Posted in Book, Review

[Buku] Sex n’ the City: Jakarta Undercover

Alamak!!

Rasanya cuma satu kata itu yg menggambarkan buku tulisan Moammar Emka yg pertama—udah terbit Jkt Undercover 3. Bukannya gimana, aku udah nonton film yg berjudul sama yg kukira diadaptasi dari novel ini—yg rasanya memang iya. Tapi filmnya ga heboh-heboh amat, selain bertaburan puluhan kata s dan f words serta adegan kekerasan.

Mereka bilang filmnya “beda jauh” sama novelnya, tapi aku ga mengira kalo filmnya ga ada sangkut pautnya sama novelnya sama sekali, kecuali soal kehidupan malam yg terselubung. Dan membaca resensi film Jakarta Undercover di sinema-indonesia.com, resensinya dibuka dengan membahas sedikit tentang novelnya. Novel yg membuat peresensi dan satu temannya bergantian melempar buku itu satu sama lain setelah baru membaca beberapa baris sambil berteriak, “Hii!!” seraya memberi penjelasan atas tindakan ‘anehnya’ itu—dia ga suka isu ‘esek-esek’.

Mengira ‘esek-esek’ itu ya tarian erotis atau apalah, kemarin waktu tak sengaja membuka situs multiply dan mendapati ada yg nge-post Jkt Undercover 1-3, aku pun tertarik membedah isi buku yg pertama.

Hasilnya??
“WAH.”

Dibuka dengan ‘fakta’ tentang pergaulan di Jakarta yg amat muram, erotis, serta vulgar, aku pun terhenyak tak percaya. Mungkin ga semua isi buku bisa dipercaya 100% kebenarannya walaupun si penulis meng-claim kalau “apa yang tersaji dalam buku ini, bukan sebuah cerita fiksi atau hasil nguping dari mulut ke mulut. Tapi lebih jauh dari itu, semua adalah hasil investigasi mendalam yang sifatnya partisipatif. Jadi, saya memang melibatkan diri secara langsung, bukan hasil wawancara sepihak dengan nara sumber, orang kedua, ketiga, dan seterusnya.” Sooo…mau ga mau aku cuma bisa melongo tak percaya mendapati kenyataan kalau kehidupan malam di Jakarta ternyata jauh lebih ‘heboh’ dari apa yg selama ini ku(kira ku)ketahui.

Dan setelah membaca buku yg semakin lama semakin membosankan karena modus operandi yg mirip-mirip dan tak seheboh cerita-cerita pembuka ini pun aku benar-benar berpikir kalau “guys are so hard to trust” (mengutip salah satu bait lagu Avril – Don’t Tell Me). Well,,beberapa cerita di buku ini memang membahas pula tentang tingkah liar makhluk berjenis kelamin perempuan dalam meraih kepuasan dan harta, tapi mayoritasnya toh para pria hidung belang.

Apa benar Jakarta segila, semesum, dan seliar itu?

Pesta telanjang, pesta narkoba, puluhan tempat karaoke, salon, sampai club yg menyediakan menu penari striptease—yg baru kuketahui kalau penarinya telanjang bulat setelah selama ini mengira mereka ‘hanya’ menari erotis dengan busana amat minim—sampai menu plus-plus, dobel atau triple (baca: transaksi cinta).

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Berapa banyak manusia di Jakarta—juga kota-kota lain—yg (dengan entengnya) menjajakan cinta, yg sudah ga perawan, dan yg suka bergonta-ganti pasangan b0b0k??? Dengan alasan sepele: si pria ingin ‘variasi’ dan si kupu-kupu malam ingin memenuhi kebutuhan hidup yg makin mencekik leher. Iiihhh,,,ngeri euy!!

Bikin tambah takut aja sama yg namanya lelaki!! Melihat itu sih, dari artis kenamaan, eksekutif muda, pribumi, tongyin, maupun bule, sampai yg udah berumur, semuanya sama saja. Gila seks dan harta!!

Ya ampunn….apa yg terjadi dengan kota kelahiranku yg tercinta???

Hidup memang makin sulit. Mencari pekerjaan di Jakarta apalagi. Kalaupun dapet kerjaan yg halal, beban pekerjaannya ga sebanding dengan gaji yg minim. Gaji rata-rata di Jakarta itu 2 juta/bulan. Bandingkan dengan jumlah yg sama, malahan sering lebih, yg didapat seorang penjaja cinta dalam satu hari, atau yg bisa dihamburkan seseorang demi mendapatkan kepuasan cinta dalam beberapa jam. Tapi…apakah manusia tidak bisa hidup layak tanpa menjual cinta? Apa orang yg hidupnya ‘lurus’ tidak akan pernah hidup enak dan mampu menikmati kenikmatan duniawi?

Apa udah ga ada tuh yg namanya adat ketimuran, cinta murni (sejati), kesetiaan, atau pun ajaran para orang tua yg menekankan kalau hubungan seks itu hanyalah boleh terjadi SETELAH ikatan resmi pernikahan?

Ataukah aku yg terlalu naif??

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dunia memang makin gila.
Dan JAKARTA makin gila—selain gila macet, polusi serta korupsinya.

_
Rating: 3/5
By Moammar Emka
Penerbit: GagasMedia
Genre: Memoar, Nonfiksi


P.S. Jadi penasaran, apa selama menggeluti dunia malam itu, Moammar Emka hanya menjadi pengamat ataukah juga ikut tergelincir di dalamnya? Pasalnya, walaupun beberapa kali ditegaskan bahwa ia hanya menjadi penonton, dengan sekian banyak kesempatan yg tersedia beserta suasana yg amat mendukung… bukan tidak mungkin kan?

Juga di beberapa cerita, ia digambarkan ‘terjebak’ dalam rayuan para gadis penjaja cinta itu, seperti pada saat “Caroline dengan pandainya, membimbing saya ke kamar tidur” atau saat ia terlibat servis ‘triple’ di dalam kamar. Penyelesaian tidak diberikan secara gamblang, tapi penjelasan juga tidak tertulis tentang bagaimana ia menolak tawaran menantang itu—kalau memang ia hanya menjadi pengamat, bukan penikmat…

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s