan mengkhianati, setia dan tak setia. Kita semua pernah merasakan cinta yg membawa kita ke tempat tertinggi. Kita lalu merasakan yg namanya terjatuh karena kesalahan kita sendiri. Kita tidak mati. Tapi lukanya membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu lagi.”

Well, nobody’s perfect. We make mistakes, and we learn from those mistakes. Hopefully, we are not to repeat the same stupid mistakes again in the future. Last opinion, secara film ini ga menyentuh banyak tentang FBwL selain menjadi tempelan agar judul filmnya (mungkin) jd lebih keren dan catchy, rasanya film ini lebih pas kalau berjudul Jika Cewek yang Selingkuh =( =p =)

_
Rating: 2.5/5
Director: Henry Adianto
Production: Lighthouse Film and Video Production, 2008
Cast: Marsha Timothy, Richard Kevin, Kieran Sidhu
Genre: ???

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s