Posted in Book, Movie, Review

[Buku, Film] Ayat-ayat Cinta

Ketika Cinta dan Keinginan untuk Memiliki itu berbeda…

Duh,,bingung harus ngereview gimana karena aku sendiri masih ga gitu ngerti inti dan maksud ceritanya apa. Apa yg membuat film ini lain dari yg lain apalagi tentang paham poligami yg sepertinya—dan seharusnya—berbeda dari yg biasanya. Film ini kan katanya untuk membuka wawasan dan pembangun jiwa, tapi toh pada akhirnya Fahri (Fedi Nuril) menikahi Maria (Carissa Putri), dan Aisha (Rianti Cartwright) tetap terluka walaupun dialah yg meminta Fahri berpoligami karena Maria membutuhkannya, dan bayi di dalam kandungannya membutuhkan ayah.

 

Surprisingly, aku juga ga berkaca-kaca, apalagi menangis, di sepanjang film! Ckckck,,padahal kan biasanya sedikit sedih aja bisa bikin aku banjir… Ga ngerti juga kenapa bisa ga tersentuh sama sekali dengan adegan-adegan dalam film ini walaupun banyak adegan sendunya… Mungkin karena banyak penggunaan bahasa Arab, dan juga kualitas suara yg timbul tenggelam membuat apa yg ingin dikatakan film ini ga terdengar ke telingaku…

Satu hal yg pasti: HARUS BACA NOVELNYA NIH! Mungkin dengan begitu, bisa ngerti apa isi ceritanya.. tp kok mahal bgt ya novelnya, 45ribu!!

_
Rating: 3/5
Director: Hanung Bramantyo
Production: MD Pictures, 2008
Cast: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri
Genre: Drama agamis

~images imported from various sources and are property of their respective owners~


–Update: 8 Juni 2008–
Akhirnya kubaca juga novel Ayat-ayat Cinta setelah menonton filmnya terlebih dahulu. Jujur, karena sudah menonton filmnya lebih dahulu, penggambaran tokoh-tokoh di buku ini (di benakku) mau ga mau merujuk pada tokoh di filmnya. Kecuali, tentu saja, baik Maria, Noura, maupun Aisha versi tulisan bukanlah orang Indonesia, seperti yg diperankan/digambarkan di versi visualnya.

Selain itu, tokoh sentral Fahri juga tidak terdeskripsikan perawakan serta penampakannya, sehingga sulit sekali berimajinasi tokoh seperti apa Fahri dalam buku yg bisa membuat 4 orang gadis jatuh cinta padanya dalam waktu yg hampir bersamaan. Sekharismatik apakah Fahri? Dan sesuci apakah Fahri karena Fedi Nuril dikatakan tidak sesuci tokoh Fahri? Sekali lagi, karena keterbatasan deskripsi atas tokoh Fahri, mau ga mau aku membayangkan Fahri ya dengan Fedi Nuril di film.

Bagi aku yg non-Muslim, membaca novel ini cukup membuka wawasanku tentang Islam dan ajaran-ajarannya yg sebenarnya amat mulia dan amat detail mengatur mana yg boleh dan mana yg tidak boleh, seperti perlakuan terhadap isteri dan poligami. Jujur, untuk masalah poligami aku masih tidak mengerti mengapa seorang suami diperbolehkan mempunyai isteri lebih dari satu (walaupun harus disertai sekian syarat), dan masih tidak menyetujui adanya tindakan poligami (termasuk yg dilakukan Fahri) apapun maksud dan tujuannya.

Aku juga cukup kesulitan akan beberapa kosakata yg digunakan di dalam buku yg ditulis dalam bahasa Arab atau merujuk pada ayat tertentu sehingga aku kerap kali harus bolak balik ke halaman terakhir buku untuk mengetahui maknanya. Namun, tak urung saat kata tertentu diulang penggunaannya, aku cenderung lupa akan artinya…jadi pada akhirnya aku cuma bisa menerka-nerka artinya.

Secara keseluruhan, hampir semua yg diuraikan di dalam novel ini tergambarkan dengan baik di film, bahkan apa yg digambarkan di film terkadang lebih dramatis dan menegangkan daripada apa yg tertulis. Alur di buku ini bisa terbilang lambat dengan bahasa yg baku. Walaupun cukup tebal, cerita yg dituliskan tidak bertele-tele dan tidak sampai membuat jenuh. Hanya saja, seperti filmnya, aku tidak sampai berkaca-kaca membaca buku ini walaupun banyak digambarkan adegan sedih atau tokoh Fahri yg sering kali meneteskan air mata.

Dan benar saja, film Ayat-ayat Cinta memberikan porsi lebih ke tindakan poligami Fahri padahal di bukunya Fahri dan Maria bahkan tidak sempat tinggal serumah karena Maria kembali jatuh sakit selepas memberikan kesaksian di pengadilan untuk membela Fahri.

[Spoilers ahead] Sama seperti bukunya, aku merasa Fahri ‘terselamatkan’ dari tindakan poligami karena meninggalnya Maria. Entah apa yg terjadi kalau Maria digambarkan mempunyai kondisi kesehatan yg baik… Nyatanya, kondisi Maria memburuk dan buku ini diakhiri dengan masuknya Maria (juga Alicia) ke agama Islam…

_
Rating: 3/5
By Habiburrahman El Shirazi
Penerbit: Republika
Genre: Religion & Spirituality

Advertisements

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s