Posted in Movie, Review

[Film] Berbagi Suami

Mengangkat fenomena poligami yg marak terjadi di tanah air. Dan tokoh-tokoh di atas adalah 3 orang wanita yg menjadi “korban” poligami. Kalau Salma (Jajang C. Noer) di“madu”, maka Shanty dan Ming (Dominique) adalah “madu”-nya, yg kasarnya ialah “perusak rumah tangga orang”. Kalau Salma tidak tahu di“madu”—dan sebenarnya tidak rela di“madu” tapi tidak berbuat apa-apa selain pasrah menerima “takdir”—maka Shanty menjadi “madu” di tempat di mana kedua istri pertama menyetujui dan menganggapnya adik, sedangkan Ming dinikahi secara “siri” karena Koh Abun takut ketahuan istrinya, Ci Linda, yg pada akhirnya melabrak Ming di apartemennya—pemberian Koh Abun (Tio Pakusadewo).

Cerita pun berjalan sendiri-sendiri, yang berhubungan karena satu tokoh dan tokoh lain secara tidak sengaja bertemu di satu frame. Dimulai dari Salma, dokter yg memiliki 1 anak lelaki, Nadine (Winky Wiryawan), yg baru mengetahui kalau suaminya (L. Manik) telah menikahi perempuan lain, yg telah pula memberinya anak perempuan bernama Ica. Saat dengan pilu dan berlinangan air mata Salma bertanya, “Salma kurang apa, Bang?”, Si Abang dengan enteng menjawab, “Ga ada yg kurang dengan kamu, Salma. Abang cuma mau menghindari zinah”. Namun zinah itu seolah menjadi alasannya untuk kembali menikahi istri ketiga, dan keempat, yg semakin lama semakin muda dan segar.

Shanty adalah “gadis desa” yg dibawa ke kota karena “tipuan” Lukman Sardi yg mengaku banyak uang, namun ternyata cuma sopir produksi film. Akhirnya pun tujuannnya terungkap: untuk menjadikannya istri ketiga. Kedua istri pertama dengan enteng menyetujui, dan bahkan membujuknya untuk bersedia dinikahi si Abang gak tahu diri yg ga mengizinkan istri-istrinya untuk KB—padahal anaknya udah banyak banget!! Di film ini aja diceritakan hamil 4 kali!

Kalau Salma berusaha keras terlihat tegar di depan Nadine di saat Pak Haji membagi waktunya, masalah yg dihadapi Shanty adalah homoseksualitasnya dengan Bulenya. Malahan di cerita ketiga, Ming bersedia dinikahi karena uang. Kata-kata, “Emang kalo cinta harus dikawinin? Bukannya kalau masih bisa beli sate kambing, kenapa harus pelihara kambingnya?” pun menghilang tak berbekas setelah Koh Abun bersedia membelikannya apartemen dan mobil sendiri.

Akhirnya, sampai cerita berakhir pun, tidak sampai maksud yang ingin disampaikan sang pembuat film ini. Entah ingin membuka mata kita bahwa poligami itu merugikan atau malah menguntungkan. Karena, jujur saja, melihat film ini, yang tergambar adalah enaknya menjadi kaum pria yg dengan mudahnya menikahi beberapa orang wanita, dan meninggalkan mereka begitu saja.

Satu hal yg menonjol adalah para pemeran yg pas dengan karakternya masing2. Akting yang apik, tapi film ini menjadi cenderung membosankan. Yang cukup menyentuh ialah pesan eksplisit Pak Haji kepada Nadine menjelang kematiannya: “Dine, kalau nanti menikah, satu saja ya, Dine. Satu saja.. Pusing..” Selebihnya? Tidak benar-benar terlihat di mana posisi penulisnya. Memihak atau menentang poligami?

_
Rating: 3/5
Director: Nia DiNata
Cast: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique, L. Manik, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo

~images imported from various sources and are property of their respective owners~

Advertisements

Author:

I blog sometimes, gush ofttimes, snark all the time.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s